Mkhitaryan Terancam Absen di Final Liga Europa Karena Konflik
CNN Indonesia
Sabtu, 11 Mei 2019 04:47 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Bintang Arsenal, Henrikh Mkhitaryan terancam tak bisa tampil di final Liga Europa lantaran konflik yang terjadi antara Armenia, tempat Mkhitaryan berasal, dengan Azerbaijan yang jadi tuan rumah laga final tersebut.
Armenia dan Azerbaijan tak punya hubungan diplomatik sejak perang Nagorno-Karabakh yang berakhir di tahun 1994. Mkhitaryan juga tak ikut dalam rombongan Arsenal ke Qarabag, klub asal Azerbaijan pada penyisihan Liga Europa Oktober lalu.
Saat itu Mkhitaryan diwajibkan untuk mengajukan permohonan visa pada pemerintah Azerbaijan untuk mendapat izin masuk ke negara tersebut namun Arsenal tidak mengikuti prosedur tersebut.
Ketika itu Arsenal bersikeras menyatakan bahwa tidak membawa Mkhitaryan adalah keputusan mereka.
"Dia tidak bisa pergi ke sini. Tugas saya selebihnya adalah tentang sepak bola."
"Saya menghormati setiap orang, saya menghormati tiap kebudayaan dan tiap negara. Namun saya tidak tahu situasi yang ada di tiap negara," ujar Emery memberikan komentar saat itu, dikutip dari Daily Mail.
Sebelumnya, pada 2015 saat Mkhitaryan masih berkostum Borussia Dortmund, ia juga tak ikut serta saat menghadapi klub Azerbaijan bernama Gabala. Saat itu, UEFA sendiri sempat menjamin Mkhitaryan mendapatkan visa untuk masuk Azerbaijan.
Arsenal lolos ke babak final Liga Europa setelah menang dengan agregat 7-3 atas Valencia. Arsenal bakal menghadapi Chelsea yang lolos ke final setelah menang adu penalti lawan Eintracht Frankfurt. (ptr/bac)
Armenia dan Azerbaijan tak punya hubungan diplomatik sejak perang Nagorno-Karabakh yang berakhir di tahun 1994. Mkhitaryan juga tak ikut dalam rombongan Arsenal ke Qarabag, klub asal Azerbaijan pada penyisihan Liga Europa Oktober lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Henrikh Mkhitaryan berasal dari Armenia yang tak punya hubungan diplomatik dengan Azerbaijan. (REUTERS/Eddie Keogh) |
Henrikh Mkhitaryan berasal dari Armenia yang tak punya hubungan diplomatik dengan Azerbaijan. (REUTERS/Eddie Keogh)