Yel-yel The Jakmania ini selalu membekas dalam ingatan saya. Setiap mereka nyanyi lagu ini, bulu kuduk saya selalu merinding. Semangat bertanding pun jadi berlipat ganda.
Ibaratnya, jangankan kejar bola di depan mata. Bola keluar lapangan pun saya kejar-kejar kalau sudah mendengar lagu ini dinyanyikan suporter di stadion!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena bermain untuk Persija Jakarta adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Apalagi di zaman itu sudah jarang pemain asli Jakarta yang bisa masuk tim inti di klub Ibu Kota.
Nuralim juga menjadi langganan di Timnas Indonesia. (REUTERS) |
Karier saya pun semakin menanjak hingga berhasil menjuarai Liga Indonesia 1996 bersama Bandung Raya sekaligus menyandang pemain terbaik. Padahal saat itu klub ini dihuni sederet pemain top termasuk Peri Sandria, Dejan Gluscevic, dan Olinga Atangana.
[Gambas:Video CNN]
Setelah juara bersama Bandung Raya, takdir membawa saya ke klub idola sejak kecil: Persija Jakarta! Di sinilah petualangan indah saya dimulai.
Persija adalah rumah saya sesungguhnya. Di sini saya mencoba bermain lebih total dan merasakan kehangatan dengan suporter. Nyaris tak ada sekat dengan The Jak yang saat itu masih sedikit jumlahnya.
Nuralim pernah mencicipi juara Liga Indonesia bersama Bandung Raya dan Persija. (CNN Indonesia/Artho Viando) |
Tapi, usaha mengembalikan kejayaan Persija tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski sudah mendatangkan banyak pemain bintang gelar juara Liga Indonesia baru mampu kami raih pada 2001.
Kenangan Manis 2001
Liga Indonesia 2001 jadi momen terindah saya sebagai pemain Persija bersama Budiman Yunus, Anang Maruf, Luciano Leandro, Imran Nahumarury, Bambang Pamungkas, dan pemain lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.
Trofi juara bisa kami raih berkat kerja keras seluruh tim. Termasuk pemain, pelatih, manajemen, tukang pijat, sampai anak gawang. Kami sudah seperti keluarga.
Nur Alim punya kenangan manis bersama Persija di tahun 2001. (CNN Indonesia/Artho Viando) |
Kendati punya rumah di Bekasi, saya sengaja tinggal di mes bersama pemain lain demi menjaga harmonisasi tim. Beda dengan sekarang di mana pemain bintang tinggal di rumah masing-masing dan pemain asing di apartemen.
Tidak salah memang jika pemain asal Jakarta tidak tinggal di mes. Tiap zaman memang tak bisa disamakan. Tapi, dengan ikut tinggal di mes, saya bisa ikut mengawasi pergaulan pemain muda agar tidak kelewat bandel.
Hubungan kekeluargaan itulah yang membawa Persija juara pada 2001. Ini merupakan gelar yang kami tunggu-tunggu karena beberapa musim sebelumnya selalu terpeleset di akhir.
Saya ingat betul momen besar yang kami raih pada 7 Oktober 2001. Kami menjalani laga final yang mendebarkan melawan PSM Makassar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.
Nuralim sempat menjabat kapten Timnas Indonesia. (AFP PHOTO / AMIN) |
PSM yang dihuni para pemain timnas, juga punya mental kuat dan nyaris menggagalkan kemenangan kami. Mereka memperkecil kedudukan menjadi 2-3 lewat gol-gol Miro Baldo Bento (65') dan Kurniawan Dwi Yulianto (80').
Pertandingan berlangsung mendebarkan di menit-menit akhir namun kami berhasil mempertahankan keunggulan 2-3 dan berhak mengangkat trofi juara. Hampir semua pemain menangis haru, termasuk saya.
Mimpi terbesar dalam hidup saya terwujud. Jadi pemain Persija dan membawa klub ini juara serta membawa kebahagiaan bagi banyak orang dalam hal ini The Jakmania. Sebuah momen berharga yang tak bisa dibayar dengan apapun.
Bisnis di Luar Sepak Bola
Nuralim merintis bisnis parkir.( CNN Indonesia/Artho Viando)
Saat ini saya bisa dibilang sebagai penghubung Persija dan Pemkot Bekasi terkait perizinan penggunaan Stadion Patriot. Bisa dibilang, saya jadi bagian dari panitia pelaksana pertandingan Persija.
Tidak masalah jadi apa saja di Persija, klub yang saya cintai. Asal bisa dilibatkan saja saya sudah cukup senang. Sekalian mencuri ilmu kepelatihan dari setiap pelatih yang datang silih berganti.
Saya tidak akan mengelak bila suatu saat nanti takdir membawa saya menjadi pelatih. Saat ini saya sudah mengantongi lisensi B AFC dan berniat untuk menuntaskan A AFC supaya benar-benar siap melatih seandainya peluang itu datang.
Palang Parkir
Selain itu, saya juga mengembangkan berbagai bisnis usaha di luar sepak bola. Salah satu yang saya tekuni saat ini adalah perusahaan parkir otomatis.
Meski terlihat 'receh' tapi bisnis parkir otomatis ini cukup menjanjikan. Setidaknya penghasilannya bisa dibagi-bagi ke keluarga dan beberapa karyawan saya. Yang penting kita jalani pelan-pelan dengan ikhlas, Insya Allah membawa berkat juga buat banyak orang.
Nuralim terkenal sangar di lapangan tapi ramah di luar lapangan. (CNN Indonesia/Artho Viando) |
Saya percaya, semua kelancaran terjadi berkat rekam jejak baik kita di masa lalu. Mungkin orang tidak mau kerja sama dengan saya kalau punya dosa-dosa di masa lalu.
Menjaga hubungan baik dengan semua orang sangat penting. Misalnya, jangan langsung menolak sponsor meski bayarannya kecil. Karena suatu hari nanti mereka bisa saja membantu kita.
Misalnya usaha parkir yang saya geluti. Investor dengan senang hati bekerja sama karena saya mengutamakan kejujuran dan mungkin dianggap asyik juga diajak ngobrol ngalor-ngidul. Hehehe...
Mimpi Nur Alim menyaksikan anaknya berprofesi jadi pesepakbola tak kesampaian. (REUTERS) |
Sebenarnya dia punya bakat sepak bola. Tapi, sayang tak bisa lepas dari bayang-bayang nama besar bapaknya. Dia selalu terbebani jika dibanding-bandingkan dengan saya.
Bahkan, dia tak suka kalau saya hadir di lapangan ketika dia bertanding. Padahal menurut saya dia layak bermain di tim Liga 2 sebagai awal karier sekaligus menempa mental.
Tapi, anak saya memilih fokus menyelesaikan kuliah. Dia juga sepertinya tidak tertarik lagi mengejar mimpi sebagai pemain sepak bola. Tapi, yang penting dia bahagia dan berjalan di atas pilihannya sendiri.
Nuralim juga menjadi langganan di Timnas Indonesia. (REUTERS)
Nuralim pernah mencicipi juara Liga Indonesia bersama Bandung Raya dan Persija. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Nur Alim punya kenangan manis bersama Persija di tahun 2001. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Nuralim sempat menjabat kapten Timnas Indonesia. (AFP PHOTO / AMIN)
Nuralim terkenal sangar di lapangan tapi ramah di luar lapangan. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Mimpi Nur Alim menyaksikan anaknya berprofesi jadi pesepakbola tak kesampaian. (REUTERS)