LIPUTAN KHUSUS

Kisah Para Bocah Pebalap, Curi Motor Hingga Dibayar Rp1 Juta

Surya Sumirat, CNN Indonesia | Rabu, 26/06/2019 11:19 WIB
Kisah Para Bocah Pebalap, Curi Motor Hingga Dibayar Rp1 Juta Pebalap cilik road race, Herlian Dandi dan Akbar Abud Afdalah. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada suatu hari, Erwin Setiana tampak bingung saat melangkah keluar dari rumah. Berulang kali wajahnya dipalingkan ke kanan dan ke kiri mencari sepeda motor bebek matic miliknya. Kemana pun ia menengok, motor itu tak ada.

Belakangan diketahui motor itu dibawa kabur anak keduanya yang baru berusia delapan tahun, Akbar Abud Afdalah.

Erwin hanya bisa menggelengkan kepala.


"Saya baru tahu sepeda motor saya dibawa kabur Abud setelah ada yang laporan, kalau anak saya baru saja menghancurkan motor orang lain," ujar Erwin saat bercerita kepada CNNINdonesia.com.
IMI mengizinkan pebalap cilik untuk berkompetisi dengan batasan usia minimal 10 tahun. IMI mengizinkan pebalap cilik untuk berkompetisi dengan batasan usia minimal 10 tahun. (CNN Indonesia/Artho Viando)

Kisah itu bukan yang pertama. Sebelumnya Abud juga pernah 'menghancurkan' motor tipe Astrea 800. Dua sepeda motor milik orang lain pun pernah dibuat rusak oleh sang putra kesayangan.

Ketertarikan Abud pada motor memang demikian besar. Minat ini pula yang mengantarkannya kini menjadi pebalap belia di tim Fast Tech Jogja, salah satu tim besar di Indonesia.

Erwin baru mengetahui seberapa besar bakat terpendam Abud saat buah hatinya mengikuti balapan pertama pada 2016 silam. Tepatnya di ajang Ramadhan Race 2016. Satu sepeda motor matic Yamaha Mio khusus dibelikan Erwin sebagai modal Abud mencicipi balapan pertama.

"Dari 26 peserta , dia [Akbar] finis di urutan ketujuh. Dari situ saya yakin, dia mau jadi pebalap. Sekarang dia ada di tim sebesar ini (Fast Tech Jogja). Itu bagus sekali," ucap Erwin.
Pebalap cilik road race, Akbar Abud Afdalah, mulai berkompetisi sejak 2016 di Ramadhan Cup. Pebalap cilik road race, Akbar Abud Afdalah, mulai berkompetisi sejak 2016 di Ramadhan Race. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)

Menurut Ikatan Motor Indonesia yang menaungi berbagai kompetisi balap jalanan, pebalap cilik di dunia road race mulai berkembang dalam lima tahun belakangan.

Karena itulah regulasi dibutuhkan. Untuk level kejuaraan nasional, IMI menetapkan batas minimal usia untuk pebalap cilik di umur 10 tahun untuk kelas rookie.

Meski begitu, beberapa penyelenggara kejuaraan road race di level club event atau terbuka masih ada yang memberikan keleluasaan membalap untuk mereka-mereka yang berada di bawah batas usia tersebut.

Untuk menarik minat atau menjaring generasi balap baru, beberapa penyelenggara juga ada yang menampilkan kelas miniGP atau motor kecil yang menyerupai motor MotoGP yang memiliki kecepatan 50cc.

Kisah Para Bocah Pebalap, Curi Motor Hingga Dibayar Rp1 Juta

Pada umumnya, ketertarikan para pebalap cilik untuk dunia kebut-kebutan di lintasan sirkuit ini karena melihat pebalap senior berlatih atau menyaksikan balapan.

Misalnya saja Abud. Siswa Sekolah Dasar Negeri 5 Cintartu itu bukan yang tiba-tiba saja menyukai road race. Abud kerap diajak kerabatnya untuk menyaksikan balap motor jalanan yang memang tidak jauh dari rumah.

"Rumah saya dekat sirkuit balap. Awalnya nonton saudara balap, lalu belajar motor matic di rumah. Saya tabrakan terus. Sama Bapak akhirnya dibelikan baju balap," kata Abud saat ditemui CNNIndonesia.com di Sirkuit Brigif Kujang II, Cimahi.

Anak bungsu dari dua bersaudara itu tergolong pebalap yang banyak menorehkan prestasi untuk anak seusianya. Mulai dari podium di Cimahi, Banjar, Purwokerto, hingga Surabaya. Meski ke sana ke mari mengikuti balapan dan menyita waktu sekolah, Abud mengaku selalu diberikan izin oleh guru-gurunya.

Saat ini hampir semua event balap road race menampilkan kelas untuk para pebalap cilik. Dalam satu kelas, starter yang mengikuti balapan bisa berisikan 15-25 orang.
Para pebalap cilik mengaku terinspirasi dari melihat balapan sehingga bisa tertarik berkompetisi. Para pebalap cilik mengaku terinspirasi dari melihat balapan sehingga bisa tertarik berkompetisi. (CNN Indonesia/Artho Viando)

Di dalam balapan, Abud tidak selalu bertarung melawan pebalap-pebalap selevel. Seperti di kejuaraan road race di Sirkuit Brigif, Cimahi, Januari lalu, Abud masuk di kelas ECU Standar dan bersaing dengan pebalap yang lebih senior.

Dalam pikirannya saat ini hanya ada satu cita-cita, bukan menjadi dokter atau pengusaha. Abud telah menggantungkan harapan untuk di kemudian hari membalap di tingkat tertinggi.

"Ingin jadi pebalap road race terus, ingin jadi pebalap MotoGP. Saya suka gaya balap Marc Marquez (pebalap MotoGP dari tim Repsol Honda)," tutur Abud.

Cerita sebagian anak-anak yang kini terlibat di balapan jalanan hampir sama. Mereka kenal dengan balapan motor jalanan karena diajak keluarga atau kerabatnya.

Kisah Para Bocah Pebalap, Curi Motor Hingga Dibayar Rp1 Juta
Rekan Abud, Herlian Dandi, juga demikian. Dia terjerat dunia yang identik dengan kecepatan ini karena mendapat tawaran dari pamannya.

"Ceritanya dulu saya diajak ayah dan naik motocross, lalu ditawari sama Om saya untuk balap motor. Dulu saya main (latihan) di Sentul. Saya senang balap motor karena tetangga ada juga yang pebalap," Dandi menimpali.

"Awalnya takut, tapi ketagihan karena saya suka kecepatan. Cita-cita ingin jadi pebalap," Dandi melanjutkan.
Kisah Para Bocah Pebalap, Curi Motor Hingga Dibayar Rp1 Juta
Pebalap cilik road race, Herlian Dandi. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)

Untuk anak seusia 10 tahun atau setidaknya di bawah 17 tahun, menjadikan balap motor sebagai ladang rezeki bisa jadi pilihan tepat. Dalam satu seri balapan, setiap pebalap cilik ini bisa mengantongi bayaran sebesar Rp1 juta.

Apalagi, balap motor juga bisa jadi salah satu alternatif untuk menghindari aksi ugal-ugalan di jalanan.

Dalam merekrut pebalap terutama pebalap muda, manajemen atau pemilik tim harus melakukan pengamatan cermat. Selain kemampuan membalap, manajemen tim juga melihat sikap pebalap. Mereka yang bisa disiplin dan mandiri di usia muda lah yang punya potensi dilirik manajemen tim.

Pihak tim balap juga berharap orang tua bisa sepenuhnya menyerahkan anak kepada mereka untuk dididik dan dibina menjadi pebalap motor yang sebenarnya.

"Saat si anak kembali ke rumah, saya berharap orang tua juga bisa membantu sisi olahraga si anak. Pebalap juga harus menjaga nama bak tim, itu sudah salah satu tuntutan profesional atlet," ujar Rudi Hadinata, pemilik tim Astra Motor Racing Team Yogyakarta.
Kisah Para Bocah Pebalap, Curi Motor Hingga Dibayar Rp1 JutaSikap pebalap cilik baik di dalam maupun di luar lintasan bisa menjadi faktor penentu prestasi. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)

Sikap pebalap baik di dalam maupun di luar lintasan di mata Rudi bisa menjadi faktor penentu prestasi. Dengan begitu, Rudi lebih memilih pebalap yang tidak memiliki banyak tuntutan tetapi punya kemauan yang kuat untuk maju.

"Mohon maaf saja, untuk saat ini terkadang ada pebalap yang sudah juara lalu lebih menomor satukan materi," ucap Rudi.

Bagi Rudi, timnya tidak pernah menuntut banyak atau memberikan beban berat kepada pebalap. Karena itu Astra Racing Team Yogyakarta memiliki kepercayaan lebih kepada para pebalap. (vws)