Quartararo dan Rossi, Fan yang Menggusur Sang Idola

CNN Indonesia | Kamis, 30/01/2020 10:46 WIB
Fabio Quartararo mengidolakan Valentino Rossi, tetapi kini pemuda Prancis itu sukses menggusur posisi The Doctor dari tim pabrikan Yamaha. Fabio Quartararo sukses menggusur Valentino Rossi dari tim pabrikan Yamaha. (GIUSEPPE CACACE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fabio Quartararo mengidolakan Valentino Rossi, tetapi kini pemuda Prancis itu berhasil menggusur posisi The Doctor dari kursi tim pabrikan Yamaha di MotoGP.

Quartararo adalah salah satu pebalap muda yang terinsipirasi oleh keberadaan Rossi di lintasan MotoGP . Aksi-aksi Rossi yang mendunia selama belasan tahun di ajang balap motor dunia memang menjadi daya tarik bagi banyak orang, terlebih bagi mereka yang memilih jalur hidup sebagai pebalap.

Saat Rossi mulai menapaki podium juara di balap motor, Quartararo baru lahir. Ketika The Doctor mulai akrab dengan gelar juara, di situlah kemungkinan rasa Quartararo kepada Rossi mulai muncul.


"Dia [Rossi] adalah idola saya. Ketika saya masih kecil, dia banyak sekali menang. Dia adalah pebalap yang banyak memengaruhi saya," kata Quartararo pada akhir tahun lalu dikutip dari GPOne.

Setelah gelar juara dunia pada 2009, Rossi tak benar-benar pudar. Hanya saja ia mulai berangsur-angsur tergusur dari podium juara dunia. Jorge Lorenzo dan Marc Marquez mulai mengambil alih posisinya.

Quartararo dan Rossi, Fan yang Mengancam Sang IdolaValentino Rossi menjadi pebalap senior di musim 2020. (AP Photo/Petr David Josek)
Kendati demikian Rossi masih tak kenal menyerah melanjutkan perjalanan karier, bersaing dengan pebalap yang jauh lebih muda.

Musim lalu, Quaratararo merupakan salah satu 'anak kemarin sore' yang turut bersaing dengan Rossi. Sang penggemar benar-benar mewujudkan mimpi bersaing dengan sosok yang diidolakannya.

Pebalap dengan julukan 'El Diablo' atau 'Si Iblis' itu seperti mewujudkan kata-kata inspirasi yang berbunyi, 'bekerja keraslah sampai idola Anda menjadi pesaing Anda.'

Mengawali karier sejak 4 tahun, Quartararo kemudian tampil di ajang yang kerap menjadi jalur sukses pebalap MotoGP yang bernama balapan CEV. Setelah merajai CEV pada musim 2013 dan 2014, Quartararo tampil di kelas Moto3.

[Gambas:Video CNN]

Pada waktu itu Quartararo masih 15 tahun, atau setahun lebih muda ketimbang peraturan batas usia minimum pebalap Moto3, namun pihak penyelenggara Moto3 memberi dispensasi.

Tidak ada gelar juara bagi Quartararo di Moto3 2015. Setahun berselang, pebalap yang mendapat julukan 'The Next Marc Marquez' itu pun kembali tak mampu menyabet gelar.

Tanpa prestasi signifikan, Quartararo kemudian naik kelas ke Moto2 pada 2017. Lagi-lagi kemampuan kompetitif pebalap kelahiran Nice itu belum terlihat dan hanya menempati peringkat ke-13. Semusim kemudian, Quartararo tampil lebih baik dan finis di peringkat ke-10.

Meski tidak terlalu cemerlang, kepercayaan dari tim Yamaha Petronas datang untuk pada musim 2019. Quartararo menjadi salah satu pebalap debutan di kelas bergengsi.

Berbeda dengan kiprah di dua kelas sebelumnya, Quartararo tampil apik pada musim perdana di MotoGP. Penampilannya menanjak setelah menempati peringkat kedua di MotoGP Catalunya. Lima kali runner up dan dua kali menempati peringkat tiga menjadi modal penting Quartararo masuk posisi lima besar.

Quartararo mengungguli Rossi, sosok pujaan sedari kecil, yang hanya menempati peringkat ketujuh pada klasemen akhir.

"Saya pernah memimpikan membalap bersamanya dan impian itu telah menjadi kenyataan. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Kita lihat yang akan terjadi ke depannya," ujar Quartararo pada akhir tahun lalu, jauh sebelum menandatangani kontrak dengan tim pabrikan Yamaha.

Quartararo kini telah dipastikan berdiri sebagai pebalap pabrikan. Ia menggusur Rossi, sang idola, yang masih bingung menentukan masa depan di MotoGP. (nva/ptr)