Kritik Erdogan, Pebasket NBA Takut Keluar Amerika Serikat

CNN Indonesia | Jumat, 11/01/2019 00:30 WIB
Kritik Erdogan, Pebasket NBA Takut Keluar Amerika Serikat Pebasket NBA dari New York Knicks, Enes Kanter, mengaku takut keluar Amerika Serikat usai kritik Recep Tayyip Erdogan. (Mike Stobe/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemain NBA, Enes Kanter, takut pergi keluar wilayah Amerika Serikat lantaran mengaku menerima ratusan pesan ancaman kematian hampir setiap hari karena mengkritik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Ratusan ancaman tersebut diketahui usai pebasket asal Turki ini menyatakan kepada publik tidak ingin pergi ke London dengan New York Knicks pada Jumat (4/1). New York Knicks akan bertanding lawan Wshington Wizards di O2 Arena, London, pada 17 Januari 2019.

Untuk sementara, Kenter beranggapan satu-satunya tempat yang paling aman adalah Amerika Serikat.


"Saya sebetulnya ingin pergi ke London, tapi kondisi ini membuat saya sedih karena saya takut menyangkut nyawa saya dengan operasi Erdogan dalam sebuah negara asing. Operasi dia sangat terkenal dalam memburu pernyataan orang yang menentang pemerintahan," kata Kanter seperti yang dikutip dari situs CNN pada Kamis (10/1).

"Ada sekitar 100 orang [yang terdiri dari] jurnalis, pemimpin komunitas dan guru, yang bersuara menentang pemerintah [Turki]. Mereka diculik dan dikirim kembali ke Turki. Itulah kenapa saya takut pergi ke London," katanya.

Enes Kanter pernah mengkritik keras Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Enes Kanter pernah mengkritik keras Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: Harry How/Getty Images/AFP)
Sudah dua tahun Kanter tinggal di Amerika Serikat. Ia berterima kasih kepada seluruh pendukung New York Knicks dan para warga Amerika yang menunjukkan dukungannya selama ini.

"Karena sekarang saya merasa seperti orang Amerika Serikat. Saya berencana untuk menjadi warga negara Amerika pada 2021. Namun untuk sekarang, selain Amerika, saya merasa tidak benar-benar aman untuk bepergian ke mana pun di seluruh dunia," ucap dia.

Kritikan Kanter merujuk terhadap pernyataan dia pada 2016. Kala itu, dia dengan lantang menentang Edorgan yang menyerang ibu kota Turki, Ankara, dengan serangan bom.

Setahun kemudian, saat Kenter masih membela Oklahoma City Thunder, paspor dia ditahan di bandara Rumania saat mendarat di Bucharest. Alhasil, ia pun kembali lagi ke Amerika Serikat.

Dia meyakini kejadian yang dialami itu merupakan konsekuensi dari pandangan politik dan kritik terhadap Edorgan.

Lebih lanjut, Kanter -- yang menyebut Edorgan sebagai 'Hitler Abad Ini' -- mengatakan London memiliki banyak komunitas Turki.

"Ada banyak pendukung gila [Edorgan] di sana. Setelah saya membuat komentar tentang [batal pergi ke] London itu, saya menerima ratusan ancaman kematian hampir setiap hari. Saya sangat takut menghadapi mereka," ujar pebasket yang bermain di posisi center tersebut.

"Termasuk di media sosial. Saya sangat sedih melihat orang Turki mengancam saya seperti itu. Saya menceritakan hal ini kepada tim," ujarnya.

Pihak New York Knicks, ucapnya, tidak melarang pergi ke London. Dengan catatan, Kenter tidak boleh keluar kamar dan dikawal pihak keamanan selama 24 jam dalam sepekan.

"Dan yang bisa Anda lakukan hanya berlatih, balik ke kamar, bertanding, balik ke kamar. Dan lalu saya berbicara kepada rekan-rekan tim dan pihak keamanan, mereka tidak ingin ambil risiko. Tetap di Amerika, mendukung tim dari New York," tutur pemain 26 tahun itu.

Sementara itu mantan pemain NBA yang sekarang menjadi penasihat Edorgan, Hidayet Turkoglu, menyebut ketakutan Kenter tidak masuk akal. Ia bahkan menganggap hal itu sebagai 'kampanye kotor' Kanter untuk melawan pemerintah Turki.

Tukoglu mengklaim Kanter tidak pergi ke London karena masalah visa ketimbang faktor keamanan.

"Kami tahu dia tidak bisa pergi ke berbagai negara karena masalah visa sejak 2017. Dengan kata lain, Kenter tidak bisa ke Inggris bukan karena takut nyawanya diancam, tapi masalah paspor dan visa. Inilah kebenarannya sejak lama, dia sedang mencoba untuk menjadi pusat perhatian dengan pernyataan politik dan pembenaran yang irasional," tuturnya. (map/jun)