Pelatih Lalu Zohri Raih Penghargaan Terbaik di Asia

CNN Indonesia | Minggu, 21/04/2019 02:59 WIB
Pelatih Lalu Zohri Raih Penghargaan Terbaik di Asia Pelatih Lalu Muhammad Zohri, Eni Nuraeni, raih penghargaan Pelatih Atletik Terbaik Asia 2019 dari AAA. (Jewel SAMAD / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sukses pelatih sprint nasional Lalu Muhammad Zohri, Eni Nuraeni Sumartoyo, memoles anak-anak didiknya itu meraih medali perak Asian Games 2018 diapresiasi oleh Asosiasi Atletik Asia (AAA).

Dalam acara Gala Dinner yang diselenggarakan pada sabtu (20/4) malam di Doha, Qatar, pelatih yang ikut membesarkan Zohri ini dianugerahi gelar sebagai Pelatih Terbaik Asia 2019.

Pada acara yang dihadiri presiden AAA Jen Dahlan dan Presiden Federasi Atletik Dunia (IAAF) Sebastian Coe tersebut, selain Eni, Sekretaris Umum PB PASI Tigor Tanjung Juga mendapat penghargaan sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Atletik paling berdedikasi.


"Saya berterima kasih kepada AAA atas apresiasinya kepada saya, dan penghargaan ini memicu saya untuk berbuat yang lebih baik lagi," kata Eni dilansir dari rilis PB PASI.

Sebelum meraih perak di Asian Games dan memecahkan Rekornas, tim Estafet 4 x 100m, yang terdiri dari Lalu Muhammad Zohri, Fadlin, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara menunjukkan peningkatan dalam prestasinya secara tim maupun individu.

Bahkan, berkat tangan dingin Eni, Zohri berhasil menjuarai kejuaran Dunia U-20 di Tempere, Finlandia. Ia mengalahkan sprinter Amerika Serikat dan Jamaika. Sprinter 19 tahun tersebut mencatatkan waktu mendekati rekor nasional senior dengan waktu 10.18 detik.

Pelatih Lalu Zohri, Eni Nuraeni Sumartoyo, mendapat penghargaan Pelatih Atletik Terbaik Asia 2019Pelatih Lalu Zohri, Eni Nuraeni Sumartoyo, mendapat penghargaan Pelatih Atletik Terbaik Asia 2019. (Foto: Dok. PB PASI)
Ditanya mengenai masa depan Zohri pasca Asian Games dan kejuaraan Malaysia Open bulan lalu, Eni meyakini Zohri bakal bisa berprestasi lebih baik lagi.

"Asal kelemahannya khususnya di start bisa diperbaiki, Zohri pasti bisa menembus jajaran atlet dengan waktu di bawah 10 detik," ujar Eni.


Selain teknik, dalam melatih, khususnya terhadap Lalu Zohri, Eni tidak memaksakan anak didiknya itu. Ia sengaja membuat Zohri melalui tahapan tahapan latihan sesuai usianya.

"Saya biarkan latihannya mengalir saja, tidak ditekan," tambah Eni.

Kemampuan Eni sebagai pelatih atletik memang bukan baru setahun dua tahun. Nenek tujuh cucu dari tiga anak ini sudah menjadi atlet sejak 1985 atau 34 tahun yang lalu. Eni merupakan mantan perenang nasional dan pernah memperkuat tim Indonesia di Asian Games 1962 dan Gabefo 1964.

Di Asian Games 1962, ia meraih medali perak dari nomor gaya ganti perorangan dan medali perunggu nomor estafet gaya bebas.

Pelatih Zohri Raih Penghargaan Terbaik di Asia
Eni yang kini 72 tahun terjun ke dunia atletik mengikuti jejak sang suami Sumartoyo Martodihardjo yang sudah lama berkecimpung di atletik. Ia kemudian mengambil kursus kepelatihan IAAF hingga level dua.

"Saya dulu melatih anak anak, di klub punya pak [Ketua Umum PB PASI, Bob] Hasan," ujar Eni.

Ia kemudian dipercaya menjadi pelatih atlet atlet sprint putra termasuk pemegang rekor nasional 100 M Suryo Agung Wibowo. Belakangan ia ditunjuk menangani semua sprinter baik putra maupun putri., termasuk Zohri dan lainnya.


Kini, Eni amat berharap anak didiknya terutama di tim estafet berhasil lolos ke Olimpiade 2019.

"Harapan saya, tim estafet kita [Indonesia] bisa lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo," tutur Eni. (bac/bac)