Digdaya dan adikuasa menjadi dua kata yang cukup menggambarkan bagaimana Man City bermain di Stadion Etihad pada Minggu (10/2) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika Chelsea berupaya menutup semua ruang dan merebut bola, Man City kemudian melakukan pressing cepat untuk mendapat bola kembali sehingga Chelsea sulit memainkan bola lebih lama dan tak mampu mengembangkan permainan.
Manchester City tampil dominan atas Chelsea. (REUTERS/Phil Noble) |
Kecuali penyelesaian brilian melalui sepakan jarak jauh Sergio Aguero yang menghasilkan gol kedua, lima gol Man City lainnya tidak lepas dari organisasi pertahanan keropos Chelsea.
Gol pembuka Raheem Sterling menyiratkan ketidaksiapan Chelsea menghadapi intensitas serangan Man City. Kegugupan dibobol dua kali dalam kurun waktu kurang dari 15 menit benar-benar terasa pada proses gol ketiga ketika Ross Barkley salah membuang bola ke depan gawang sendiri dan dihukum Aguero.
Gol Ilkay Guendogan juga menegaskan kembali mental Chelsea yang terpuruk begitu memengaruhi permainan mereka. Ruang kosong tidak disia-siakan Guendogan untuk membuat Kepa makin nelangsa, kebobolan empat gol dalam waktu 25 menit dan menyeka kepala dengan handuk setelah gol keempat.
Setelah Cesar Azpilicueta melakukan kesalahan individu dengan terjebak membekuk gerakan Sterling di kotak penalti, lagi-lagi ketidakmampuan lini belakang Chelsea menyesuaikan level permainan memudahkan Man City menuntaskan gol pamungkas.
Chelsea tentu tak hanya diam menjadi objek penderita dalam pertandingan ke-26 musim ini. Mereka berupaya mencetak gol melalui permainan direct football. Namun permainan solid Man City memaksa mereka gigit jari.
Hazard, Pedro Rodriguez, Azpilicueta, Marcos Alonso, serta N'Golo Kante dan Barkley lebih sering berada di luar garis perimeter kotak 16 mencari-cari kesempatan melepaskan tembakan jarak jauh atau mencuri-curi peluang mengumpan ke Gonzalo Higuain yang teralienasi.
Keberadaan Kante tidak bisa menolong Chelsea lantaran sang pemain tampaknya ditempatkan agak ke depan, selain itu menghadapi kolektivitas tim macam Man City, Kante juga tidak dapat diandalkan seorang diri sementara dua tandemnya di lini tengah juga tak bermain pada performa terbaik.
Kepa Arrizabalaga kebobolan enam kali di Stadion Etihad. (Action Images via Reuters/Carl Recine) |
Skor 6-0 menunjukkan Manchester Biru benar-benar di atas level permainan lawan dan seakan menjadi perwujudan kata-kata kedua manajer jelang pertandingan.
Sebelum laga, Maurizio Sarri mengatakan Man City adalah tim terbaik di Eropa. Sementara Guardiola mengatakan kemenangan dengan banyak gol menjadi target ganda demi menjaga trofi Liga Inggris.
Guardiola benar-benar menjelmakan kata-katanya di atas lapangan dan tentu bukan sekadar bualan bagi Liverpool yang sedang berupaya keras meraih gelar juara yang pertama setelah kali terakhir berjaya di liga domestik pada musim 1989/1990 (nva/har)
Manchester City tampil dominan atas Chelsea. (REUTERS/Phil Noble)
Kepa Arrizabalaga kebobolan enam kali di Stadion Etihad. (Action Images via Reuters/Carl Recine)