Agar tak penasaran, saya akan menceritakan dari mana ide penampilan eksentrik saya berasal sehingga tidak banyak lagi yang melemparkan pertanyaan yang sama.
Masih ada yang ingat John Banting (almarhum Hamidi Ronny M Toha)? Kalau ada yang kenal, berarti kalian besar di tahun 1990-an. Ya, dia adalah model iklan salah satu detergen pencuci pakaian yang sangat populer di zaman itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:4 Kontroversi di MotoGP Catalunya 2019 |
Nah, soal sepatu beda warna, juga punya cerita sendiri. Inspirasi ini datang saya membela Timnas Indonesia melawan Vietnam.
Saya mengikuti memakai sepatu beda warna alias belang dari pemain Vietnam yang menjadi lawan di lapangan.
Saya tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak. Mungkin pemain tersebut anggota tentara karena kebanyakan pemain Vietnam saat itu diambil dari militer. Barangkali dia lupa beli sepatu bola dan pinjam sana-sini.
![]() |
Sebutan nyentrik pun terus melekat. Banyak suporter yang suka, tapi juga benci. Bahkan, ada pula yang mencaci saya monyet dan banyak gaya. Namun, saya tak peduli. Masa bodo!
Saya tak mau ambil pusing omongan orang karena hidup tidak bergantung pada mereka. Prinsip saya, kesuksesan hanya bisa diraih dengan kerja keras, bukan belas kasih orang lain.
Hal ini yang membawa saya sukses bermain di klub-klub luar negeri maupun Timnas Indonesia. Namun, jalan menuju kesuksesan membutuhkan perjuangan panjang dan takdir Tuhan.
Saya terlahir dari keluarga pencinta sepak bola. Ayah pernah jadi pesepakbola diwarisi ke abang-abang saya yang sempat bermain di PS Ambon.
Rochi Putiray hingga kini masih menggunakan sepatu belang. (CNN Indonesia/Jun Mahares) |
Awalnya, saya lebih dulu lolos seleksi Diklat Ragunan Jakarta karena prestasi di basket. Namun, takdir berkata lain. Pada saat yang bersamaan saya masuk skuat sepak bola Maluku di Haornas (Hari Olahraga Nasional) Jakarta.
Rencananya saya akan bergabung Diklat Ragunan setelah Haornas di Jakarta rampung. "Sambil menyelam bisa minum air," kata saya dalam hati.
Namun, takdir berkata lain. Lima gol di Haornas membawa saya terpilih masuk daftar seleksi skuat PSSI Garuda II (U-16). Saya bersama Abdul Nuru Lestaluhu mewakili Maluku yang berhasil lolos seleksi.
Bertemu dengan para pemain terbaik Indonesia membuat saya tersadar bahwa sepak bola adalah jalan hidup saya. Kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.
Kerja keras saya mulai membuahkan hasil. Keinginan untuk bermain di Arseto terwujud pada 1987. Sambil menimba ilmu dari pemain berpengalaman di sana, saya juga rutin bolak-balik masuk timnas.
Emas SEA Games 1991
Saya makin kerasan di Arseto dan masuk seleksi Timnas Indonesia yang diproyeksikan tampil di SEA Games 1991. Di sini saya benar-benar dituntut kerja lebih keras karena harus bersaing dengan nama-nama besar.
Atmosfer Timnas Indonesia di pemusatan latihan sangat cair, bersahabat, dan didukung dengan manajemen yang bagus. Para pemain senior juga tak sungkan membimbing yang muda.
Tapi, jangan sekali-kali terlena, kawan. Suasana bersahabat bisa berubah seketika di lapangan. Mereka tak segan 'menghajar' pemain yang menjadi lawan di sesi latihan. Benar-benar keras, bung!
Saya ingat momen ketika Mustaqiem terpaksa dicoret dari skuat karena cedera pergelangan kaki saat latihan. Ini menjadi pelajaran penting bagi saya. Kalau mau raih mimpi ya harus berjuang mati-matian karena kamu harus bersaing dengan pemain-pemain hebat.
Saya beruntung bisa 'melahap' segala latihan berat dari Polosin. Meski termasuk pemain muda, saya tak pernah mau mengalah saat menghadapi pemain senior.
Puji Tuhan akhirnya saya ikut rombongan ke SEA Games 1991. Di sinilah sejarah emas itu berawal.
Tempaan fisik ala Polosin membuat kami tampil seperti singa lapar. Bisa dibilang, semua pemain mau berlari untuk memburu bola. Kami harus jujur bahwa saat itu bermain sangat mengandalkan kekuatan fisik yang jadi bagian dari taktik.
Di tengah persaingan yang ketat, saya berhasil mendapat kepercayaan di skuat utama. Padahal ada Bambang Nurdiansyah, Widodo C Putro, dan Peri Sandra di lini depan.
Gol kedua berhasil saya catat ke gawang Filipina. Indonesia lebih dulu tertinggal dari lawan sebelum Ferryl Raymond Hattu samakan skor lewat penalti. Beruntung saya bisa bikin gol di menit ke-87 untuk memastikan kemenangan.
Skuat Garuda pun lolos fase grup tanpa terkalahkan. Kami berhasil melaju ke semifinal usai mengalahkan Malaysia (2-0), Vietnam (1-0), dan Filipina (2-1).
Rochi Putiray berkisah tentang kariernya saat masih menjadi pemain Timnas Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Jun Mahares) |
Di babak final, kami bermain habis-habisan. Fisik kami sama-sama terkuras dan harus puas bermain seri 0-0 di waktu normal. Timnas Indonesia pun akhirnya berhasil menjadi juara usai adu penalti 4-3.
Emas yang kami raih di SEA Games 1991 akan selalu jadi kenangan manis dalam hidup saya. Saya yakin hal yang sama juga dirasakan rekan setim saya pada saat itu.
Yang bikin sedih, ternyata itu emas terakhir yang bisa diraih Timnas Indonesia di SEA Games. Saya bingung mau bilang apa lagi soal ini. Yang pasti, PSSI tetap jadi bagian yang pantas disalahkan. Tidak bisa tidak.
Baca testimoni Rochi Putiray di halaman selanjutnya tentang pengalaman berkesan taklukkan AC Milan.


Rochi Putiray hingga kini masih menggunakan sepatu belang. (CNN Indonesia/Jun Mahares)
Rochi Putiray berkisah tentang kariernya saat masih menjadi pemain Timnas Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Jun Mahares)