LIPUTAN KHUSUS

Balap Jalanan, Candradimuka Menuju MotoGP

Arby Rahmat & Surya Sumirat, CNN Indonesia | Rabu, 26/06/2019 09:00 WIB
Balap Jalanan, Candradimuka Menuju MotoGP Dimas Ekky adalah salah satu pebalap Indonesia yang mengawali karier dari road race atau balapan jalanan. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dimas Ekky Pratama tak bisa menahan senyum saat mengakhiri telepon dengan Anggono Iriawan, pada 22 Oktober 2017 silam. Haru sekaligus senang menyergapnya saat mendengar kabar yang disampaikan Manajer Tim AHRT itu: dirinya berpeluang tampil di Moto2 Malaysia di Sirkuit Sepang, 29 Oktober 2017.

Kabar dari Anggono tersebut merupakan kejutan besar. Saat itu Dimas Ekky masih melakoni balapan CEV (Campeonato de Espana de Velocidad) Moto2 Valencia, atau kejuaraan nasional balap motor di Spanyol.

Dimas Ekky sebenarnya paham bahwa kabar itu bukan kepastian 100 persen. Anggono hanya bilang dirinya kemungkinan mendapat jatah wildcard jadi pebalap pengganti dan meminta pebalap 26 tahun itu untuk mencari tiket penerbangan ke Sepang, Malaysia.


Namun, peluang tipis bisa bersaing dengan para pebalap terbaik di seluruh dunia sudah cukup untuk mengapungkan harapannya.
Pebalap Indonesia Dimas Ekky Pratama (30) pada balapan Moto2 Malaysia 2018.Pebalap Indonesia Dimas Ekky Pratama (30) pada balapan Moto2 Malaysia 2018. (CNN Indonesia/Haryanto Tri Wibowo)

Asa itu pun kemudian benar-benar terwujud. Di Moto2 Malaysia 2017 Dimas ditunjuk tim Gresini Racing menggantikan Jorge Navarro yang mengalami cedera ligamen dan robek pada keempat jari tangan kiri.

Setelah dua kali menjadi pebalap dengan status wildcard pada 2017 dan 2018, Dimas Ekky kini tengah menjalani karier sebagai pebalap Moto2 dalam semusim penuh bersama Idemitsu Honda Team Asia. Ia pun berharap bisa menapaki karier yang lebih jauh lagi ke MotoGP.

"Saya sangat bersemangat sekali [balapan di Moto2 2019]. Apalagi target awal berkarier di dunia balapan kan pastinya ingin tampil di MotoGP," ucap Dimas.

Balap Jalanan, Candradimuka Menuju MotoGP (Embargo)

Berawal dari Balap Jalanan

Dimas Ekky adalah salah satu bentuk kesuksesan dari kerja keras seorang pebalap yang memulai kariernya dari road race. Pria kelahiran Depok, Jawa Barat, itu mengaku sudah mencicipi dunia aspal jalanan pada usia 12 tahun saat duduk di bangku sekolah kelas 6 SD.

Pebalap 26 tahun itu tergolong atlet yang memiliki karier menanjak di dunia balap motor. Lima tahun di kejuaraan balap motor jalanan, Dimas naik kelas ke level Supersport 600cc pada 2010 hingga ke CEV.

"Saya pernah wildcard sendiri dengan dana sendiri sama teman-teman di CEV 2013 sampai akhirnya bisa di CEV dengan tim Astra Honda hingga kesampaian wildcard di Moto2 Sepang 2017 dan di 2019 dapat kesempatan sama Honda Team Asia," ucap Dimas.
Balapan jalanan atau road race adalah awal karier para pebalap di Indonesia. Balapan jalanan atau road race adalah awal karier para pebalap di Indonesia. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)

Selain Dimas Ekky, Indonesia juga punya pebalap lain yang pernah tampil di Moto2 - balapan yang hanya satu level di bawah MotoGP. Tentu ini jadi peluang baik untuk bisa berlaga di pentas teratas karena banyak tim-tim MotoGP yang merekrut pebalap dari Moto2 dan Moto3.

Di MotoGP 2019 misalnya. Terdapat empat pebalap debutan di kelas elite tersebut dengan tiga di antaranya dari Moto2 dan satu dari Moto3. Mereka adalah Fabio Quartararo (Petronas Yamaha), Miguel Oliveira (Red Bull KTM Tech 3), dan Francesco Bagnaia (Pramac Racing) dari Moto2, dan Joan Mir (Suzuki) naik kelas dari Moto3.

Sebelum Dimas Ekky, ada dua pebalap Indonesia yang juga pernah mencicipi persaingan di Moto2: Doni Tata Pradita dan Rafid Topan Sucipto.

Doni Tata mengaspal di Moto2 pada 2007 dengan status wildcard dilanjutkan menjadi pebalap satu musim penuh di 2008 dan 2013, sedangkan Rafid Topan pada 2013.

Keduanya juga pernah merasakan sengit persaingan di balapan jalanan.

"Saya bermain di road race saat usia 15 tahun, sekitar tahun 2000-an. Selama tiga hingga empat tahun di road race saya tampil di kelas tune-up 4 tak sampai 2 tak standar. Setelah itu di kejuaraan Asia, Supersport 600cc, lalu ke Moto2. Ketika itu CEV belum begitu populer," tutur Doni.
Selain Dimas Ekky, Galang Hendra juga menjadi pebalap Indonesia yang mengawali karier dari balapan jalanan. Selain Dimas Ekky, Galang Hendra juga menjadi pebalap Indonesia yang mengawali karier dari balapan jalanan. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)

Pebalap Indonesia bukan orang baru di balap motor level grand prix. Nama-nama seperti M Fadli Immammuddin, Petrus Canisius, Ahmad Jayadi, hingga Rudi Arianto juga pernah merasakan membalap di kelas 125cc.

Jauh sebelum itu Indonesia memiliki Benny Hidayat, Tjetjep Euwyong Heriyana, dan Beng Soeswanto di era 1960 sampai 19-70an. Bahkan, dalam beberapa artikel di dunia maya menyebut Benny Hidayat pernah memenangi Grand Prix Makau pada 1970.

Melihat catatan sejarah tersebut, pebalap-pebalap Indonesia sejatinya memiliki potensi untuk tampil di level elite kejuaraan dunia balap motor. Terlebih lagi Indonesia bakal menggelar MotoGP pada 2021 mendatang di Mandalika, Lombok, setelah Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) menjalin kerja sama dengan Dorna Sport SL selama lima tahun.

Ajang MotoGP 2021 nanti bisa jadi kesempatan bagi pebalap Indonesia unjuk gigi.
Di kawasan pariwisata yang dikelola Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) itu akan dibangun sirkuit berkelas MotoGP dengan konsep ÒStreet CircuitÓ. Di kawasan pariwisata KEK Mandalika yang dikelola Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) akan dibangun sirkuit berkelas MotoGP dengan konsep ÒStreet CircuitÓ. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/ama)

GM Aftersales & Motorsport YIMM Muhamad Abidin menyebut salah satu pebalapnya, Galang Hendra, yang kini tampil di WSSP 600 berpeluang tampil di MotoGP 2021. Kans itu juga tentu bisa berlaku bagi Dimas Ekky yang kini berada di Moto2.

Galang Hendra merupakan salah satu jebolan road race yang tengah berkarier di level internasional. Tim Yamaha ART di tahun 2009 adalah tim pertamanya di dunia road race Indonesia, sebelum masuk akademi Yamaha di tahun 2012, dan masuk tim Garpu Tala itu pada 2014.

"Galang sangat mungkin [tampil di Mandalika]. Saat ini saja sudah 2019. Kalau dia berprestasi tahun ini, dia bisa naik ke kelas 600 [WSSP600]," ujar Abidin mengenai Hendra yang akan mengikuti kejuaraan World Supersport 300 tahun ini.

"Kelas 600 itu mesin motornya setara Moto2. Dengan berada di ajang selevel Moto2 pada 2020, maka di tahun 2021 Galang akan sudah sangat pengalaman sekali," Abidin menambahkan.

(vws)