Badminton Diramal Butuh Keajaiban Raih Emas Olimpiade 2020

CNN Indonesia | Minggu, 26/01/2020 11:05 WIB
Badminton Diramal Butuh Keajaiban Raih Emas Olimpiade 2020 Jonatan Christie salah satu andalan Indonesia di cabang olahraga badminton. (dok. PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun Baru Imlek 2571 yang merupakan tahun Tikus Logam diramalkan bukan menjadi tahun yang baik buat badminton Indonesia di Olimpiade 2020 Tokyo.

Meski dalam astrologi China Tikus Logam menandakan kemakmuran, tetapi itu tidak serta merta menyertai prestasi badminton Indonesia. Master Feng Shui dari Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang meramalkan bulutangkis belum mampu untuk melanjutkan tradisi perolehan medali emas buat Indonesia di Olimpiade 2020 Tokyo.

Pada Olimpiade 2020, badminton digelar mulai 25 Juli sampai 3 Agustus di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo. Banyak tanggal di antara jadwal itu bertepatan dengan ciong atau kesialan hoki dari Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Indonesia (PP PBSI) Wiranto.


Yulius Fang melihat Wiranto memiliki banyak tekanan dan stres akibat reputasinya yang kurang baik, sehingga berpengaruh pada kepemimpinannya di PBSI. Ia mengatakan Wiranto bakal menanggung reputasi jelek dari prestasi bulutangkis yang tidak bagus di Olimpiade kelak.

Badminton Butuh Keajaiban Raih Emas Olimpiade Ketua Umum PBSI, Wiranto (kanan), memiliki peranan dalam perhitungan hoki atlet badminton di Olimpiade 2020. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
"Tahun Tikus Logam tahun yang kurang bagus buat Wiranto. Banyak yang bilang ke dia, prestasi bulutangkis bisa ini, bisa itu tapi kenyataannya gembos. Dia kurang dapat pengakuan dan bulan Juli, saat Olimpiade adalah bulan stres dia," ucap Yulius Fang kepada CNNIndonesia.com.

Pebulutangkis Indonesia disebut Yulius Fang banyak yang tampil tidak dalam performa terbaik di tanggal-tanggal yang bentrok dengan elemen-elemen yang dibutuhkan Wiranto, yakni api, tanah dan kayu.

"Bulutangkis butuh kerja keras dan kalau saya bilang butuh keajaiban untuk bisa bawa pulang medali emas. Setidaknya di dua sampai tiga hari awal pertandingan masih bisa oke. Asumsi saya, wakil Indonesia sebelum semifinal sudah gugur. Perempat final saja sudah out," ungkapnya.

Meski begitu Yulis Fang menyatakan hal itu masih belum bisa diukur dari hoki masing-masing individu atlet yang nantinya lolos kualifikasi ke Olimpiade 2020. Babak kualifikasi masih terus berlangsung sampai batas akhir di Kejuaraan Asia Bulutangkis di Wuhan China pada April mendatang.

[Gambas:Video CNN]
"Banyak faktor, salah satunya karena peruntungan Wiranto tidak bagus di tahun Tikus Logam. Butuh hoki dan keberuntungan yang besar dari masing-masing pemain maupun pelatihnya masing-masing. Kalaupun bisa lolos ke final itu susah payah dan sepertinya peruntungannya tetap tidak bisa menang," sebut Yulius Fang.

Dari rangkaian gelaran Olimpiade yang pernah diikuti, Indonesia tercatat sudah meraih tujuh medali emas yang semuanya disumbangkan cabor badminton. Selain itu, bulutangkis juga menyumbangkan enam perak dan enam perunggu.

Badminton Butuh Keajaiban Raih Emas Olimpiade
Cabor lain yang juga pernah menyumbangkan medali yakni angkat besi dengan enam perak dan enam perunggu. Selain itu panahan dengan satu perak.

Pada 2016, Indonesia berhasil mengembalikan tradisi medali emas Olimpiade di Rio de Janeiro, Brasil dari cabor badminton melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Hasil itu mengobati pilu saat Olimpiade 2012 London, ketika Indonesia untuk pertama kalinya gagal meraih medali emas badminton di Olimpiade. (ttf/har)