Tugas Indra Sjafri terasa berat karena pelatih Timnas Indonesia senior Simon McMenemy hanya dihadapkan pada sejumlah pertandingan persahabatan. Termasuk FIFA match day yang ada pada bulan Maret, Juni, September, Oktober, dan November.
Dengan menduduki kursi pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri akan dihadapkan pada sejumlah agenda penting. Mulai dari Piala AFF U-22 2019 di Kamboja, Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, hingga SEA Games 2019 di Filipina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Piala AFF U-22 2019 nanti merupakan kali yang pertama dalam agenda AFF sebagai pengganti dari Piala AFF U-23. Turnamen itu bisa menjadi momentum untuk kebangkitan prestasi Timnas Indonesia.
Salah satu alasan Timnas Indonesia perlu memenangi Piala AFF U-22 adalah personel skuat yang sudah dekat dengan Indra Sjafri.
Eks skuat Timnas Indonesia U-19 bisa jadi modal bagi Indra Sjafri di Timnas Indonesia U-22. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Karena itu Indra Sjafri tidak akan mengalami proses yang sulit atau dari nol dalam membentuk skuat Timnas Indonesia U-22.
Nama-nama seperti Witan Sulaeman, Egy Maulana Vikri, Saddil Ramdani, Nurhidayat, Syahrian Abimanyu adalah pemain yang karakternya sudah sangat dikenal Indra Sjafri.
Terlebih lagi sebagian dari skuat Timnas Indonesia U-19 juga punya pengalaman tampil di Liga 1 menghadapi para pemain senior.
Dalam kualifikasi yang digelar pada 22-26 Maret 2019 itu Timnas Indonesia berada di Grup K bersama Vietnam, Thailand, dan Brunei Darussalam.
Perjuangan Timnas Indonesia di kualifikasi tidak akan mudah karena harus menghadapi dua tim bebuyutan dari Asia Tenggara, Vietnam dan Thailand.
Untuk bisa lolos langsung ke Piala Asia U-23 2020 yang digelar di Thailand, Skuat Garuda perlu menjadi juara grup. Atau minimal meraih runner up terbaik.
Tugas Indra Sjafri di timnas Indonesia lebih berat dibanding Simon McMenemy. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama) |
Mengingat di setiap pagelaran SEA Games pemerintah dan PSSI menargetkan medali emas, target bagi Indra Sjafri di tahun depan juga tidak akan berubah. Hal itu hanya untuk satu alasan, prestasi Timnas Indonesia.
Terlebih lagi Timnas Indonesia sudah terlalu lama tidak lagi menjadi juara di ajang SEA Games. Kali terakhir Indonesia meraih emas sepak bola di multievent Asia Tenggara itu pada 1991 setelah menang adu penalti 4-3 atas Thailand.
Karena itu, peran Simon McMenemy bisa lebih mudah dalam setiap laga uji coba selama tahun depan (mengingat Timnas Indonesia akan absen di Piala Asia 2019) jika Timnas Indonesia U-22 memiliki performa serta prestasi yang bagus di 2019.
Bukan tidak mungkin nasib Indra Sjafri dapat terhenti di tengah jalan seperti tahun 2017 lalu jika Timnas Indonesia U-22 mengalami periode yang buruk. Sebab itu, menjadi pelatih Timnas Indonesia U-22 memberikan beban yang lebih berat untuk Indra Sjafri dibanding Simon McMenemy sebagai pelatih tim senior. (sry/jun)
Eks skuat Timnas Indonesia U-19 bisa jadi modal bagi Indra Sjafri di Timnas Indonesia U-22. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Tugas Indra Sjafri di timnas Indonesia lebih berat dibanding Simon McMenemy. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)