TESTIMONI

Ricky Soebagdja: Jual Es Mambo Hingga Emas Olimpiade

Ricky Soebagdja, CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 19:09 WIB
Ricky Soebagdja (kiri) melalui jalan cukup terjal sebelum menjadi legenda badminton Indonesia. (AFP PHOTO/TOSHIFUMI KITAMURA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya lahir 27 Januari 1971 di Bandung, anak keenam dari enam bersaudara. Bapak saya olahragawan, penjaga gawang Persib Bandung, Juju Sukadar. Bisa dibilang memang keluarga olahraga.

Ibu saya tidak terlalu mendukung saya sepak bola. Keinginan untuk main sepak bola tidak didukung karena olahraga yang keras, banyak kontak fisik, bolanya zaman itu keras, sepatunya keras. Jadi hal itu yang membuat saya tidak didukung.

Keluarga saya bukan keluarga yang berlebih, tetapi juga bukan keluarga yang tidak mampu. Hanya sedang-sedang saja. Ayah saya meninggal saat saya kelas 2 SD karena sakit. Dengan enam bersaudara, tentu perjuangan keluarga saya tidak mudah. Otomatis karena sudah tidak ada Bapak, Ibu saya yang mengurusi anak-anak sepenuhnya.


Ibu menunjukkan perjuangan yang luar biasa. Saat SD, Ibu berjualan es mambo, buka salon, jualan ke sana sini. Saya yang ikut mengantarkan es tersebut ke warung-warung dan mengambilnya saat sore.

Pada Porseni kelas 6 SD, saya berhasil jadi juara badminton, kemudian mewakili Jawa Barat untuk tingkat nasional yang kompetisinya di Ragunan. Saya dapat tiga emas di level nasional, tunggal juara, ganda putra juara, dan beregu juara.

Ricky Soebagdja tidak mendapat dukungan untuk menjadi pesepakbola.Ricky Soebagdja tidak mendapat dukungan untuk menjadi pesepakbola. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Masuk SMP, saya bisa masuk SMP 2 Bandung yang merupakan SMP favorit karena jalur prestasi. Tetapi karena sekolah masuk siang, saya bingung dengan latihan saya yang bakal terganggu. Dulu belum ada latihan pagi di klub-klub, sore dan malam saja.

Sampai akhirnya kelas dua SMP, ada panggilan dari pusat bahwa saya terpilih mewakili Indonesia di Kejuaraan Pelajar Asia di Hong Kong. Dari Jawa Barat ada nama Susy Susanti, Lilik Sudarwati.

Ini pertama kali saya naik pesawat ke luar negeri. Saya tak tahu apa yang mesti dipersiapkan. Akhirnya Pak Nara Sudjana, Pak Ueng Kohar, dan Pak Iie Sumirat membantu memberi tahu saya apa yang harus disiapkan. Saya bahkan dipinjami tas besar.

Saya berangkat ke Hong Kong deg-degan karena belum tahu urusan paspor segala macam. Tiba di Hong Kong, kami akhirnya bisa juara. Saya agak lupa detailnya, tetapi sepertinya kami tidak mengalami kesulitan untuk bisa jadi juara.

Di Pusdiklat Ardath, saya ikut berbagai kompetisi di berbagai daerah. Tetapi saya tidak ikut dalam beregu karena itu jatah pemain-pemain senior. Sampai akhirnya datang panggilan dari Pelatnas PBSI.

Panggilan Saat Hajatan

Ada hal lucu dalam pemanggilan saya ke Pelatnas Cipayung di 1986. Panggilan datang saat sedang ada acara pernikahan kakak saya di rumah. Jadi saat itu saya pakai baju adat dan harus segera buru-buru ke Jakarta.

Ricky Soebagdja: Jual Es Mambo ke Emas Olimpiade
Saya pamitan dengan buru-buru ke Ibu saya. Saat itu saya baru saja kelas tiga SMP. Jadi saya tidak lulus sekolah di Bandung karena ada panggilan pelatnas. Bagi saya panggilan pelatnas itu jalan mewujudkan cita-cita, jadi atlet nasional, jadi saya harus segera bergegas ke Jakarta.

Akhirnya saya menjadi anggota pelatnas PBSI yang saat itu masih di Senayan. Saat itu di pelatnas masih ada pemain-pemain senior seperti Liem Swie King.

Masa-masa awal di pelatnas saya latihan pagi lalu pergi naik angkutan umum bersama teman-teman lain yang masih sekolah di Ragunan. Jadi pemain muda di pelatnas tidak mudah. Kami punya senior-senior yang sudah punya nama besar. Bila berjalan melewati mes pemain senior pun kami terus berharap tidak bertemu. Seram rasanya bertemu senior. Saat itu jarak antara pemain senior dengan junior sangat terasa.

Ricky Soebagdja mulai masuk Pelatnas PBSI pada 1986.Ricky Soebagdja mulai masuk Pelatnas PBSI pada 1986. (AFP PHOTO/TOSHIFUMI KITAMURA)
Sebagai pemain junior jadwal turnamen juga tidak mudah. Bayangkan saja, setahun penuh kami latihan, turnamen yang kami ikuti cuma dua, Indonesia Open karena tuan rumah dan Kejurnas. Jangan berharap bisa turnamen besar macam All England, masih kejauhan. Pernah turnamen lain baru mau dikirim, eh tidak jadi.

Akhirnya saya bilang ke teman-teman pemain muda:'Kalau kita sudah duduk di pesawat, baru itu kita sudah pasti berangkat."

Ricky Soebagdja: Jual Es Mambo Hingga Emas Olimpiade
Masa-masa awal pelatnas memang berat. Latihan bisa sampai muntah-muntah, tapi pertandingan hanya dua kali. Saya capek. Bosan. Tetapi saya terus ingat saya harus bertahan, tidak degradasi dan tidak dikeluarkan. Pemikiran saya bila saya mendapat kesempatan bertanding, saya harus pergunakan sebaik mungkin karena kesempatan bertanding itu memang sangat susah.

Setelah momen lepas dari kategori junior, saya mulai fokus di nomor ganda, awalnya masih ganda putra dan ganda campuran sesuai instruksi pelatih.

Sejak masuk usia senior, saya berganti-ganti pasangan. Salah satu pasangan yang menurut saya sudah mulai pas adalah Richard Mainaky. Namun kabar mengejutkan justru saya terima ketika saya dan Richard baru saja juara di Polandia tahun 1991.

Bertemu Rexy Mainaky

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2