TESTIMONI

Lalu Zohri, Dari NTB Rebut Gelar Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 19:46 WIB
Lalu Zohri, Dari NTB Rebut Gelar Juara Dunia Lalu Muhammad Zohri mengaku awalnya terpaksa menggeluti cabang atletik. (Jewel SAMAD / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak pernah ada dalam mimpi saya untuk jadi atlet atletik. Jika dulu tidak ada Ibu Rosida, maka saya tidak akan kenal dunia atletik. Mungkin yang saya kenal hanya sepak bola.

Jika saya berkarier sebagai pemain sepak bola, maka mungkin saya tak akan bisa sampai di titik ini. Tidak bisa menikmati suasana enak di Jakarta.

Di Lombok, di Nusa Tenggara Barat, sepak bola tidak seperti di Pulau Jawa dan Jakarta. Dengan atletik, setelah selesai Ujian Nasional, jika saya ingin kuliah, saya bisa memilih di kampus mana saja.


Saya bisa masuk TNI, jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bila memilih sepak bola, mungkin situasi yang ada tidak enak seperti sekarang.

Lalu Zohri merebut medali perak di Asian Games 2019 pada nomor 4x100 meter.Lalu Zohri merebut medali perak di Asian Games 2019 pada nomor 4x100 meter. (REUTERS/Issei Kato)
Dulu saat saya kelas 1 SMP, saya pertama kali disuruh ikut lomba atletik. Kelas 2 SMP juga disuruh. Namun, saat itu saya masih mementingkan sepak bola.

Saat kelas 3 SMP, saya tidak bisa ikut sepak bola karena melewati batas umur. Saya diminta untuk ikut kejuaraan atletik di Kabupaten, akhirnya saya mencoba lagi.

Bu Rosida berkata, kalau saya ikut kejuaraan ini dan juara, besok nilai saya aman. Jadi, saya mau mencoba.

Lalu Zohri, Dari NTB ke Gelar Juara Dunia
Bu Rosida itu guru olahraga di SMP saya. Waktu main sepak bola, posisi saya adalah bek sayap

Seminggu sebelum perlombaan saya baru latihan. Saat pertandingan tiba, saya belum tahu apa-apa. Peserta lain pemanasan, saya diam saja. Dalam pikiran saya, pokoknya masuk lapangan langsung lari.

Soal teknik di startbox juga saya sama sekali tidak tahu, namun saya memang sempat diajari cara start. Karena saya diberitahu bahwa bila start terlalu cepat bisa didiskualifikasi, maka saya berpikir lebih baik start lambat saja. Waktu itu saya langsung juara, namun jarak dengan lawan tipis.

Banyak proses yang saya lalui, banyak kejuaraan yang saya ikuti, hingga akhirnya saya sampai di Jakarta. Saya ke Jakarta di akhir 2017 setelah memecahkan rekor di Kejuaraan Nasional di Papua.

Tak Mampu Beli Sepatu

Dalam perjalanan karier saya, saya masih memiliki kesenangan terhadap sepak bola. Namun saya pikir-pikir, saya bisa dapat apa dari sepak bola. Mungkin juara satu bisa dapat uang Rp10 juta, tetapi dibagi berapa orang, itu mungkin ada 15 orang di tim.

Lalu Zohri merupakan atlet masa depan Indonesia di cabang atletik.Lalu Zohri merupakan atlet masa depan Indonesia di cabang atletik. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Kalau atletik, waktu pertama juara di Kejurda, dapat bonus dari kabupaten Rp2 juta. Menurut saya saat itu 'Gila, gede sekali untuk anak kelas 3 SMP.' Saat itu saya sebenarnya ingin punya motor, tetapi uangnya kan tidak cukup, jadi saya kasih ke kakak untuk disimpan.

Tiba di Jakarta tak berarti semuanya berjalan lancar. Baru seminggu latihan di Jakarta, sepatu latihan sudah sobek. Saya tidak enak jika langsung minta ke PASI karena masih baru.

Saya lalu telepon kakak untuk minta transfer uang untuk beli sepatu. Saat itu saya beli sepatu seharga Rp500 ribu. Harga itu terbilang mahal untuk kakak saya. Namun saya suka menabung sedikit demi sedikit di dia, jadi saya minta sedikit dari uang itu untuk membeli sepatu.

Mengukir Nama di Finlandia

Pada Tes Event Asian Games saya bisa lari 10,22 detik, jadi saya masuk tim inti estafet senior. Setelah momen itu, saya juga tak mendapat target di Kejuaraan Dunia Junior.

Lalu Zohri sukses merebut medali emas juara dunia U-20 2018.Lalu Zohri sukses merebut medali emas juara dunia U-20 2018. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Saya berhasil lolos limit waktu Kejuaraan Dunia Junior saat tampil di Jepang. Tidak ada target pada saya. Pokoknya tanding saja, lari saja, cari pengalaman. Alhamdulillah, hasilnya tidak menyangka!

Di babak final, saat 80 meter pertama saya sudah fokus, sedangkan di 10 meter terakhir saya sempat menengok ke belakang. Saya sering menengok karena itu kebiasaan saya.

Saya tak menyangka bahwa saya ada di depan. Namun setelah selesai lomba dan nama saya ada di paling atas. Ya Allah saya tak percaya sama sekali!. Nangis saya langsung.

Lalu Zohri, Dari NTB ke Gelar Juara Dunia(CNN Indonesia/Fajrian)
Usai menang pada balapan kejuaraan dunia sebenarnya saya bukan kebingungan mencari bendera, saya takut diwawancara pakai bahasa Inggris. Saya mau kabur sebelum akhirnya dipanggil ofisial.

Malam harinya, saya tidak bisa tidur karena saking bangganya. HP saya berbunyi terus, ada telepon dari wartawan. Rasa bangga jadi juara dunia junior luar biasa.

Setelah itu, saya tampil di Asian Games dan meraih medali perak di nomor estafet. Bagi saya 2018 itu adalah tahun kebanggaan saya. Dari sana, saya bisa mengubah hidup saya.

Dalam karier saya, mungkin tak ada yang namanya titik terendah. Karena sejauh kita melangkah, dari langkah kecil pertama, semakin ke sini Alhamdulillah semakin berprestasi.

Saya sudah tanam dalam diri bahwa saya punya target bisa bertanding sama pelari top dunia, latihan mati-matian. Kekurangan yang ada semua harus diperbaiki. Dengan memperbaiki kekurangan mungkin bisa lebih baik lagi dan tanding di level internasional.

Saat ini catatan waktu terbaik saya 10,18 detik. Saya punya target untuk bisa lari di kisaran sembilan detik. 1-2 tahun lagi saya yakin saya bisa. (ptr/har)