Kronologi Kasus Doping Rusia

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 20:03 WIB
Kronologi Kasus Doping Rusia Komite Olimpiade Rusia dihukum WADA. (Photo by Alexander NEMENOV / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia secara mengejutkan mendapat hukuman berat dari Badan Anti-Doping Dunia (WADA) karena masalah doping, Senin (9/12) waktu setempat. Berikut kronologi kasus doping Rusia.

Dikutip dari Sky Sports, WADA memberikan sanksi kepada Rusia dengan tidak boleh tampil di semua ajang olahraga dunia, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022.

Hukuman tersebut dijatuhkan kepada Rusia lantaran Negara Tirai Besi memanipulasi data kasus doping yang tengah diselidiki WADA.


Berikut Kronologi Kasus Doping Rusia:

Pada November 2015 komisi independen yang dibentuk WADA dan dipimpin Dick Pound menemukan 'kecurangan' pada cabor atletik Rusia yang berkolusi dengan badan keamanan negara tersebut.

Usai indikasi itu Federasi Atletik Rusia (RUSAF) dihukum federasi atletik internasional (IAAF), sementara WADA menilai Badan Anti-Doping Rusia (RUSADA) tidak patuh.

Menurut laporan Mei 2016, New York Times memberitakan belasan atlet Rusia yang tampil di Olimpiade Musim Dingin 2014, termasuk 15 peraih medali emas dalam program doping yang dikontrol negara tersebut. Hal itu berdasarkan bukti dari whistleblower Grigory Rodchenkov, direktur laboratorium di Olimpiade Musim Dingin Sochi.

Rusia dihukum berat karena manipulasi data doping.Rusia dihukum berat karena manipulasi data doping. (AP Photo/Pavel Golovkin)
Komisi independen yang dibentuk profesor hukum dan pengacara olahraga asal Kanda, Richard McLaren, mengungkap bukti doping yang menimpa atlet Rusia di Olimpiade Sochi disponsori negara mereka pada Juli 2016.

Kementerian Olahraga Rusia merekomendasikan negaranya dilarang tampil di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. Namun Rusia tetap sukses mendulang 19 emas di Olimpiade tersebut.

Hukuman dijatuhkan kepada Rusia pada Agustus 2017. Rusia dilarang dari kejuaraan atletik, tetapi 19 atlet mereka diizinkan tampil di Kejuaraan Dunia di London sebagai atlet netral.

Empat bulan kemudian, Desember 2017, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menghukum Komite Olimpiade Rusia tampil di Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang pada Februari 2018. Tetapi mengizinkan atlet Rusia tampil sebagai atlet netral selama memenuhi persyaratan bebas doping.

[Gambas:Video CNN]
Sebanyak 168 atlet dari Rusia tampil di Pyeongchang, Februari 2018. Namun kontingen itu berada di bawah bendera Atlet olimpiade dari Rusia (OAR). Sayangnya dua di antaranya (Alexander Krushelnitsky dan bobsledder Nadezhda Sergeeva) gagal lolos tes doping.

Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menerima banding Sergeeva dengan menyebut yang bersangkutan gagal lolos tes doping karena produk yang terkontaminasi.

Di bulan yang sama hukuman Rusia dipulihkan IOC setelah tes terhadap atlet yang tampil Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang dianggap negatif.

Kronologi Kasus Doping Rusia
Meski demikian pada September 2018 komite eksekutif WADA tidak mengembalikan status RUSADA sebelum memenuhi persyaratan, termasuk memberikan akses data yang disimpan di laboratorium anti-doping Moskow.

Pemeriksaan terhadap data doping itu dimulai pada Januari 2019. WADA mengekstraksi data doping termasuk 2.000 lebih sampel dari laboratorium Moskow, tiga minggu setelah batas waktu yang ditetapkan Rusia.

WADA menyebut data yang diberikan RUSADA inkonsistensi pada September 2019. Badan anti-doping itu terancam dapat hukuman lain. IAAF melarang Rusia tampil di Kejuaraan Atletik Dunia di Doha, Qatar.

Ancaman hukuman berat kepada Rusia muncul pada November 2019. Komite Kepatuhan WADA merekomendasikan agar Rusia mendapat larangan dari IOC selama empat tahun sebagai bagian dari paket sanksi karena memberikan data laboratorium yang tidak lengkap kepada lembaga tersebut.

Menteri Olahraga Pavel Kolobkov menyebut perbedaan data itu karena masalah teknis.

Hukuman itu muncul satu bulan setelah rekomendasi Komite Kepatuhan WADA. Pada 9 Desember 2019, Komite Eksekutif WADA memutuskan Rusia dijatuhkan hukuman larangan tampil ajang internasional dalam empat tahun ke depan karena merusak data laboratorium. Sanksi itu berlaku di Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang, dan Piala Dunia 2020 di Qatar. (sry/bac)