Sekjen PSSI: Kerja Sama dengan Polisi Sudah Lama Dinanti

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 04/01/2019 21:15 WIB
Sekjen PSSI: Kerja Sama dengan Polisi Sudah Lama Dinanti Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria memenuhi pemanggilan kedua di Ombudsman RI. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria membeberkan hasil pertemuan kedua dengan Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola bentukan Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri), Jumat (4/1), dan mengatakan kerja sama dengan polisi sejak lama sudah dinantikan.

Tisha kembali dipanggil Satgas untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di Ombudsman RI pada Jumat (4/1). Ini adalah kali kedua dia memenuhi panggilan tersebut setelah sebelumnya telah dipanggil pada 28 Desember 2012.

"Hari ini pemeriksaannya sangat positif. Satgas menanyakan hal-hal mengenai mekanisme prosedur, seperti apa implementasi statuta PSSI, badan legislatif, eksekutif, yudisial, dan cara kerja ketiga badan tersebut. PSSI memiliki keterbatasan tidak bisa mengambil hal-hal lain di luar hukum sepak bola," kata Tisha.


"Kami sangat menghargai dan mengapresiasi inisiasi dari kerja sama sinergi ini yang memang sudah PSSI nantikan sejak lama untuk bisa berkolaborasi dengan kepolisian RI. Harapannya ini bukan hanya mengenai penanganan isu, tapi juga pencegahan dan edukasi," katanya menambahkan.

Johar Lin Eng diduga terlibat dalam praktik pengaturan skor di Liga 3 2018.Johar Lin Eng diduga terlibat dalam praktik pengaturan skor di Liga 3 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Tisha menjelaskan pemeriksaan kedua dengan Satgas berlangsung sekitar dua jam. Itu tersebut sudah termasuk jeda istirahat makan siang dan salat Jumat.

Durasi tersebut jauh lebih cepat dari panggilan pertama yang mencapai enam jam.

"Tadi sisanya 17 pertanyaan, tapi saya rasa tidak [sampai 17 pertanyaan] sih. Saya tidak hitung juga. Setelah ini tidak ada pemanggilan lagi untuk saya," ucap Tisha.

Mengenai kabar panggilan Satgas untuk Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi terkait pengaturan skor, Tisha hanya menjawab dengan singkat. "Tanya Pak Ketum saja," ucapnya.

Untuk memberantas pengaturan skor, PSSI juga berencana untuk membentuk Komite Ad Hoc sebagai usaha untuk menyikapi segala persoalan terkait pengaturan skor.

Komite Ad Hoc nantinya akan mendampingi pada struktur yang sudah ada di PSSI agar pengambilan keputusan akurat dengan data yang sesuai. Hingga saat ini, belum diketahui siapa saja yang akan masuk dalam Komite Ad Hoc.

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi belum memenuhi panggilan Satgas Anti Mafia Bola.Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi belum memenuhi panggilan Satgas Anti Mafia Bola. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Kami tidak boleh terburu-buru membuat suatu badan yang ada di PSSI. Karena Komite Ad Hoc itu tugasnya adalah membantu komite eksekutif untuk membuat telaah dan kajian, merekomendasikan untuk kemudian dikeluarkan menjadi regulasi dan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. PSSI memiliki referensi melalui FIFA dan interpol," ujar Tisha.

"Dahulu ketika 2014 FIFA membentuk satuan untuk match integrity. Belajar dari hal tersebut, PSSI di dalam waktu dekat mungkin setelah atau pada saat kongres berlangsung kami akan mengundang FIFA untuk bisa memberikan pencerahan," ujarnya melanjutkan.

Kongres PSSI rencananya akan berlangsung pada 20 Januari. Untuk tempat penyelenggaraannya, Tisha belum bisa memastikan.

"Posisinya saat ini gelar Kongres PSSI di Bali, tapi ada arahan juga untuk [menggelar Kongres PSSI] di Medan. Undangan sudah kami sebarkan di Bali, kita lihat seperti apa. Mungkin dalam waktu dua sampai tiga hari ini finalisasi," tutur dia. (map/jun)