Bowie Haryanto
Mengawali karier sebagai wartawan olahraga di harian Berita Kota. Menjadi asisten redaktur olahraga di portal inilah.com, dan redaktur olahraga di portal viva.co.id. Sekarang menjadi writer olahraga di CNN Indonesia.

PSSI dan Raja Dangdut

Bowie Haryanto, CNN Indonesia | Jumat, 01/03/2019 19:56 WIB
PSSI dan Raja Dangdut PSSI kembali mengeluarkan keputusan yang kontroversial. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- PSSI lagi-lagi kumat. Untuk kali kesekian PSSI menunjukkan inkonsistensi dengan mengeluarkan keputusan mencabut hukuman dua pentolan Aremania Yuli Sumpil dan Fanny serta suporter Persib Bandung Bobotoh.

Entah mengapa PSSI gemar menjadi sorotan karena alasan yang salah. Belum kelar masalah kasus dugaan pengaturan skor yang menimpa sejumlah mantan anggota Exco PSSI dan Plt Ketua Umum Joko Driyono menjadi tersangka perusakan garis polisi serta pencurian barang bukti, PSSI lagi-lagi mendapat sorotan.

PSSI secara mengejutkan mencabut hukuman dua pentolan Aremania Yuli Sumpil dan Fanny. Yuli, yang merupakan Dirigen Aremania, dan Fanny dihukum Komisi Disiplin larangan masuk stadion di seluruh Indonesia seumur hidup pada Oktober 2018. Hukuman itu diberikan usai Yuli dan Fanny dianggap melakukan provokasi saat Arema FC menjamu Persebaya di Stadion Kanjuruhan.


Dalam pernyataan resmi melalui situs organisasi, Kamis (28/2), PSSI juga mencabut hukuman untuk Bobotoh yang sebelumnya masih menyisakan hukuman larangan menyaksikan pertandingan kandang Persib hingga paruh musim Liga 1 2019. Hukuman itu didapat menyusul kematian suporter Persija Haringga Sirla di sekitar wilayah Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

PSSI Rasa Raja Dangdut
"Keputusan ini, diambil setelah dilalukan telaah panjang dan hati-hati. Dengan tujuan yang terukur, yaitu perbaikan kualitas penyelenggaraan pertandingan, dibarengi upaya edukasi suporter oleh Klub", kata Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, dalam pernyataan melalui situs resmi PSSI.

Saya enggan berspekulasi apakah keputusan PSSI ini ada muatan politisnya. Namun, bagaimana bisa PSSI mau mengedukasi suporter kalau sanksi saja mereka kebiri. Padahal pemberian sanksi bisa memberi efek jera kepada suporter.

Ironisnya, sanksi tersebut mereka sendiri yang membuatnya melalui Komdis. PSSI terkesan tidak percaya dengan Komdis, yang diharapkan sebagai ujung tombak dalam penegakan hukum di sepak bola Indonesia.

Inkonsistensi sudah menjadi salah satu penyakit kronis PSSI selama ini. Ada banyak contoh kasus bentuk inkonsistensi PSSI dalam hal hukuman. Mulai dari hukuman untuk Cristian Gonzales yang dihapus Nurdin Halid pada 2008, hukuman untuk Pieter Rumaropen, hingga kasus sepak bola gajah PSS Sleman vs PSIS Semarang.

PSSI kembali menunjukkan sikap inkonsistensi.PSSI kembali menunjukkan sikap inkonsistensi. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Padahal PSSI sempat mendapat pujian ketika memberikan hukuman tegas kepada Persib, Bobotoh, Yuli, dan Fanny. Ketika itu banyak pihak yang memberi dukungan kepada PSSI dan menganggap organisasi sepak bola tertinggi di Indonesia itu mulai menunjukkan ketegasan.

Kini menyusul pencabutan hukuman ini, PSSI terkesan bukan plin-plan, melainkan hanya ingin mengamankan posisi ketika mendapat tekanan usai kematian Haringga. PSSI memberi hukuman tegas kemudian mengubah keputusannya sendiri. Sebuah keputusan yang aneh.

PSSI juga utang penjelasan yang lebih detail kepada The Jakmania dan Bonek menyusul pencabutan hukuman tersebut.

Pencabutan hukuman ini juga bisa menjadi preseden buruk ke depannya, karena PSSI tidak akan punya landasan untuk memberi hukuman yang berat di masa depan. Kalaupun PSSI kembali mengeluarkan hukuman tegas pasti akan ada suara-suara, "Ah, paling nanti juga dicabut PSSI hukumannya". Terlebih PSSI hingga kini juga tidak memiliki dasar peraturan yang baku untuk mengatur suporter.

Mudah-mudahan PSSI bukan hanya ingin mencari simpati, terutama kepada Bobotoh dan Aremania, di saat citra mereka sedang buruk karena kasus pengaturan skor. Pasalnya, PSSI juga berencana memberi diskon sanksi denda kepada klub-klub Liga 1.

Semoga benar-benar ada 'tujuan yang terukur demi perbaikan kualitas pertandingan' yang diungkapkan Sekjen PSSI dalam pernyataan resminya.

Terkait judul tulisan di atas keputusan PSSI membuat saya teringat lagu Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama, yang berjudul Kegagalan Cinta. Lirik lagunya sangat tepat untuk menggambarkan sikap PSSI:

Kau yang mulai kau yang mengakhiri
Kau yang berjanji kau yang mengingkari
Kau yang mulai kau yang mengakhiri
Kau yang berjanji kau yang mengingkari (har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS