Pengamat: Klub Liga 1 Jangan Latah Ikuti IPO Bali United

CNN Indonesia | Rabu, 19/06/2019 01:10 WIB
Pengamat: Klub Liga 1 Jangan Latah Ikuti IPO Bali United Bali United telah resmi tercatat di bursa saham. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni, mengingatkan klub-klub Liga 1 agar tidak latah mengikuti jejak PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) atau Bali United dengan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Hal ini dikarenakan untuk bisa jadi IPO (Initial Public Offering) atau go public butuh rencana bisnis yang jelas. Beberapa persyaratan juga wajib harus dipenuhi mulai dari legalitas perusahaan, struktur manajemen yang rapih, dan rencana bisnis yang jelas.

"Go public adalah jalan keluar atas masalah kebutuhan finansial. Klub yang punya kesulitan dengan struktur finansial bisa ikuti langkah Bali United tapi benahi dulu persoalan dasar, yakni legalitas, struktur manajemen yang jelas, serta SDM [Sumber Daya Manusia]. Asal Jangan latah," ujarnya melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com.


Kusnaeni pun mengapresiasi langkah Bali United yang disebutnya positif untuk industri sepak bola di Indonesia. Bali United sendiri hanya butuh waktu singkat yaitu empat tahun sejak 2015 hingga akhirnya bisa go public seperti saat ini.

Duet pengusaha, Pieter Tanuri dan Yabes Tanuri, mengambil alih Persisam Putra Samarinda dan mengganti nama klub jadi Persisam Bali United. Empat tahun berselang, tim berjuluk Serdadu Tridatu makin eksis di sepak bola nasional dan diminati banyak sponsor.

Pengamat: Klub Liga 1 Jangan Latah Ikuti IPO Bali UnitedBali United jadi klub pertama di ASEAN yang masuk di lantai bursa. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
"Saya termasuk yang mengapresiasi langkah positif yang diambil Bali United untuk industri sepak bola kita. Ini terobosan bagus karena salah satu masalah besar klub sepak bola kita adalah pendanaan dan struktur finansial klub," ucapnya.

Lanjut Kusnaeni, klub-klub saat ini hanya memikirkan dana untuk kebutuhan tim selama semusim. Dengan kondisi demikian, banyak klub yang tidak memiliki rencana bisnis yang jelas untuk jangka menengah maupun jangka panjang.

Bali United menargetkan Rp350 miliar untuk memenuhi kebutuhan klub dalam 10 tahun ke depan melalui penjualan saham kepada publik. Pemasukan itu bakal diproyeksikan untuk rencana pembangunan stadion, program klub, pembangunan toko resmi klub maupun hal lain yang berkaitan dengan industri sepak bola.

Pengamat: Klub Liga 1 Jangan Latah Ikuti IPO Bali United
Menurut Kusnaeni, terobosan yang dilakukan Bali United untuk go public patut ditiru klub-klub profesional lain di Indonesia.

Langkah go public juga disebut Kusnaeni bisa memangkas persoalan terkait domisili klub yang sering berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Dukungan publik melalui pembelian saham bisa memunculkan keterikatan antara klub dengan fan yang ikut memiliki klub melalui pembelian saham.

"Ini persoalan besar dan dipecahkan melaui penggalangan dana ke publik. Di Eropa, Inggris semua sudah melakukannya. Ini harus ditiru klub lain meski bukan hal mudah buat IPO karena persyaratannya berat," ia menuturkan. (TTF/jal)