Analisis

Kejutan Indonesia di SEA Games 2019 dan Persoalan Klasik

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Jumat, 13/12/2019 16:46 WIB
Kejutan Indonesia di SEA Games 2019 dan Persoalan Klasik Tim voli putra Indonesia meraih medali emas SEA Games 2019. (Dok.CdM)
Jakarta, CNN Indonesia -- SEA Games 2019 di Filipina yang dimulai pada 30 November lalu, telah resmi berakhir pada 11 Desember 2019. Sejumlah kejutan dalam hal target emas di sejumlah cabang olahraga (cabor) tercipta, namun masalah klasik juga masih meliputi Indonesia.

Indonesia finis di posisi keempat klasemen perolehan medali dengan raihan 72 emas, 83 perak dan 111 perunggu. Jumlah tersebut sudah melebihi target perolehan 45-50 medali emas.

Meski demikian posisi empat pun belum mampu meraih target yang diharapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan menempati peringkat kedua klasemen. Indonesia masih berada di bawah tuan rumah Filipina, Vietnam dan Thailand yang menguasai tiga besar Asia Tenggara.


Dalam perjalanannya sebanyak 18 cabang olahraga sukses meraih jumlah medali emas yang diharapkan. Sedangkan tujuh cabor lainnya gagal memenuhi harapan.

Banyak kejutan yang tercipta diiringi rekor-rekor prestasi dari pahlawan olahraga Merah Putih. Namun, ada juga cabang-cabang yang prediksinya meleset dan belum tercapai di SEA Games kali ini tak lain lantaran persoalan klasik: persiapan kurang maksimal.

Kejutan Indonesia di SEA Games 2019 dan Persoalan KlasikPara atlet peraih medali SEA Games 2019 saat menerima bonus di Hotel Grand Sahid. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)
Sebut saja cabang olahraga balap sepeda yang gagal menuntaskan target tiga medali emas. Di nomor MTB Downhill putri, Tiara Andini Prastika mengalami cedera patah di ruas tulang kelingking bagian kiri pada saat latihan sehari sebelum tampil di SEA Games 2019 lalu. Meski dalam kondisi cedera, Tiara masih bisa menorehkan prestasi gemilangnya dengan meraih medali perak.

Kegagalan MTB putra yang menjadi sasaran target medali emas dibayar tuntas Aiman Cahyadi di nomor road race individual time trial putra. Medali emas Aiman sebenarnya tidak masuk target, namun pebalap PGN Racing Road Cycling itu berhasil membuat kejutan.

Akuatik juga hanya mampu meraih dua emas dari target empat medali emas di SEA Games 2019. Satu emas datang dari tim polo air putra yang berhasil mematahkan supremasi Singapura selama ini.

Satu lagi disumbangkan I Gede Siman Sudartawa usai menjadi yang tercepat di nomor 50 meter gaya punggung putra yang digelar di New Clark City Aquatic Arena lewat catatan waktu 25,12 detik. Sedangkan nomor lain, 200 meter gaya punggung putra, 10 kilometer renang terbuka putra serta 100 meter gaya punggung putri gagal emas. Total akuatik membawa pulang dua emas, enam perak, dan tujuh perunggu.

"Ini hasil terbaik kami dengan waktu persiapan aktif yang minim sejak Mei lalu. Persiapan kami terlambat, pemerintah baru mulai memberikan dukungan Mei, sedangkan renang itu cabor strategis tidak bisa persiapan jangka pendek," ucap Albert C Sutanto, pelatih timnas renang kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/12).

Albert menambahkan capaian Siman juga dibubuhi keberuntungan. Pasalnya, Siman sempat mengalami cedera dislokasi punggung pada Desember 2018 yang membuatnya absen latihan sampai April 2019.

Albert menambahkan program latihan yang diberikan untuk Siman pun digenjot langsung ke persiapan khusus. Termasuk ketika timnas akuatik menggelar pemusatan latihan ke Amerika.

Emilia Nova meraih emas SEA Games di nomor lari halang rintang cabor atletik. (Emilia Nova meraih emas SEA Games di nomor lari halang rintang cabor atletik. (Photo by TED ALJIBE / AFP)
"Dukungan telat dan belum bisa memenuhi kebutuhan kami di akuatik yang terdiri dari lima disiplin [renang, polo air, loncat indah, renang indah, dan renang perairan terbuka]. Ini sudah hasil maksimal, banyak rekornas terpecahkan."

"Kalau dibandingkan, Filipina itu enam bulan latihan di luar negeri. Vietnam dan Singapura tahunan latihan di luar negeri dan tidak pernah putus. Malaysia bawa pelatih kelas olimpiade, kami hanya David Armandoni yang kelasnya jauh dari Sergio Lopez Miro yang melatih Joseph Schooling," ujar Albert.

Meski begitu Albert juga mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dan kemudahan yang diberikan pemerintah untuk renang. Ia berharap ke depannya renang yang dianggap sebagai cabor strategis dengan sekitar 35 nomor pertandingan bisa menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah dalam dukungan pembinaannya.

"Renang ini tidak bisa dipukul rata dukungannya seperti cabor lain. Kami berharap pemerintah lebih serius dengan cabor strategis dan Olimpiade seperti kami bisa diprioritaskan supaya bisa berhasil. Singapura saja dengan dukungan luar biasa pemerintahnya bisa dapat 23 emas," ucap Albert.

[Gambas:Video CNN]
Sementara itu beberapa cabor juga menunjukkan keperkasaannya di Asia Tenggara. Bahkan mereka mampu meraup medali yang jumlahnya jauh di atas target.

Sebut saja dayung yang mampu memboyong 10 medali emas dari SEA Games 2019 di Filipina. Atau menembak yang meraih tujuh emas dari tiga yang ditargetkan.

Sekjen Pengurus Besar Persatuan Menembak Seluruh Indonesia (PB Perbakin) Firtian Yuditstiawan mengatakan banyak hal yang dilakukan untuk bisa mencapai prestasi maksimal kali ini. Mulai dari aspek teknis yang didukung pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), sampai aspek non teknis lewat upaya pendekatan dan diplomasi.

"Hasil ini semuanya karena kekuatan doa dan restu dari Tuhan. Tapi di luar itu, kami semua membuat perencanaan. Jadi hasil ini memang sudah direncanakan," kata Yudit.

Dijelaskan Yudit, PB Perbakin sejak Februari 2019 sudah melakukan diplomasi dengan tuan rumah Filipina untuk menawarkan apa yang bisa dibantu Indonesia supaya sukses sebagai penyelenggara. Dari situ, kata Yudit, ia diberi tahu informasi nomor-nomor yang bakal dipertandingkan sekaligus aturan main yang digunakan.

"Tanpa tahu itu, kami akan kesulitan mempersiapkan atlet dan regulasi. Setelah kami tahu baru kami persiapkan atlet. Sebab dari 14 nomor yang dipertandingkan, sembilan di antaranya nomor baru yang belum dipertandingkan," ujar Yudit.

Kejutan Indonesia di SEA Games 2019 dan Persoalan Klasik
Selain itu Yudit yang juga anggota Komite Eksekutif (Exco) di Konfederasi Menembak Asia (ASC) meminta supaya ada juri dari Indonesia yang ikut ambil bagian di SEA Games 2019. Upaya-upaya tersebut yang akhirnya membuat target tiga medali emas yang dipatok bisa meningkat menjadi tujuh.

Selain menembak, boling yang ditarget satu emas juga meraih empat emas. Tidak ingin kalah, angkat besi menorehkan empat emas dari tiga yang diharapkan. Begitu juga judo dan sambo yang ikut menambah kejutan tambahan medali emas buat Indonesia.

Meski demikian, persiapan minim dari sejumlah cabor terutama dengan nomor-nomor yang banyak mendulang emas menjadi evaluasi yang harus dibenahi setiap pemangku kepentingan.

Sokongan pemerintah terutama dalam hal apresiasi atlet berprestasi sudah sangat baik. Kini tinggal dukungan yang lebih maksimal terkait persiapan demi mengangkat prestasi Merah Putih.

Tahun depan Indonesia juga akan ambil bagian di Olimpiade 2020 di Tokyo. Persiapan harus dilakukan sejak dini dan lebih matang lagi dari sejumlah cabor proyeksi medali. Dukungan pemerintah pun harus total memberikan dukungan. (bac)