TESTIMONI

'Kamu Ora Ono' dan Gol Salto Widodo Cahyono Putro

Widodo Cahyono Putro, CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 06:58 WIB
Widodo Cahyono Putro salah satu penyerang terbaik Timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak pernah terlintas di benak saya menjadi pemain Timnas sepak bola Indonesia, meski sejak kecil sudah bermain bola dan bahkan dibon dan diambil di mana-mana (tim sekitar kampung).

Dari kecil saya memang sudah akrab dengan olahraga, termasuk sepak bola karena memang tinggal di lingkungan yang memiliki fasilitas olahraga lengkap. Tidak seperti anak-anak sekarang yang ikut Sekolah Sepak Bola (SSB), saya hanya bermain bola biasa saja.

Masa menjelang lulus SMEA YOS SUDARSO MAJENANG pada 1989, menjadi sebuah tonggak penting dalam hidup saya sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Dalam sebuah pertandingan tarkam (antar kampung) di Tasikmalaya, ada seorang pemain nasional Warta Kusuma melihat saya dan kemudian menawarkan nama saya ke klub Warna Agung.


Sebagai anak rumahan, sempat syok juga berada jauh dari rumah yang berada di Majenang. Tetapi saya melawan homesick itu dengan keinginan yang kuat untuk meraih kesuksesan. Saya pun memilih membunuh kesendirian dengan berada di mes dan berlatih dengan bola.

Di Warna Agung, saya bertemu seorang pelatih kawakan bernama dokter Endang Witarsa. Dokter Endang mengetahui saya dari Warta Kusuma. Waktu itu saya merasa bisa bersaing di tim karena memiliki kecepatan berlari yang kencang.

Widodo Cahyono Putro saat ini melatih Persita Tangerang.Widodo Cahyono Putro saat ini melatih Persita Tangerang. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Tidak ada satu patah kata yang keluar dari mulut dokter Endang, tapi saya mendapat bocoran dari asistennya. "Dokter bilang, kamu pasti jadi pemain Timnas," ujarnya ketika itu yang hanya saya aminkan tanpa ada rasa besar kepala.

Satu bulan setelah masuk Warna Agung saya masuk tim PON Bengkulu, karena semua pemain Bengkulu merupakan pemain Warna Agung yang waktu itu terdaftar sebagai klub yang berkandang di provinsi itu.

Setelah PON saya berhasil menembus Timnas Indonesia junior untuk Pra Olimpiade 1991. Pada tahun yg sama saya pun memiliki kesempatan masuk ke Timnas senior bersama pelatih Anatoly Polosin. Karier saya pun kemudian berkembang dan dikenal di lapangan hijau dengan kostum Petrokimia Putra dan Persija.

Ketenaran nama 'Widodo' pun sempat dijadikan parodi ke dunia musik ketika pada 1998 kelompok musik Project P menyelipkan lirik 'Widodo Kamu Ora Ono'. Saya tahu lagu itu dan tidak ambil pusing dengan itu. Mungkin lirik itu disesuaikan karena orang Jawa dikaitkan dengan akhiran O.

Tinta Emas di Timnas Indonesia

Momen paling indah dalam karier saya tidak lain tidak bukan tentu adalah tendangan salto di Piala Asia 1996. Tapi lima tahun sebelumnya saya juga menorehkan prestasi yang belum terulang sampai sekarang, emas SEA Games.

Widodo Cahyono Putro membawa Timnas Indonesia merebut emas SEA Games 1991.Widodo Cahyono Putro membawa Timnas Indonesia merebut emas SEA Games 1991. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Saya menjalani laga pertama di SEA Games 1991 dengan baik berkat dua gol ke gawang Malaysia yang saya cetak dari tengah, ya dekat dengan garis tengah lapangan. Tapi di final ada hal yang juga tidak bisa dilupakan, yakni ketika gagal menjadi eksekutor pada babak adu penalti.

Sebagai pemain muda saya merasa siap mendapat tugas menjadi algojo, tapi satu hal lain ternyata pengalaman itu memang penting. Saya belum pernah mengambil penalti di pertandingan sebesar itu dan gagal. Mungkin memang seperti itu jalannya.

Selepas menendang bola tentu ada perasaan menyesal. Tapi, setelah itu penalti Sudirman bisa masuk dan (kiper) Edy Harto bisa menahan penalti. Untung semua berakhir bagus. Kalau kalah mungkin ini akan jadi penyesalan sampai sekarang.

Selain emas SEA Games yang saya bawa pulang, berkat kemenangan hampir tiga dekade lalu itu, saya juga masih memiliki kenang-kenangan yang masih saya dapatkan, yaitu uang bonus Rp100 ribu yang datang setiap bulan sampai sekarang. Itu bonus dari sebuah perusahaan yayasan yang diterima pemain seumur hidup. Makanya kami ini harus hidup terus, hahaha. (har)
1 dari 2