Jika mengacu permainan selama 90 menit duel kedua tim bukan hanya bermasalah dari segi hasil, namun juga sebenarnya performa yang tidak di level terbaik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
MU gagal mengamankan kemenangan saat menjamu Arsenal di Old Trafford. (AP Photo/Dave Thompson) |
Namun yang terjadi di dalam lapangan tidak seperti pertemuan dua tim besar. Pertemuan yang seharusnya jadi gambaran sebuah kualitas.
Pertandingan berjalan datar, setidaknya hingga pertengahan babak pertama. Kedua tim tampil hati-hati dan tidak ada permainan cepat yang menggambarkan duel dua tim besar di Liga Inggris. Ironisnya, kedua tim kesulitan untuk sekadar mengancam gawang lawan.
Tembakan tepat sasaran pertama di laga ini baru tercipta pada menit ke-29. Gelandang MU, Andreas Pereira, yang pertama mengancam gawang lawan.
Scott McTominay termasuk salah satu pemain MU yang tampil bagus. (AP Photo/Dave Thompson) |
Tensi pertandingan sempat naik saat gelandang MU Scott McTominay membobol gawang Bernd Leno jelang akhir babak pertama. Arsenal merespons dengan gol balasan dari Pierre-Emerick Aubameyang pada menit ke-58.
Hanya saja dua gol itu tidak cukup untuk menutup kurangnya gairah, antusiasme, dan daya juang 11 pemain yang ada di lapangan. Para pemain MU dan Arsenal seperti tidak menganggap laga ini seperti pertandingan besar.
Pertandingan yang seharusnya dimenangi salah satu tim, mengacu gengsi dua tim yang pernah begitu dominan di kompetisi paling elite Negeri Ratu Elizabeth.
MU dan Arsenal memang punya pemain bintang, tetapi mereka bak kehilangan pemain anutan. MU tidak lagi punya pemain berkarakter yang bisa membakar semangat tim macam Roy Keane atau Gary Neville.
Duel MU dan Arsenal minim gairah sepanjang 90 menit. (AP Photo/Dave Thompson) |
Hal yang sama juga terjadi di kubu tamu. Skuat asuhan Unai Emery seperti tidak punya gairah di babak pertama meski performa Aubameyang dkk agak membaik di 45 menit berikutnya.
[Gambas:Video CNN]
Duel kedua tim dini hari tadi kontras apabila melihat kembali duel MU dan Arsenal di masa lalu. Suporter kedua tim disuguhi paket komplet ibarat sebuah film yang masuk kategori papan atas.
Para pemain MU dan Arsenal memperlihatkan performa berkualitas, gairah, daya juang, dan tak jarang terjadi gesekan antarpemain, layaknya sebuah laga besar. Empat variabel itu yang belakangan hilang seiring menurunnya prestasi kedua tim elite Inggris tersebut.
Tottenham punya pelatih hebat Mauricio Pochettino dan kedalaman tim yang baik. Sedangkan Chelsea mengandalkan racikan permainan menyerang dari Frank Lampard untuk kembali tampil di Liga Champions seperti musim ini.
Solskjaer dan Emery wajib menemukan formula yang tepat untuk menaikkan level MU serta Arsenal ke level tertinggi. Jika hal itu tak bisa dilakukan maka siap-siap mengucap sayonara ke Liga Champions. (har)
MU gagal mengamankan kemenangan saat menjamu Arsenal di Old Trafford. (AP Photo/Dave Thompson)
Scott McTominay termasuk salah satu pemain MU yang tampil bagus. (AP Photo/Dave Thompson)
Duel MU dan Arsenal minim gairah sepanjang 90 menit. (AP Photo/Dave Thompson)