KALEIDOSKOP 2019

'Wajah-wajah' Timnas Indonesia yang Tak Berubah

CNN Indonesia | Selasa, 31/12/2019 12:54 WIB
'Wajah-wajah' Timnas Indonesia yang Tak Berubah Timnas Indonesia terpuruk di Kualifikasi Piala Dunia 2022. (KAMARUL AKHIR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada yang berubah dari 'wajah-wajah' Timnas Indonesia mengakhiri 2019. Para penggawa di Timnas Indonesia usia muda masih menjadi primadona. Sebaliknya, skuat senior Garuda 'babak belur'.

Pencapaian pasukan junior lebih mentereng dibandingkan para senior mereka di ajang internasional. Sebut saja Timnas Indonesia U-16, U-19 hingga U-23 di SEA Games, tampil cukup impresif di kompetisi bergengsi.

Timnas Indonesia U-16 sukses memastikan tiket Piala Asia U-16 2020 di Bahrain. Skuat arahan Bima Sakti menjadi runner-up Grup G pada laga yang dilangsungkan di Jakarta.


Marselino Ferdinand dan kawan-kawan tak terkalahkan di fase grup. Mereka tercatat tiga kali menang dan hanya sekali imbang tanpa gol melawan China.

Skuat Garuda Asia sama-sama mengumpulkan 10 poin dengan China, namun kalah selisih gol. Timnas Indonesia U-16 juga menorehkan kemenangan dengan skor yang cukup fantastis. Mereka mengalahkan Filipina 5-1, membantai Kepulauan Mariana Utara 15-1, dan menghajar Brunei Darussalam 8-0.

Timnas Indonesia U-23 meraih medali perak di SEA Games 2019.Timnas Indonesia U-23 meraih medali perak di SEA Games 2019. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Penyerang Timnas Indonesia U-16, Marselino Ferdinan, tercatat berada di peringkat kedua daftar top skor kualifikasi Piala Asia U-16. Ferdinan mengemas tujuh gol atau hanya satu gol lebih sedikit dari striker Tajikistan, Abdulfatohi Khudoidodzoda.

Di Piala AFF U-16 pencapaian mereka memang kurang imppresif, yakni hanya sampai semifinal. Timnas Indonesia U-16 kalah 0-2 dari Thailand pada fase tersebut. Meski demikian, Garuda Asia mampu meraih posisi ketiga setelah mengalahkkan Vietnam 2-0.

Pencapaian identik juga diraih Timnas Indonesia U-19. Skuat arahan Fakhri Husaini tak mampu menembus final Piala AFF U-18 2019 di Vietnam. Bagus Kahfi dan kawan-kawan kalah 2-3 dari Malaysia pada laga semifinal melalui babak tambahan waktu. Pada perebutan peringkat ketiga, Timnas Indonesia U-19 mampu menghancurkan Myanmar dengan skor telak 5-0.

'Wajah-wajah' Timnas Indonesia yang Tak Berubah
Sama halnya dengan para juniornya, prestasi Timnas Indonesia U-19 lebih mentereng di kualifikasi Piala Asia U-19 2020. Mereka memastikan lolos ke putaran final.

Indonesia U-19 memastikan lolos sebagai juara Grup K yang dilangsungkan di Jakarta. Kepastian itu didapat setelah mereka bermain imbang 1-1 lawan Korea Utara. Merah Putih unggul dua poin atas Korea Utara yang menempati posisi runner-up.

Timnas Indonesia U-19 lolos meski harus memikul beban gengsi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Dengan status sebagai tuan rumah Indonesia tak perlu lagi menargetkan empat besar Piala Asia U-19 2020. Kendati demikian, tiket putaran final Piala Asia U-19 jadi pembuktian bahwa Indonesia memang layak menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021.

Sukses manis juga diikuti Timnas Indonesia U-23 pada ajang SEA Games 2019 di Filipina. Meski gagal mengulang torehan emas seperti pada SEA Games 1991 di Manila, pencapaian skuat besutan Indra Sjafri bisa dibilang mengalami kemajuan signifikan dari SEA Games edisi sebelumnya.

Andy Setyo Nugroho dan kawan-kawan mampu menyabet perak di ajang SEA Games 2019. Garuda Muda melangkah ke final setelah mengalahkan Myanmar 4-2 di semifinal melalui babak tambahan waktu.

Merah Putih dihajar Vietnam dengan skor 3-0 sehingga harus puas dengan medali perak. Itu merupakan kekalahan kedua mereka setelah pada fase grup takluk 1-2 di Grup B. Raihan perak tentu lebih baik ketimbang di SEA Games 2017. Saat itu Timnas Indonesia U-23 hanya mampu meraih medali perunggu.

[Gambas:Video CNN]
Skuat yang waktu itu ditukangi Luis Milla kalah 0-1 dari Malaysia pada laga semifinal. Pada laga perebutan medali perunggu, Garuda Muda mengalahkan Myanmar 3-1.

Yang lebih mengesankan pada SEA Games 2019, Indonesia tak lagi menggunakan pemain naturalisasi seperti pada 2017. Pada SEA Games 2017, Timnas Indonesia U-23 menyertakan nama pemain naturalisasi asal Belanda: Ezra Walian.

Prestasi gemilang Timnas Indonesia di level junior, bertolak belakang dengan skuat senior. Timnas Indonesia babak belur di kualifikasi Piala Dunia 2022. Merah Putih masih berada di dasar klasemen Grup G zona Asia.

Pada laga perdana Stadion Gelora Bung Karno, 5 September, skuat Garuda dikalahkan Malaysia 2-3. Berikutnya masih di laga kandang Timnas Indonesia dipermalukan Thailand 0-3.

Andritany Ardhiyasa dan kawan-kawan dibantai Uni Emirat Arab 0-5 pada laga tandang mereka. Berikutnya di Jakarta, Vietnam menghajar Merah Putih dengan skor 1-3.

Kebijakan pelatih saat itu, Simon McMenemy, yang 'mengangkut' sejumlah nama pemain naturalisasi sempat mendapatkan kritikan. Sebut saja Osas Saha, Greg Nwokolo, dan Beto Goncalves yang usianya tak lagi muda.

Nama-nama pemain naturalisasi di lini depan itu terbukti tak mampu menambah daya gedor Timnas Indonesia. Dari lima laga yang sudah dilakoni, Garuda hanya mencetak tiga gol. Jumlah itu yang paling sedikit di Grup G. Sebaliknya, skuat Merah Putih jadi tim yang paling banyak kebobolan di grup yaitu 16 gol.

Hasil-hasil memalukan tersebut juga membuat McMenemy terlempar dari kursi kepelatihan. Indonesia kini masih tertahan di posisi 173 peringkat dunia berdasarkan rekapitulasi FIFA per Desember. Garuda satu tingkat di bawah Mauritius dan hanya setingkat di atas Kamboja.

Di Asia Tenggara, peringkat Indonesia bahkan lebih rendah dari Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Filipina. Masalah di Timnas Indonesia pun masih tak berubah. Persoalan hanya berkutat pada tidak seiramanya agenda skuat Garuda dengan jadwal kompetisi Liga 1 seperti yang pernah dikeluhkan McMenemy.

Kini PSSI mengambil langkah merekrut Shin Tae Yong untuk melatih Timnas Indonesia dan U-20 yang dipersiapkan menuju Piala Dunia U-20 2020. (bac/har)