Direktur Kompetisi PT SOM Augie Bunyamin mengatakan, pihaknya mempersilakan seluruh pihak dan membuka kemungkinan untuk membicarakan hal tersebut, termasuk dengan pemerintah provinsi Sumsel.
"Kami sangat terbuka, silakan siapapun yang mau bergabung dengan Sriwijaya FC. Pemprov Sumsel [ambil alih] lebih bagus," ujar Augie usai peluncuruan aplikasi digital Sriwijaya FC di Palembang, Rabu (19/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setahu saya penggunaan APBD untuk membiayai klub profesional tidak bisa. itu berdasarkan peraturan sejak 2011. Kalau sekarang ambil alih rasanya tidak [bisa] kalau dengan APBD. Saya tidak bisa disebutkan dilarang, rasanya Undang-Undang PSSI itu belum dicabut," ujarnya.
Sriwijaya FC terdegradasi dari Liga 1 ke Liga 2. (Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi) |
"Kalau Gubernur [memanggil] boleh saja. Beliau tertinggi di Sumsel beliau perlu juga perlu tahu hal ini agar tidak kisruh. Kami apresiasi gubernur untuk mau mendengarkan dan memanggil manajemen, itu kemajuan yang baik, saya siap saja selama itu diperintahkan Dirut," kata dia.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, saat ini hanya ada dua pemegang saham Sriwijaya FC yakni Muddai Madang dan Pemprov Sumsel. Muddai Madang memiliki 88 persen sedangkan pemprov 12 persen.
Deru akan segera memanggil jajaran direksi PT SOM untuk menindaklanjuti rencana pelepasan saham tersebut. Ia berambisi untuk membeli saham mayoritas. Namun, Deru belum menyebutkan nominal APBD Sumsel yang akan disisihkan agar bisa mengelola klub yang sudah berdiri sejak 2007 ini.
Dia menambahkan, Pemprov akan memperjuangkan agar bisa mengelola Sriwijaya FC karena memiliki tanggung jawab moril untuk menjadikan Elang Andalas menjadi klub sepak bola yang membanggakan. (idz/bac)
Sriwijaya FC terdegradasi dari Liga 1 ke Liga 2. (Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)