Virus Corona Mulai Ganggu Psikologis Pemain Liga 1

CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 19:54 WIB
Psikologis pemain klub promosi Liga 1 Persita Tangerang, Edo Febriansyah, mulai terganggu karena pandemi virus corona. Edo Febriansyah (kanan) sedang menikmati momen karier di Liga 1. (Dok. Persita Tangerang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dampak dihentikannya kompetisi Liga 1 2020 karena pandemi virus corona mulai dirasakan para pemain, salah satunya bek Persita Tangerang, Edo Febriansyah.

Edo tidak menyangka jika kompetisi musim ini yang dianggapnya spesial terhenti cukup lama. Liga 1 mulai dihentikan karena wabah virus corona pada 16 Maret.

Pada pekan lalu, PSSI mengeluarkan pengumuman resmi, penundaan Liga 1 dan Liga 2 2020 diperpanjang hingga Mei karena masa darurat Covid-19. Bahkan, jika situasi darurat itu berlanjut hingga Juni, maka kompetisi dihentikan total.


Mental Edo terpukul karena penghentian itu. Bukan karena tidak mendapat bayaran dari klub akibat Persita kehilangan pemasukan setelah tidak melakoni pertandingan.

Melainkan kesempatan emas yang didapat pemain 22 tahun tersebut bersama Pendekar Cisadane di musim 2020. Dalam tiga pertandingan awal Liga 1 2020, pelatih Widodo C Putro kerap memberikan kepercayaan kepada Edo dengan tampil sebagai starter.

Dalam kesempatan yang dimilikinya, Edo selalu berusaha tampil maksimal menjalankan instruksi pelatih. Salah satunya sukses mencetak gol ke gawang PSM Makassar di Stadion Benteng Taruna, 6 Maret.

Edo Febriansyah (kanan) rindu berengkraman dengan rekan setim.Edo Febriansyah (kanan) rindu bercengkrama dengan rekan setim. (Dok. Persita Tangerang)
Kini Edo hanya bisa pasrah mengenang momen-momen indah latihan bersama Persita sekaligus menjaga kondisi tubuhnya dengan berlatih mandiri di rumah.

Meski bosan, namun Edo tak lagi punya pilihan. Berada di kampung halamannya di Kediri, Jawa Timur, tidak lantas menyelesaikan persoalan di mentalnya.

"Sedih karena liga vakum enggak tahu sampai kapan. Efeknya jadi tidak nyaman ke psikologis. Sudah mulai jenuh juga. Mau apa, mau ke mana-mana sepi jadi was-was. Rutinitas latihan apapun jadi berhenti," ucap Edo kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/4).

[Gambas:Video CNN]

Edo tak menyangka kepulangannya ke Kediri untuk mengisi waktu berujung pada libur panjang yang belum pasti sampai kapan selesai. Padahal mulanya, manajemen hanya memberikan jatah libur sepekan dari dua minggu jeda waktu libur kompetisi karena FIFA Matchday.

Pemikiran Edo saat ini sama dengan yang dimiliki orang-orang, termasuk di seluruh dunia, yaitu wabah virus corona ini bisa segera berakhir, dan kompetisi kembali bergulir.

Edo rindu dengan rutinitasnya di latihan. Dia kangen dengan tawa canda rekan setimnya, dia juga butuh instruksi tegas pelatih Widodo C Putro. Kebosanan yang dialaminya saat ini membuat Edo menganggap wabah Covid-19 sebagai malapetaka.

Virus Corona Mulai Sentuh Psikologis Pemain Liga 1
"Bagaimana juga ini musibah, jadi tidak mungkin juga tidak ditunda [kompetisi]. Jadi jalani saja semuanya," ucap Edo.

"Ada perasaan sedih, kenapa wabah ini harus terjadi di tahun pertama saya main di Liga 1, setelah tiga pertandingan," tutur Edo menambahkan.

Kesedihan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta itu bertambah ketika manajemen Persita hanya memberikan 10 persen gaji karena krisis ini. Angka itu membuat Edo mengelus dada. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dari arahan PSSI agar stiap klub memberikan 25 persen gaji dari nilai kontrak.

Virus Corona Mulai Sentuh Psikologis Pemain Liga 1
"Saya tidak bisa komentar soal itu. Saya bersyukur saja apa yang sudah diberikan ke saya," ujar Edo.

Edo tak punya pilihan selain pasrah dan bersyukur. Pasrah menunggu wabah berakhir dan kompetisi kembali bergulir, serta bersyukur dengan rezeki Tuhan.

Diakui Edo, penghasilannya di Persita paling besar dalam karier sepak bolanya. Ditambah lagi, ia memiliki pemasukan dari statusnya sebagai bagian dari PPLM (Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa) bentukan Kemenpora.

Pundi-pundinya bertambah karena mendapatkan honor bulanan dari UNJ. Di kampus itu juga Edo mendapatkan beasiswa.

"Ini tahun terakhir saya kuliah. Sedang skripsi, semua juga jadi hancur gara-gara corona. Semua kegiatan kuliah online, jadwal sidang [skripsi] Agustus juga belum tahu kelanjutannya."

"Ada sih bisnis kecil-kecilan buka angkringan di dekat rumah yang pegang kakak. Ahamdulillah sekarang masih lumayan rame. Keluarga juga mau bagaimana lagi, disyukuri saja yang penting," tutur Edo. (TTF/sry)

[Gambas:Video CNN]