Analisis

Gengsi MU vs Arsenal Kian Pudar

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 16:11 WIB
Gengsi MU vs Arsenal Kian Pudar Manchester United dan Arsenal masih belum berada di level terbaik. (AP Photo/Dave Thompson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bentrok Manchester United (MU) kontra Arsenal dalam laga lanjutan Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Selasa (1/10) dini hari WIB, berakhir antiklimaks dengan skor imbang 1-1.

Jika mengacu permainan selama 90 menit duel kedua tim bukan hanya bermasalah dari segi hasil, namun juga sebenarnya performa yang tidak di level terbaik.

Di laga tersebut pelatih MU Ole Gunnar Solskjaer menurunkan skuat terbaik yang ia bisa mainkan. Juru racik formasi asal Norwegia itu pun memainkan Marcus Rashford.


Penyerang asal Inggris itu sebelumnya mengalami cedera selangkangan. Namun, Solskjaer tidak punya pilihan karena sadar terlalu berisiko memainkan Mason Greenwood, pemain 17 tahun sebagai starter.

Gengsi Duel MU vs Arsenal yang Kian PudarMU gagal mengamankan kemenangan saat menjamu Arsenal di Old Trafford. (AP Photo/Dave Thompson)
Di sisi lain Arsenal datang dengan skuat yang di atas kertas lebih baik dari tuan rumah jika mengacu kehadiran Pierre-Emerick Aubameyang dan Nicolas Pepe di lini depan.

Kedalaman tim The Gunners juga bagus karena mereka masih punya Dani Ceballos di bangku cadangan.

Namun yang terjadi di dalam lapangan tidak seperti pertemuan dua tim besar. Pertemuan yang seharusnya jadi gambaran sebuah kualitas.

Pertandingan berjalan datar, setidaknya hingga pertengahan babak pertama. Kedua tim tampil hati-hati dan tidak ada permainan cepat yang menggambarkan duel dua tim besar di Liga Inggris. Ironisnya, kedua tim kesulitan untuk sekadar mengancam gawang lawan.

Tembakan tepat sasaran pertama di laga ini baru tercipta pada menit ke-29. Gelandang MU, Andreas Pereira, yang pertama mengancam gawang lawan.

Gengsi Duel MU vs Arsenal yang Kian PudarScott McTominay termasuk salah satu pemain MU yang tampil bagus. (AP Photo/Dave Thompson)
Mengacu Opta, tembakan tepat sasaran Pereira itu paling lama terjadi di sebuah pertandingan Liga Inggris musim ini.

Tensi pertandingan sempat naik saat gelandang MU Scott McTominay membobol gawang Bernd Leno jelang akhir babak pertama. Arsenal merespons dengan gol balasan dari Pierre-Emerick Aubameyang pada menit ke-58.

Hanya saja dua gol itu tidak cukup untuk menutup kurangnya gairah, antusiasme, dan daya juang 11 pemain yang ada di lapangan. Para pemain MU dan Arsenal seperti tidak menganggap laga ini seperti pertandingan besar.

Pertandingan yang seharusnya dimenangi salah satu tim, mengacu gengsi dua tim yang pernah begitu dominan di kompetisi paling elite Negeri Ratu Elizabeth.

MU dan Arsenal memang punya pemain bintang, tetapi mereka bak kehilangan pemain anutan. MU tidak lagi punya pemain berkarakter yang bisa membakar semangat tim macam Roy Keane atau Gary Neville.

Gengsi Duel MU vs Arsenal yang Kian PudarDuel MU dan Arsenal minim gairah sepanjang 90 menit. (AP Photo/Dave Thompson)
Paul Pogba justru terlihat malas di lapangan dan kontribusinya tidak maksimal sebagai jenderal lapangan tengah. Justru McTominay, pemain 22 tahun, yang tampil lebih dinamis dengan bergerak ke semua sisi lapangan.

Hal yang sama juga terjadi di kubu tamu. Skuat asuhan Unai Emery seperti tidak punya gairah di babak pertama meski performa Aubameyang dkk agak membaik di 45 menit berikutnya.

[Gambas:Video CNN]
Duel kedua tim dini hari tadi kontras apabila melihat kembali duel MU dan Arsenal di masa lalu. Suporter kedua tim disuguhi paket komplet ibarat sebuah film yang masuk kategori papan atas.

Para pemain MU dan Arsenal memperlihatkan performa berkualitas, gairah, daya juang, dan tak jarang terjadi gesekan antarpemain, layaknya sebuah laga besar. Empat variabel itu yang belakangan hilang seiring menurunnya prestasi kedua tim elite Inggris tersebut.

Gengsi Duel MU vs Arsenal yang Kian Pudar
Oleh karena itu, tak perlu heran jika sepanjang musim ini MU dan Arsenal bakal kesulitan untuk sekadar masuk ke zona Liga Champions. Selain permainan Setan Merah dan The Gunners yang belum konsisten di awal musim ini, tim-tim lain seperti Tottenham Hotspur dan Chelsea sudah berkembang.

Tottenham punya pelatih hebat Mauricio Pochettino dan kedalaman tim yang baik. Sedangkan Chelsea mengandalkan racikan permainan menyerang dari Frank Lampard untuk kembali tampil di Liga Champions seperti musim ini.

Dua tim top Inggris lainnya, Manchester City dan Liverpool tidak masuk hitungan karena level kedua tim ini sudah berada di atas keempat tim tersebut. Man City dan Liverpool bisa dikatakan otomatis menyabet tiket lolos ke Liga Champions musim depan.

Solskjaer dan Emery wajib menemukan formula yang tepat untuk menaikkan level MU serta Arsenal ke level tertinggi. Jika hal itu tak bisa dilakukan maka siap-siap mengucap sayonara ke Liga Champions. (har)