Analisis

Sukses Klub Inggris 'Jajah' Eropa, Tak Semata Fulus

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Jumat, 10/05/2019 16:06 WIB
Sukses Klub Inggris 'Jajah' Eropa, Tak Semata Fulus Tottenham Hotspur dan Liverpool bertemu di final Liga Champions. (Action Images via Reuters/Paul Childs)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kesebelasan Inggris tidak main-main membuat kejutan musim ini. Empat klub menjadi finalis dalam dua turnamen Eropa. Tottenham Hotspur, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal menyudahi dominasi klub-klub Spanyol.

Dalam lima musim terakhir, perwakilan La Liga selalu menyapu bersih gelar Liga Champions berkat kedigdayaan Real Madrid yang menempati podium sebanyak empat kali serta Barcelona yang mengambil kesempatan pada tahun 2015.

Dalam kurun waktu yang sama, klub Spanyol hanya sekali gagal mengangkat trofi Liga Europa. Selain Manchester United yang memboyong gelar juara 2016/2017, kejuaraan antarklub kelas kedua di Eropa itu menjadi milik Sevilla dan Atletico Madrid.


Musim ini dipastikan cerita juara dalam ajang antarklub regional itu tak lagi berasal dari Spanyol. Kecuali lokasi final Liga Champions yang berada di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, klub-klub La Liga harus istirahat memberi tempat bagi wakil Liga Primer Inggris.

Tiga Kunci Sukses Klub Inggris di EropaLiverpool membuat Barcelona bertekuk lutut. (REUTERS/Phil Noble)
Kemampuan Inggris menguasai Eropa musim ini bukan sebuah fenomena baru karena beberapa musim lalu klub-klub yang masuk kategori 'Big Four' pada masa itu (Man United, Arsenal, Liverpool, Chelsea) sempat menguasai perburuan Liga Champions, kendati hanya sekali mewujudkan 'All English Final' pada musim 2007-2008 ketika Man United dan Chelsea bersua di partai puncak.

Kompetisi Liga Inggris yang ajek membawa dampak positif bagi klub yang berhasil mendapat dana investasi dari beragam pihak. Hak siar, sponsor, hingga tiket menjadi pondasi penting klub Inggris.

Empat klub finalis yang akan berlaga pada akhir Mei dan awal Juni mendatang merupakan penghuni 11 besar dalam daftar pemilik pendapatan terbanyak menurut penyedia bidang jasa akuntan profesional, Deloitte, pada 2018/2019.

Tiga Kunci Sukses Klub Inggris di Eropa
Dengan kemampuan finansial yang lebih dari sekadar cukup, klub-klub Inggris memiliki peluang besar untuk mendatangkan pemain-pemain tenar yang memiliki harga selangit.

Kecuali The Lilywhites yang tidak beraktivitas dalam bursa transfer, The Reds, The Blues dan The Gunners memiliki kecenderungan yang cukup seragam dalam mendatangkan pemain-pemain top musim ini, yakni mereka yang bermain di posisi bertahan.

Juergen Klopp mendatangkan Alisson Becker dan Fabinho, sementara Maurizio Sarri memilih Kepa Arrizabalaga dan Jorginho, serta Unai Emery mendaratkan Lucas Torreira.

Tiga Kunci Sukses Klub Inggris di EropaUnai Emery menjalani musim perdana di Arsenal. (REUTERS/Eddie Keogh)
Tidak sekadar memenuhi hasrat belanja pemain yang tinggi, masing-masing manajer benar-benar menggunakan pemain-pemain tersebut dalam skuat utama tim musim ini. Dapat diartikan pula keinginan mendatangkan pemain memang berdasarkan kebutuhan tim.

Kedatangan pemain-pemain dengan tipikal bertahan seolah menjadi keping terakhir dalam proses pembentukan tim yang menyempurnakan starter sekaligus menjaga kedalaman skuat.

Selain kehadiran pemain, keberadaan juru latih-juru latih top juga turut mengerek performa klub Inggris. Pep Guardiola, Klopp, Sarri, Mauricio Pochettino, Emery, dan Jose Mourinho -- yang kemudian diputus tengah jalan -- membuat kompetisi cukup ketat. Belum lagi keberadaan pelatih-pelatih di tim medioker yang mampu menghadirkan kejutan seperti Nuno Espirito Santo bersama Wolverhampton Wanderers, dan Marco Silva di Everton.

Tiga Kunci Sukses Klub Inggris di EropaChelsea menembus partai final Liga Europa melalui adu penalti. (REUTERS/David Klein)
Kesinambungan persaingan yang kompetitif setidaknya membuat para pemain Inggris terbiasa dengan kondisi yang 'mencekam' dalam persaingan dalam turnamen di level Eropa. Selain itu manajer-manajer elite tampaknya juga memberi pemahaman taktik serta ide yang berbeda kepada para pemain.

Dari faktor pelatih tersebut, muncul pula produk berupa keberadaan pemain-pemain lokal berusia muda yang dimiliki empat finalis Eropa musim ini seperti Joe Gomez, Trent Alexander-Arnold, Ainsley Maitland-Niles, Ruben Loftus-Cheek, dan Callum Hudson-Odoi.

Cara memadukan kekuatan uang, keterampilan pemain, dan strategi pelatih pada akhirnya menyatu dalam bentuk permainan di atas lapangan yang membuat Tottenham, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal dapat mengalahkan kesebelasan dengan nama besar dan gelimang dana seperti Man United, Man City, Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, atau Paris Saint-Germain.

Empat klub dari satu negara. Sejarah anyar pun sudah tercipta pada tahun ini dalam kompetisi bergengsi di Eropa sebelum laga final usai dan menghasilkan juara baru. (har)