Ada momen mereka berteriak saling memberi semangat. Namun, dari sudut pandang secara utuh Minions hari itu bukanlah Minions yang dikenal agresif, atraktif, dan bermain dengan penuh keceriaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang era kejayaan Kevin/Marcus, belum ada lawan yang mampu memberi level kesulitan seperti Endo/Watanabe. Ganda Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen memang menghadirkan kesulitan, namun bisa dibobol Kevin/Marcus di tahun yang sama.
Kevin/Marcus sering kalah dari Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. (Dok. Humas PBSI) |
Untuk Endo/Watanabe, Minions benar-benar terkapar tak berdaya. Segala pelajaran dari kekalahan sebelumnya tidak bisa mereka ubah menjadi kemenangan di laga berikutnya. Padahal, sebelum lima kali kalah di tahun ini Minions mampu memenangi dua duel lawan Endo/Watanabe di 2018.
Dengan kondisi tersebut wajar bila ada rasa frustrasi, tidak percaya diri, hingga 'ketakutan' dalam pola permainan yang diperagakan oleh Kevin/Marcus.
Kevin/Marcus yang terbiasa dengan permainan dan serangan cepat butuh tenaga ekstra untuk melumpuhkan lawan. Sebuah permainan tidak bisa mereka menangi hanya dalam 1-2 serangan dan itu terus berulang. Smes Kevin dan Marcus dari baseline kemudian tidak menggigit seperti biasanya.
Kondisi makin sulit karena Endo/Watanabe dikenal punya pertahanan bagus menghadapi serangan smes lawan. Kondisi shuttlecock di Guangzhou sangat menguntungkan mereka dalam duel lawan Minions. Mereka bisa bertahan hingga akhirnya melancarkan serangan balik saat mendapat momentum tepat.
Kekalahan beruntun dari Endo/Watanabe menjadi PR Kevin/Marcus jelang Olimpiade 2020. (Dok. Humas PBSI) |
Kalah tidak pernah jadi momen yang baik, namun kekalahan bisa membuat seseorang berubah menjadi lebih baik.
Kekalahan beruntun dari Endo/Watanabe ini bakal jadi PR terbesar bagi Minions memasuki tahun Olimpiade di 2020. Kevin/Marcus tentu tak bisa hanya berharap Endo/Watanabe sedang dalam performa buruk atau berdoa ganda Jepang itu lebih dulu kalah sebelum berjumpa mereka.
Aspek Fisik juga kemudian jadi hal yang krusial. Dengan pola serangan yang tak bisa mematikan musuh dalam 2-3 pukulan seperti biasa, mereka tentu butuh dukungan fisik yang lebih mumpuni untuk menunjang konsistensi dan 'daya ledak' serangan mereka untuk waktu yang lebih lama.
Selain aspek teknik, kepercayaan diri Kevin/Marcus dalam duel berikutnya lawan Endo/Watanabe juga harus ditata ulang. Mereka tak boleh merasa inferior di hadapan Endo/Watanabe karena sejatinya Minions masih merupakan ganda paling superior di dunia.
Di tengah kegagalan merebut tiga gelar besar tahun ini: All England, Kejuaraan Dunia, dan BWF World Tour Finals, Minions masih jadi ganda terbaik dalam perhitungan gelar lewat raihan delapan turnamen.
[Gambas:Video CNN]
Mengacu pada nama-nama yang sama dari turnamen ke turnamen, artinya Kevin/Marcus tetap jadi ganda putra paling konsisten tahun ini. Belajar dari kekalahan terkadang lebih menyenangkan daripada melakukan evaluasi pada kemenangan.
Kevin/Marcus harus ingat ganda putra Indonesia yang jadi juara Olimpiade juga pernah punya ketakutan dan kekhawatiran serupa sebelum merebut medali emas dan berdiri di podium tertinggi.
Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky saat itu mengaku gentar menghadapi Rudy Gunawan/Bambang Suprianto jelang Olimpiade Atlanta 1996. Candra Wijaya/Tony Gunawan sulit menang lawan ganda Korea Selatan setahun sebelum mereka berjaya di Olimpiade Sydney 2000.
Kevin/Marcus bisa berkaca dari hal itu dan mengulang hal yang sama karena mereka punya potensi besar untuk melakukannya. Kalah selalu jadi momen yang tidak baik, namun kekalahan dari Endo/Watanabe bisa membuat Minions jadi ganda putra yang jauh lebih baik. (har)
Kevin/Marcus sering kalah dari Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. (Dok. Humas PBSI)
Kekalahan beruntun dari Endo/Watanabe menjadi PR Kevin/Marcus jelang Olimpiade 2020. (Dok. Humas PBSI)