WAWANCARA EKSKLUSIF

Edgar Xavier: Kepergian Ayah Buat Saya Lebih Menghargai Waktu

CNN Indonesia | Jumat, 24/04/2020 19:06 WIB
Atlet wushu putra Indonesia Edgar Xavier tampil dalam final taolu daoshu/gunshu combine putra SEA Games 2019 di World Trade Center, Manila, Filipina, Senin (2/12/2019). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama. Atlet wushu Edgar Xavier Marvelo coba memetik hikmah dari pandemi covid-19. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peraih medali emas SEA Games 2019 Filipina dari cabang olahraga (cabor) wushu, Edgar Xavier Marvelo, teringat sosok mendiang ayah di tengah pandemi virus covid-19.

Edgar mengaku kepergian sang ayah kini membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Sesuatu yang diakui Edgar jarang dilakukan sebelumnya karena kesibukan sebagai atlet.

Edgar coba memetik hikmah dari bencana yang sedang terjadi. Ia jadi memiliki waktu yang lebih banyak untuk bercengkerama dengan keluarga, termasuk belajar membuat kue dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Di luar itu, Edgar masih tetap rutin latihan mandiri di rumah. Peraih tiga medali emas Kejuaraan Dunia Wushu 2019 itu sadar berakhirnya pandemi virus corona di Indonesia, salah satunya bergantung pada kedisiplinan masyarakat dengan tetap beraktivitas dari rumah.


Berikut wawancara khusus CNNIndonesia.com dengan Edgar terkait kondisi saat ini, aktivitas di rumah, dan target ke depan.

Kegiatan apa saja yang Anda lakukan selama berada di rumah?

Sebenarnya yang penting itu mengikuti anjuran pemerintah karena misinya adalah memperbaiki keadaan di Indonesia supaya sembuh dari wabah virus corona. Kalau masih ada yang bandel keluar rumah, berkumpul, menurut saya itu yang buat pandemi makin parah.

Kalau semua bisa menuruti anjuran pemerintah, saya yakin sedikit lagi pandemi ini selesai. Karena ini dimulai dari kita sendiri.

Saya sudah sebulan tidak kemana-mana. Paling mentok saya ke supermarket beli bahan-bahan kebutuhan sehari-hari.

Apakah masih rutin latihan wushu meski di rumah saja?

Di rumah masih latihan dengan dengan alat seadanya, ruang seadanya. Latihan jadi kurang maksimal tapi tujuannya buat jaga kondisi badan agar tetap fit. Sebab kalau kita rutin berolahraga, imunitas tubuh kita jadi kuat.

Pelatnas maupun Pelatda sesuai imbauan KONI DKI, Diaspora dan pelatih minta kita latihan mandiri di rumah. Sekarang saya tiap latihan direkam dan dikirim ke pelatih.

Kirim video ini juga sekaligus buat bentuk absen. Jadi walaupun latihan mandiri di rumah tetap ada tanggung jawab sebagai atlet yang harus dilakukan.
Edgar Xavier fokus berlatih meski di rumah.Edgar Xavier fokus berlatih meski di rumah. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Latihan yang dilakukan sekarang untuk persiapan ke mana?

Ada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2022, ada World Cup di Jepang yang harusnya November 2020 tapi diundur ke 2022.

Saya ditargetkan DKI dapat medali emas di PON. Di World Cup Jepang itu yang bisa main adalah atlet yang masuk delapan besar di Kejuaraan Dunia 2019 lalu.

Kebetulan saya di Kejuaraan Dunia di Shanghai, Cina 2019 lalu saya dapat tiga emas dari target dua emas. Jadi di World Cup saya dikasih target sama seperti di Kejuaraan Dunia, yakni dua emas.

Apa target yang masih ingin dicapai?

Realistis yang pasti Asian Games 2022 atau Asian Games 2026 ikut lagi. Tapi sebenarnya dari dulu waktu kecil saya pengen banget dapat medali di Olimpiade. Tapi wushu belum masuk cabang olahraga yang tampil di Olimpiade.

Kabar baiknya, di Olympic Youth 2022 wushu sudah masuk. Jadi sekarang berdoa semoga dalam waktu dekat wushu bisa masuk di Olimpiade.
Edgar Xavier: Kepergian Ayah Buat Saya Lebih Menghargai WaktuEdgar Xavier Marvelo coba menyibukkan diri di rumah dengan melakukan banyak hal. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

Instruksi PSBB membuat Edgar merasa kangen ayah di rumah?

Pasti rasa kehilangan itu ada dan masih bakal selalu kehilangan sosok papa. Ini di rumah terus biasanya ada papa, tapi sekarang enggak.

Kehilangan papa buat saya jadi belajar untuk lebih menghargai waktu bersama keluarga. Sekarang sebisa mungkin saya menghabiskan waktu sama mama, cici dan koko.

Atlet itu jarang banget punya waktu lama bersama keluarga. PSBB ini memberikan sisi positif buat atlet yang jarang di rumah untuk berkumpul dengan keluarga. Jadi ini waktu yang sangat berharga banget.

Apakah sudah mulai bosan dan rindu latihan wushu bersama teman-teman?

Kalau bosan latihan sih enggak karena kan walaupun di rumah masih tetap latihan intensif juga. PSBB ini seperti waktu yang pas dan tepat buat saya karena sudah lama kan ada cedera sedikit-sedikit yang masih bisa ditahan dan kadang ganggu performa maupun gerakan.

Sekarang mumpung ada waktu jadi bisa sekalian untuk pemulihan cedera. Ini waktu yang tepat buat konsentrasi penguatan cedera dan refresh supaya nanti pas mulai lagi sudah pulih total dari cedera.
Edgar Xavier: Kepergian Ayah Buat Saya Lebih Menghargai Waktu

Kebiasaan baru yang dilakukan selama PSBB?

Beberapa kali coba bantu cici bikin kue, memasak. Biasanya kan hanya tahu kue sudah jadi, enak tinggal makan. Sekarang saya coba ikut bantu membuat biar tahu caranya. Waktu itu bikin Tiramisu dan hasilnya lumayan enak, soalnya enggak bikin sendiri dan dibantu cici.

Iseng-iseng mengisi waktu juga saya coba melukis. Ini pertama kali saya coba melukis. Itu pun gambar pemandangannya mengikuti tutorial di Youtube yang buat pemula.

Kemarin saya juga baru beli layang-layang lewat aplikasi online. Rencananya mau main layangan di atap rumah. Semakin lama di rumah, makin banyak cara yang dilakukan supaya enggak bosan. Nonton film, main games sudah pasti.

Apakah selama PSBB ini berpengaruh ke pendapatan Anda sebagai atlet?

Puji Tuhan sih gaji masih jalan. Dari Pelatda DKI masih jalan, dari PNS masih jalan jadi buat saya tidak terlalu berpengaruh. Tapi job-job iklan itu terpengaruh. Jadinya sepi karena biasanya mengisi acara atau jadi pembicara, ini yang kelihatannya berkurang.


Sudah mulai berpikir membuka bisnis buat masa depan?

Sekarang sih belum ya. Kalau sekarang banyak jual makanan, saya tidak bisa bikin kue. Yang dijual di pasaran jauh lebih enak. Mau jual barang atau apa juga belum kepikiran. Intinya memang saya belum kepikiran mau bisnis.

Kalau mau bisnis itu harus fokus, saya terjun langsung. Kalau saya masih aktif jadi atlet saya tidak bisa fokus nanti, konsentrasinya terbagi.

Ada risiko performa sebagai atlet malah turun. Sedangkan jadi atlet itu ada masanya. Mungkin nanti setelah tidak aktif jadi atlet baru buat usaha.

Atlet lain mulai jadi Youtuber. Tidak tertarik mengikuti jejak mereka?

Saya merekam diri sendiri, foto selfie tidak percaya diri. Kalau punya vlog kan harus ekspresif dan saya tidak bisa. Tidak ada niat juga. Mungkin itu bukan bidang saya. Jadi saya bertanding saja di lapangan. (TTF/jal)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK