ANALISIS

Dua Sisi Jonatan Christie

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 06/05/2019 20:45 WIB
Dua Sisi Jonatan Christie Kemenangan Jonatan Christie di Selandia Baru diharapkan bisa lebih meningkatkan kepercayaan diri. (Dok. PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jonatan Christie berhasil menjadi juara di Selandia Baru Terbuka akhir pekan lalu. Gelar tersebut selayaknya bisa membuat Jonatan lebih percaya diri dan tidak lagi berdiri di dua sisi.

Jonatan sudah sejak lama diharapkan jadi pemain besar. Sejak ia masuk pelatnas pada 2013, Jonatan berjalan dengan berbagai harapan bahwa dirinya bisa menjelma jadi bintang besar.

Dari segi permainan, Jonatan terus menunjukkan perkembangan kualitas dari tahun ke tahun. Sejak 2016, Jonatan bahkan sudah diandalkan sebagai pemain tunggal di Piala Thomas


Jonatan juga berhasil merebut medali emas SEA Games 2017, pertanda bahwa ia juga layak dipercaya membawa nama negara di ajang multi event.

Jonatan juga mampu mengalahkan sejumlah pemain papan atas seperti Lin Dan, Shi Yuqi, Chou Tien Chen, hingga Son Wan Ho. Namun belum ada gelar BWF Tour yang diraih oleh Jonatan.

Jonatan Christie sudah diharapkan jadi pemain papan atas sejak lama.Jonatan Christie sudah diharapkan jadi pemain papan atas sejak lama. (Dok. PBSI)
Di tahun 2017, Jonatan sempat berhasil masuk final di Thailand dan Korea. Namun di Thailand ia kalah dari Sai Praneeth dan tumbang di hadapan Anthony Ginting di Korea.

Masuk ke tahun 2018, penampilan Jonatan terbilang jeblok di paruh awal sampai akhirnya ia bisa jadi juara Asian Games 2018. Sepanjang gelaran Asian Games, Jonatan mampu menunjukkan level permainan terbaik.

Shi Yuqi, Khosit Phetpradab, Wong Wing Ki, Kenta Nishimoto, dan Chou Tien Chen jadi lawan-lawan yang ditaklukkan Jonatan untuk mendapat medali emas.

Jika mengacu pada penampilan Jonatan sebelumnya, keberhasilan di Asian Games jelas merupakan kejutan luar biasa.

Masih Limbung Usai Asian Games

Setelah jadi juara Asian Games, sempat ada harapan Jonatan bisa lebih konsisten dan stabil. Tetapi kenyataan yang ada, Jonatan masih sering tampil angin-anginan.

Jonatan bisa dengan gemilang mengalahkan Shi Yuqi dan Kidambi Srikanth beruntun, namun kemudian kalah dari Anton Antonsen di Indonesia Masters.

Jonatan Christie masih sering tampil inkonsisten.Jonatan Christie masih sering tampil inkonsisten. (Dok. Humas PBSI)
Jonatan bisa tiba-tiba kalah dari Subhankar Dey di Swiss, namun kemudian mampu memetik kemenangan beruntun atas Kento Momota dan Viktor Axelsen di Malaysia.

Melihat performa terakhir Jonatan di final lawan Ng Ka Long Angus, Jonatan sukses menunjukkan level permainan terbaik. Ia berhasil melupakan empat kekalahan beruntun dari Ng Ka Long di duel sebelumnya.

Jonatan akhirnya mampu melepas dahaga dan meraih gelar pertama di BWF Tour. Selepas sukses di Selandia Baru, harapan agar Jonatan bisa lebih berprestasi tentu bakal lebih mencuat.

Melihat pemain-pemain yang ada di jajaran 10 besar, tidak ada nama yang benar-benar superior atas Jonatan. Hal ini yang harus dijadikan modal untuk percaya diri.

Dua Sisi Jonatan Christie
Namun bukan hanya percaya diri menghadapi pemain papan atas, Jonatan juga perlu mawas diri ketika berduel lawan pemain-pemain yang ada di bawahnya.

Jonatan Christie saat ini masih berdiri di dua sisi.Ada sisi ketika dirinya bisa terlihat hebat dan menumbangkan pemain-pemain andalan, namun ada pula sisi ketika Jonatan seperti lupa cara mengeluarkan level terbaik di lapangan.

Setahun jelang Olimpiade, Jonatan perlu lebih banyak mendapat gelar agar bisa jadi salah satu favorit pemenang di Olimpiade mendatang. Dengan lebih banyak gelar di tangan selama setahun ke depan, kemenangan Jonatan di Olimpiade sebagai sebuah hal yang lebih memungkinkan, bukan lagi sebuah kejutan. (nva)