TESTIMONI

Jurus 'Si Kurus' Bangkit dari Depresi

Kurniawan Dwi Yulianto, CNN Indonesia | Senin, 29/07/2019 20:08 WIB
Mantan striker Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, berbagi cerita tentang masa-masanya bangkit dari depresi. Kurniawan Dwi Yulianto sempat mengalami masa sulit dalam karier sepak bolanya. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya kali pertama berkenalan dengan sepak bola saat enam tahun, tepatnya saat menyaksikan Piala Dunia 1982. Saya tidak ingat pertandingannya tetapi waktu itu yang saya tahu saya menonton Diego Armando Maradona.

Berawal dari sana, saya tertarik jadi pemain bola. Namanya anak-anak, mimpi saya waktu itu tidak muluk. Saya hanya ingin ditonton orang di televisi dan naik pesawat gratis. Hanya dua itu mimpi saya.

Ayah saya PNS sehingga kami sering berpindah tempat tinggal. Baru saat pindah rumah ke Kalinegoro, saya rutin main bola karena kebetulan di sana ada lapangan yang bisa digunakan.


Hampir setiap hari saya main bola sampai akhirnya saat masuk kelas 1 Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Kota Magelang orang tua melarang saya main bola.

Orang tua saya lebih senang saya jadi atlet bulutangkis. Pada zaman itu di daerah saya tidak ada klub bola yang berprestasi. Pilihannya hanya jadi atlet bulutangkis atau tentara.

Dulu ada nama Liem Swie King, saya lantas dipaksa masuk sekolah bulutangkis. Tetapi entah kebetulan atau memang sudah jalan saya jadi pemain bola, waktu mau daftar, sekolah bulutangkis pada hari itu malah tutup.

Saat perjalanan pulang naik angkot ke rumah, saya tidak sengaja melihat sebuah spanduk pengumuman. Tulisannya masih terekam jelas dalam memori saya 'Dibuka sekolah sepak bola di Magelang' dan itu SSB pertama di daerah saya.

Jurus 'Si Kurus' Bangkit dari DepresiKurniawan mengaku saat masih kanak-kanak diarahkan untuk jadi pemain bulutangkis. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Saya menangis minta turun dari angkot agar bisa masuk SSB di sana. Kedua orang tua saya mengalah dan saya akhirnya dimasukkan ke SSB, meski terpaksa karena sebenarnya orang tua tidak mendukung.

Di SSB saya juga tidak lantas main sebagai penyerang.

Awalnya saya malah main sebagai libero karena waktu itu mungkin kemampuan saya paling lumayan dibandingkan teman yang lain.

Jelang sebuah turnamen SSB, ada anak yang masuk sebagai stopper dan saya dipindah ke gelandang. Posisi itu pula yang terus saya tempati selama bermain di SSB.

Tak lama masuk SSB, saya mengukir prestasi dengan jadi juara dalam sebuah kejuaraan. Nama saya mulai masuk koran lokal di Magelang dan orang tua mulai melihat potensi besar saya. Waktu itu umur saya kalau tidak salah 13 tahun.

Begitu naik kelas tiga SMP saya dapat panggilan seleksi di Diklat Salatiga, sekitar tahun 1989. Saya sangat antusias karena sudah sejak lama saya bermimpi jadi pesepakbola profesional. Namun, kepala sekolah saya di SMP Negeri 7 Magelang melarang untuk pindah ke Salatiga.

Jurus 'Si Kurus' Bangkit dari DepresiKurniawan Dwi Yulianto memiliki prestasi akademis yang bagus saat masih duduk di bangku sekolah. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Beliau ingin saya masuk Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara karena prestasi akademis saya cukup bagus. Saya menolak permintaan beliau karena saya ingin mengejar mimpi saya.

Saat berada di Diklat Salatiga, saya masih menempati posisi semasa saya di SSB sebagai gelandang selama satu tahun. Setelah itu saya dipindahkan ke posisi sayap kiri.

Posisi saya baru berubah jadi penyerang saat angkatan di atas saya lulus dari Diklat Salatiga. Ketika itu pelatih saya Pak John Osok dan Pak Hariyadi melihat potensi yang saya miliki. Sejak itu saya terus jadi penyerang dan dipercaya sebagai kapten tim.

Lucunya saat masuk Diklat Salatiga keinginan saya sudah berubah.

Target saya di Salatiga itu bukan lagi jadi pemain bola. Saya ingin kuliah, masuk Universitas Gadjah Mada.

Peluang kuliah UGM terbuka karena banyak lulusan Diklat Salatiga yang dapat beasiswa masuk ke sana. Saya pikir dengan masuk UGM bisa meringankan beban orang tua karena tidak harus keluar biaya untuk kuliah. Namun, lagi-lagi keinginan saya berubah setelah masuk Primavera.

Proses saya bisa terpilih masuk Primavera juga cukup unik. Waktu itu saya belum dikenal oleh siapapun. Berbeda dengan pemain lulusan kompetisi Soeratin seperti Bima Sakti, Indriyanto Nugroho, dan pemain muda top yang lain.

Jurus 'Si Kurus' Bangkit dari DepresiKurniawan Dwi Yulianto sudah menunjukkan bakat besarnya sejak masih berusia muda. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Seleksi hari pertama, pagi harinya kami semua ikut tes fisik dan baru ada game internal sore harinya. Saat itu pemain seperti Bima Sakti, Indriyanto gabung dalam satu tim. Sedangkan saya ada di tim lawan dan lebih dulu duduk di bangku cadangan.

Saya baru masuk di babak kedua lawan Bima Sakti dan kawan-kawan, namun langsung bisa mencetak empat gol dan tim kami menang 4-0. Hari itu juga saya dipanggil Om Danur [Danurwindo, pelatih PSSI Primavera].

Om Danur bertanya, "Kamu anak mana?", dan saya bilang anak Diklat Ragunan dari Salatiga.

Setelah itu, om Danur bertanya apakah saya merokok dan saya jawab dengan tegas 'Tidak'.

Pernyataan berikutnya dari Om Danur bikin saya kaget. Dia bilang "Jangan sampai cedera kamu. Kamu pemain pertama yang saya panggil".

Jurus 'Si Kurus' Bangkit dari Depresi
Jadi baru hari pertama seleksi saya sudah masuk tim.

Saya kemudian berangkat ke Italia bersama tim Primavera untuk menimba ilmu di sana pada 1993.

Dari segudang pengalaman di sana yang paling berkesan saat masa awal beruji coba dengan Sampdoria Barretti. Kami dan Sampdoria Baretti sempat makan siang bareng dan ada menu steak di sana. Para pemain PSSI Primavera dengan lahap makan steak sementara pemain lawan yang usianya di bawah kami sama sekali tidak memakannya.

Saat saya tanya, mereka bilang terlalu dekat makan steak jelang pertandingan. Usia para pemain ini baru 15 tahun, tetapi tanpa diingatkan mereka sudah tahu harus menjaga pola makan yang benar agar bisa jadi pemain profesional.

Saya lantas ingat bahwa saya sudah mengorbankan banyak hal untuk sampai di Italia. Saya sudah sejak kelas tiga SMP terpisah dari orang tua dan tinggal di asrama. Oleh karena itu, saya harus dapatkan sesuatu di sepak bola. Pikiran saya sederhana waktu itu minimal sepak bola ini bisa untuk menyambung hidup.

Dua tahun berlatih di Italia, saya memutuskan untuk bermain di Swiss bersama FC Luzern. Persaingan di sana lebih ketat karena saya dianggap sebagai pemain asing. Saingan saya waktu itu penyerang dari Zimbabwe dan juga pemain asing dari Bulgaria. Meski sebentar saya merasa beruntung bisa bermain di sana.

Masa Kelam Akibat Narkoba

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK