TESTIMONI

SBKRI dan Cinta Mati Ivana Lie untuk Indonesia

Ivana Lie, CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 19:07 WIB
Ivana Lie harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan SBKRI. (CNN Indonesia/Juprianto Alexander)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama karier saya sebagai pemain nasional selama 13 tahun, lebih dari belasan gelar saya raih di turnamen badminton internasional. Mulai dari gelar di nomor tunggal putri, ganda putri, bahkan sampai nomor ganda campuran berhasil saya juarai.

Gelar-gelar yang saya raih tersebut merupakan buah dari kerja keras dalam karier saya yang sempat diwarnai persoalan kewarganegaraan.

Saya berasal dari keluarga etnis Tionghoa dengan latar belakang ekonomi sulit. Ibu saya adalah seorang warga negara asing dan sejak usia sekitar tujuh tahun saya sudah ditempa dengan hidup yang keras karena perubahan situasi ekonomi.


Seringkali kami bisa makan untuk hari ini saja dan keesokan harinya belum tentu ada. Itu pun kami belum tentu makan tiga kali sehari dengan lauk pauk lengkap. Bisa dibilang saya, kakak, adik, dan ibu hanya berpikir hidup untuk hari ini pada waktu itu.

Pindah dari rumah kontrakan satu ke tempat lain juga jadi hal yang lazim. Kami sekeluarga pernah dimaki-maki karena telat bayar rumah kontrakan bahkan pernah pula diusir karena tidak sanggup bayar cicilan.

Biaya untuk sekolah saya juga ikut terkendala dan sempat tertunggak berbulan-bulan. Kami semua mesti bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan agar saya bisa tetap menempuh pendidikan dengan baik.

Ivana Lie salah satu legenda badminton Indonesia.Ivana Lie salah satu legenda badminton Indonesia. (CNN Indonesia/Juprianto Alexander)
Ibu saya dulu sering membuat kue dan kami anak-anak yang membantu untuk menjajakannya. Begitu musim layang-layang tiba, saya membantu kakak saya untuk membuat layang-layang.

Saya sampai sekarang ingat bagaimana cara membuat layang-layang. Mulai dari membuat rangka, memasang rangka, hingga merekatkan kertas layang-layang.

Setelah layang-layang jadi, saya membantu kakak saya menjual layang-layang tersebut. Apapun dikerjakan kami semua untuk bertahan hidup.

Dalam keterbatasan itu, saya beruntung bisa mengenal olahraga badminton. Di zaman itu, olahraga badminton sangat populer.

Suatu waktu saya pernah menyaksikan Rudy Hartono diarak bak pahlawan saat jadi juara sebuah kejuaraan dari televisi tetangga. Saya menonton dari televisi tetangga karena kami tidak punya televisi di rumah.

SBKRI dan Cinta Mati Ivana Lie untuk Indonesia
Salah satu kakak saya juga cakap memainkan olahraga ini tetapi terkendala kondisi kesehatan. Dari mereka ini saya mendapatkan inspirasi untuk menekuni badminton.

Saya belajar dengan peralatan ala kadarnya, lebih sering menggunakan papan. Sewaktu kelas enam SD, ada kejuaraan antarsekolah. Momen jelang kejuaraan itu jadi yang kali pertama saya berlatih menggunakan raket badminton. Singkat cerita saya ikut kejuaraan dan menang.

Prestasi saya diapresiasi pihak sekolah dengan memberikan keringanan untuk bayar sekolah. Dari sana saya semakin termotivasi karena kalau saya bisa jadi juara maka saya bisa meringankan beban orang tua.

Saat duduk di bangku SMP, mungkin karena sudah jalan dari Tuhan, klub Mutiara [Bandung] pindah ke dekat rumah. Jaraknya sekitar satu kilometer.

Saya lantas diajak teman untuk masuk ke sana meski tidak benar-benar bisa rutin berlatih. Saya sering bolos karena tidak punya uang bayar shuttlecock untuk latihan.

Karena pelatih Mutiara melihat saya punya semangat akhirnya biaya latihan saya seluruhnya ditanggung. Baru setelah itu saya bisa rutin latihan tanpa perlu memikirkan soal biaya.

Sekitar tiga tahun berlatih di klub, saya terpilih masuk pelatnas melalui mekanisme talent scouting. Waktu itu saya masih 16 tahun. Di pelatnas saya bekerja lebih keras dari teman-teman yang lain. Jika teman hanya dua kali latihan sehari maka saya bisa tiga kali latihan sehari.

Ivana Lie berbicara langsung kepada Presiden Kedua RI Soeharto mengenai SBKRI.Ivana Lie berbicara langsung kepada Presiden Kedua RI Soeharto mengenai SBKRI. (JOHN MACDOUGALL / AFP)
Dalam hati kecil selalu ada keresahan kapan saya bisa jadi juara. Saya juga selalu ingat pesan-pesan motivasi koh Rudy [Hartono]. Beliau bilang: "Kalau mau menang harus bekerja lebih keras. Kalau orang lain lari dua jam maka kamu harus lari empat jam."

Potret wajah ibu saya di masa lalu juga yang selalu menguatkan ketika merasa capek dan jenuh. Sering saat momen waktu kami susah, waktu di mana hari ini beras ada dan besok tidak ada, ibu saya membuat sesuatu sambil menangis.

Potret dari kecil itu tergambar jelas bahkan sampai sekarang. Hingga kini saya kerap menitikkan air mata jika mengingat momen-momen tersebut.

Tahun 1976 jadi awal mula persoalan status kewarganegaraan saya. Saya tidak bisa berangkat ke kejuaraan junior Asia karena masalah ini. Begitu batal berangkat saya tak berhenti menangis. Rasa bangga karena akan berangkat ke luar negeri dan bisa memakai jaket kontingen Indonesia mendadak sirna.

Persoalan kewarganegaraan itu tak kunjung selesai hingga lima tahun walau dibantu PBSI dan KONI. Selama lima tahun bolak-balik ke luar negeri membela Indonesia saya menggunakan selembar kertas seperti surat jalan pengganti paspor yang menyatakan bahwa saya adalah warga negara Indonesia.

Dalam kurun waktu lima tahun itu saya banyak meraih gelar dari SEA Games, Asian Games, hingga runner up Kejuaraan Dunia 1980. Berada di luar negeri, saya merasa jadi warga negara Indonesia seutuhnya.

Di masa itu masalah yang saya alami diberitakan pula di media-media Singapura dan Malaysia. Bahkan, Singapura sempat menawarkan saya untuk pindah ke Singapura mengingat status saya yang tidak jelas.

[Gambas:Video CNN]
Tetapi saya menolak karena tidak pernah berpikir untuk berganti warga negara. Saya lahir di sini dan keluarga saya ada di sini. Uang yang saya dapatkan memang tidak berlebih tetapi saya berpikir kenapa saya harus pindah ke negara lain pada waktu itu.

Saya juga masih ingat dengan baik momen akhirnya dapat Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Waktu itu tim Piala Thomas dan Uber diterima Presiden Kedua RI Soeharto di Istana Negara, beberapa bulan sebelum Asian Games.

Saya bilang ke Pak Harto bahwa saya enggak punya KTP saat sesi tanya jawab karena status warga negara yang tidak jelas. Beliau sempat heran dan kemudian tak berapa lama tersenyum. Pak Harto memastikan urusan SBKRI saya akan dibantu.

Sekitar enam atau tujuh bulan saya dipanggil mantan Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono. Almarhum memberikan SBKRI yang saya nanti cukup lama.

Mungkin kalau saya enggak bicara sama Pak Harto, berbicara dengan orang nomor satu di Indonesia, belum tentu keluar juga SBKRI keluar. Pada waktu itu mengurus SBKRI itu rumit karena situasi politik dan biayanya juga mahal.

Begitu SBKRI keluar perasaannya benar-benar lega karena sekian lama saya merasa seakan tidak diakui sebagai warga negara. Waktu itu kedua kaki saya rasanya benar-benar menginjak bumi setelah selama ini terasa timpang.

Manusia perlu eksistensi dan itu yang tidak saya miliki saat berstatus tanpa warga negara. Padahal masyarakat begitu menghargai prestasi yang berhasil saya raih.

Emas Asian Games 1982

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2