Kronologi Perak Pentathlon Indonesia Tak Diakui di SEA Games

CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 18:26 WIB
Kronologi Perak Pentathlon Indonesia Tak Diakui di SEA Games Ilustrasi kontingen Indonesia di SEA Games 2019. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Manajer cabang olahraga (cabor) modern pentathlon Indonesia, Glenn Cliffton, membeberkan kronologi pembatalan medali perak Cintya Nariska di nomor beach triathle individual putri SEA Games 2019.

Glenn mengatakan kepada CNNIndonesia.com, pihaknya tidak tahu batalnya Cintya meraih perak SEA Games 2019 karena perubahan soal pembagian medali dalam suatu ajang.

Aturan soal pembagian medali itu dibuat agar tidak ada dominasi medali oleh satu negara. Pada poin ke-19 surat amandemen itu disebutkan: medali emas, perak, dan perunggu hanya diberikan kepada atlet individu terbaik per negara di tiga besar mixed team untuk nomor beach laser run dan beach triathle.


Menurut Glenn, federasi pentathlon dunia, Persatuan Pentathlon Modern Internasional (UIPM), membuat amandemen soal pembagian medali yang disetujui tuan rumah SEA Games 2019, Filipina.

Perubahan itu juga sudah dikirim panitia penyelenggara SEA Games 2019 (PHISGOC) ke Komite Olimpiade Nasional (NOC) masing-masing negara, termasuk Indonesia pada 10 Oktober 2019.

Tetapi, Glenn mengaku baru mengetahui amandemen tersebut setelah dua atlet Indonesia meraih medali emas dan perak di nomor beach triathle individual putri SEA Games 2019.

"Awalnya kami tidak tahu. Tapi setelah kami tanya-tanya ternyata ada [surat amandemen itu]. Sayangnya surat tersebut tidak dilanjutkan dari NOC ke PB. Saya pelatih merangkap manajer belum pernah terima," ujar Glenn, Jumat (6/12).

Dea Salsabila Putri dan Cintya Nariska jadi yang terbaik di nomor beach triathle individual putri dengan menempati posisi pertama dan kedua di pesta olahraga ASEAN edisi ke-30 ini.

Ilustrasi pentathlon.Ilustrasi pentathlon. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Tetapi, dalam momen pengalungan medali nama Indonesia dan juga Cintya tidak disebutkan pihak penyelenggara. Panitia tidak mengakui medali perak yang sudah diperjuangkan Cintya sejak awal. Meskipun, pada saat itu situs resmi SEA Games 2019 masih mencatat nama Dea Salsabila dan Cintya Nariska sebagai peraih emas serta perak nomor tersebut.

"Di technical meeting juga tidak diangkat sebagai kasus khusus. Jadi bahas lebih banyak tentang [badai] topan," Glenn menjelaskan.

[Gambas:Video CNN]
Glenn menyayangkan kesalahpahaman dari persoalan amandemen aturan ini. Kalau aturan tersebut diketahui sejak awal, modern pentathlon Indonesia akan meminta Dea dan Cintya bersaing sehat demi Merah Putih.

"Anaknya [Cintya] nangis terus. Ini juga kaitannya sama bonus. Semoga diperhatikan sama negara, NOC juga memperhatikan. Karena ini buah perjuangan anak-anak," tutur Glenn.

Kronologi Perak Pentathlon Indonesia Tak Diakui di SEA Games
"Sebagai alternatif, Ketua Umum MPI [Anthony Sunarya] akan memberikan bonus senilai separuh dari nominal bonus pemerintah kepada atlet. Itu janji ketua umum," ujar Glenn.

Pemerintah menjanjikan bonus senilai Rp200 juta kepada atlet yang meraih emas di kategori individu, Rp100 juta untuk perak dan perunggu Rp60 juta.

Sementara itu Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia di SEA Games 2019, Harry Warganegara, membantah tidak memberikan surat perubahan aturan medali dari PHISGOC kepada PB.

"Medali emasnya oke, hanya peraknya saja karena memang ada aturan bahwa per negara hanya bisa satu medali di dua nomor yang disebutkan. Surat amandemen [dari PHISGOC] itu sudah dikirimkan ke PB, manajer harusnya sudah tahu," Harry menegaskan saat dikonfirmasi. (TTF/nva)