ANALISIS

Pesan Singkat Sarat Makna Jokowi kepada Menpora

Jun Mahares, CNN Indonesia | Rabu, 23/10/2019 20:06 WIB
Pesan Singkat Sarat Makna Jokowi kepada Menpora Zainudin Amali diminta Presiden Jokowi membenahi sepak bola. (CNN Indonesia/ Titi Fajriyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo melontarkan pesan singkat sarat makna kepada Menpora Zainudin Amali untuk mengurai benang kusut sepak bola Indonesia.

"Sepak bolanya, Pak," demikian pernyataan singkat Jokowi kepada Menpora baru Zainudin pada perkenalan Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (23/10).

Sepintas, pernyataan Jokowi kepada Zainudin terkesan sebatas guyon. Namun, komentar singkat itu bisa jadi sinyal tegas kepada Menpora baru untuk membenahi masalah klasik di sepak bola Indonesia, yaitu minim prestasi dan identik dengan konflik.


Pada periode sebelumnya, Jokowi memang ikut terlibat mengangkat gairah sepak bola Indonesia. Salah satunya lewat instruksi khusus kepada Menpora Imam Nahrawi untuk membenahi tata kelola sepak bola Indonesia.

[Gambas:Video CNN]
Sayang, upaya Jokowi untuk menata sepak bola Indonesia belum memuaskan. Menpora tak bisa seenaknya mengurusi tata kelola sepak bola karena berbenturan dengan ranah PSSI sebagai federasi yang terdaftar di FIFA.

Gesekan antara Menpora dan PSSI yang kala itu dipimpin La Nyalla Mattalitti berujung tragis. Sepak bola Indonesia disanksi FIFA pada 30 Mei 2015.

FIFA menilai pemerintah Indonesia sudah melakukan pelanggaran dan hukuman baru akan dicabut jika intervensi tidak lagi dilakukan. Intervensi pemerintah merupakan pelanggaran atas Pasal 13 dan 17 dari Statuta FIFA.

Pesan Singkat Sarat Makna Jokowi kepada MenporaZainudin Amali menjadi Menpora RI Kabinet Indonesia Maju. (CNN Indonesia/Feri Agus Setiawan)
Selama masa hukuman, PSSI kehilangan hak keanggotaannya dan semua tim Indonesia (nasional maupun klub) dilarang melakukan aktivitas internasional termasuk berpartisipasi di kompetisi FIFA dan AFC.

Sanksi FIFA kepada PSSI dijatuhkan tak lama setelah Jokowi menyatakan bahwa sepak bola Indonesia perlu direformasi total lantaran jauh dari prestasi. Ia juga tidak mempersoalkan pembekuan PSSI oleh Kemenpora, jika itu bagian dari program pembenahan secara menyeluruh.

Menpora Imam jadi bulan-bulanan sebagian besar penggemar sepak bola Indonesia. Ia dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab menghentikan hiburan rakyat setelah PSSI dibekukan FIFA.

Bahkan, sekelompok suporter sepak bola Indonesia sempat melakukan demonstrasi di pelataran Wisma Kemenpora. Namun, tekanan kepada PSSI tak digubris hingga La Nyalla mundur dari kursi ketua.

Untuk mengisi kekosongan kompetisi, Jokowi mengizinkan turnamen Piala Presiden digelar pada 2015. Turnamen ini diselenggarakan sebagai contoh kepada PSSI, yakni mengedepankan transparansi dan bebas dari mafia bola.

La Nyalla Mattalitti mantan Ketua Umum PSSI. (La Nyalla Mattalitti mantan Ketua Umum PSSI. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Politikus PDIP, Maurar Sirait, jadi orang terdepan yang mengawal Piala Presiden hingga bertahan selama empat edisi di mana Arema FC berhasil jadi juara di 2019.

Namun, kesuksesan Piala Presiden ternyata tidak berlanjut di kompetisi utama yang dikelola PSSI. Jadwal kompetisi bertajuk Liga 1 masih amburadul. Sering terjadi partai tunda karena bentrok dengan jeda internasional.

Konflik antarsuporter kerap memakan korban dan praktik mafia bola terus merajalela. Presiden bahkan merestui Polri membentuk satuan tugas (satgas) anti-mafia bola untuk mengusut praktik pengaturan skor pada 12 Desember 2018.

Satu per satu praktik mafia bola diusut. Para pengurus bola juga mulai berani buka suara untuk membongkar aktor di lapangan. Ironisnya, para pejabat PSSI terlibat di dalamnya.

Pesan Singkat Sarat Makna Jokowi kepada Menpora
Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, jadi salah satu pejabat federasi yang resmi ditahan. Jokdri dinyatakan bersalah terkait kasus perusakan barang bukti pengaturan skor.

Untuk melanjutkan keseriusan mengurai masalah di sepak bola Indonesia, Jokowi pun meneken Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Persepakbolaan Nasional pada Februari lalu.

Sayang, instruksi tersebut tak tuntas. Terlebih, Imam Nahrawi memutuskan mundur dari jabatan Menpora usai ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait kasus suap dana hibah KONI.

Kini, tugas berat membenahi benang kusut di sepak bola nasional berada di pundak Menpora baru, Zainudin Amali. Politikus partai Golkar itu diharapkan bisa lebih tegas dari Imam Nahrawi. Tapi, jangan sampai terjerat kasus korupsi seperti pendahulunya itu.

Imam Nahrawi ditetapkan sebagai tersangka kasus suap dana hibah KONI. (Imam Nahrawi ditetapkan sebagai tersangka kasus suap dana hibah KONI. (Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

Terkait sepak bola, pesan khusus Jokowi kepada Menpora baru agaknya harus menjadi alarm. Sepak bola memang bukan bagian dari cabor prioritas medali di level internasional macam SEA Games 2019, Asian Games, hingga Olimpiade Tokyo. Namun, sepak bola, terutama prestasi Timnas Indonesia kerap menjadi sorotan karena sebagai olahraga paling difavoritkan masyarakat Indonesia.

Perjuangan Merah Putih di level internasional acap kali menjadi ajang pertaruhan gengsi dengan negara-negara lain seperti di Asia Tenggara. Kekalahan dan keterpurukan Garuda pun seolah mencabik-cabik prestise bangsa.

Membenahi sepak bola Indonesia, juga menjadi misi yang amat sulit untuk bisa ditangani Zainudin Amali sebagai Menpora baru. Terlebih jika masuk dalam ranah PSSI dengan beragam kenyataannya yang amat kompleks.

Meski demikian, Zainudin Amali yang sudah lama malang melintang sebagai politikus Partai Golkar bisa jadi modal tersendiri.

Pasalnya, tak sedikit pengurus-pengurus PSSI di daerah seperti Asosiasi Provinsi PSSI yang berafiliasi pada partai berlambang beringin ini juga punya koneksi baik dengannya. Dengan demikian, jalur-jalur komunikasi untuk konsolidasi organisasi tersebut menjadi lebih baik sehingga bisa bersinergi dengan pemerintah. (har)