ANALISIS

Lakon Protagonis Berulang Marquez di MotoGP 2019

Haryanto Tri Wibowo, CNN Indonesia | Sabtu, 13/07/2019 08:18 WIB
Lakon Protagonis Berulang Marquez di MotoGP 2019 Marc Marquez unggul 58 poin hingga paruh musim MotoGP 2019. (REUTERS/Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak ada yang bisa banyak dibahas hingga paruh musim MotoGP 2019 kecuali kehebatan pebalap Repsol Honda Marc Marquez yang berhasil merebut keunggulan cukup signifikan di puncak klasemen sementara.

Melihat ajang MotoGP dalam beberapa musim terakhir lakonnya hampir sama. Setidaknya dalam tiga musim terakhir. Marquez selalu mampu merebut gelar juara dunia tanpa tekanan berarti. Mungkin hanya pada musim 2017 The Baby Alien mendapat tekanan dari Andrea Dovizioso, tapi sisanya Marquez selalu mampu menjadi juara dunia dengan nyaman.

Pada musim 2016 dan musim lalu Marquez berhasil menjadi juara dunia MotoGP di Sirkuit Motegi, Jepang, saat musim masih menyisakan tiga seri. Marquez juga pernah melakukannya saat menjadi juara dunia MotoGP 2014.


Cerita pun kembali terulang hingga paruh musim MotoGP 2019 dan mungkin akan sama hingga akhir musim. Kemenangan di MotoGP Jerman 2019 yang merupakan seri terakhir paruh pertama musim ini, membuat Marquez unggul 58 poin atas Dovizioso.

Marc Marquez selalu finis pertama dan kedua jika mampu menyelesaikan balapan musim ini.Marc Marquez selalu finis pertama dan kedua jika mampu menyelesaikan balapan musim ini. (REUTERS/Annegret Hilse)
Kecuali saat melakukan kesalahan di GP Amerika Serikat, Marquez selalu finis di posisi pertama dan kedua hingga paruh musim. Total pebalap 26 tahun itu merebut delapan podium, termasuk lima kemenangan di Argentina, Spanyol, Prancis, Catalunya, dan Jerman.

Dovizioso terbilang beruntung hanya tertinggal 58 poin dari Marquez. Pasalnya, jika tidak melakukan kesalahan di Sirkuit Austin saat sedang memimpin MotoGP AS, Marquez seharusnya sudah unggul 83 poin di puncak klasemen memasuki paruh musim.

Jika melihat dominasi Marquez pada MotoGP dalam beberapa musim terakhir, termasuk musim ini, mengingatkan kita pada dominasi Valentino Rossi yang menjadi juara dunia 2001 hingga 2005. Mick Doohan juga pernah melakukannya di era 500cc ketika menjadi juara dunia sepanjang 1994 hingga 1998.

Lakon Protagonis Berulang Marquez di MotoGP 2019
Dominasi serupa juga pernah terjadi di ajang Formula One (F1) ketika Michael Schumacher menjadi juara dunia pada 2000 hingga 2004 atau ketika Sebastian Vettel menjadi juara pada 2010 hingga 2013.

Membosankan. Mungkin itu yang ada di benak pecinta MotoGP melihat persaingan musim ini. Bahkan pebalap LCR Honda Cal Crutchlow mengatakan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2019 sudah berakhir ketika Marquez finis kedua di Mugello, Italia, tempat yang biasanya Honda kesulitan dan menderita.

Tapi, Marquez tidak bisa disalahkan atas anggapan MotoGP kini membosankan. Justru para rival Marquez dan Honda yang pantas disalahkan atas tidak menariknya persaingan gelar juara dunia dalam beberapa musim terakhir di MotoGP.

Ketika musim ini dimulai, seperti yang terjadi dalam beberapa musim sebelumnya, Dovizioso, Vinales, Lorenzo, dan Rossi kembali diprediksi menjadi rival Marquez dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP musim ini. Tapi, lakonnya tetap sama. Tidak ada yang mampu mengadang laju The Ant of Cervera.

Dominasi Marquez di MotoGP berpeluang terjadi hingga beberapa musim ke depan. Lalu apa yang bisa membuat dominasi Marquez berakhir? Jika melihat sejarah, setidaknya ada tiga faktor yang bisa membuat sebuah dominasi pebalap berakhir di ajang balap motor atau mobil.

Marc Marquez dianggap membuat perebutan gelar juara dunia MotoGP menjadi tidak menarik.Marc Marquez dianggap membuat perebutan gelar juara dunia MotoGP menjadi tidak menarik. (REUTERS/Piroschka Van De Wouw)
Faktor pertama adalah jika Marquez meninggalkan Honda. Pebalap hebat seperti Rossi dan Lorenzo langsung kehilangan sentuhan dan menurun performanya ketika meninggalkan Yamaha. Bahkan Rossi hingga kini masih gagal merebut gelar juara dunia kesepuluh meski sudah kembali ke Yamaha sejak 2013.

Faktor kedua adalah cedera. Hal itu yang terjadi pada Doohan. Setelah merebut gelar juara dunia 500cc dari 1994 hingga 1998, Doohan langsung terpuruk pada musim 1999 setelah mengalami cedera serius usai kecelakaan di babak kualifikasi GP Spanyol. Legenda balap asal Australia itu kemudian mengumumkan pensiun karena tidak bisa pulih 100 persen.

Sementara itu faktor terakhir adalah ada pebalap muda yang mampu mengimbangi hingga mengakhiri dominasi Marquez. Peluang itu cukup terbuka dengan adanya Fabio Quartararo di MotoGP. Pebalap asal Prancis itu tampil fenomenal hingga paruh bersama tim satelit Yamaha Petronas. Quartararo bisa menjadi penjegal Marquez jika mendapatkan sepeda motor yang lebih kompetitif bersama tim pabrikan Yamaha.

Tiga faktor di atas mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Untuk sementara penggemar Rossi, penggemar Dovizioso, penggemar Lorenzo, dan penggemar Vinales harus bisa menerima kehebatan Marquez dan melihat The Baby Alien hampir pasti merebut gelar juara dunia MotoGP 2019. (ptr)