HUT ke-69, PBSI Masih Jadi Andalan Menjaga Kehormatan Negara

TTF, CNN Indonesia | Selasa, 05/05/2020 22:32 WIB
Dua atlet bulutangkis putra melakukan latihan jelang Kejuaraan Piala Sudirman 2015 di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/4). Tim Bulutangkis Indonesia berada di Grup C bersama Denmark dan Inggris dalam kejuaraan Piala Sudirman 2015 yang akan berlangsung pada 10-17 Mei 2015 di Dongguan, Cina. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/ed/mes/15 Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, menjadi pusat penempaan atlet-atlet badminton top Indonesia. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) induk organisasi olahraga badminton tanah air berulang tahun ke-69 tepat di hari ini, Selasa 5 Mei 2020.

Sebelum terbentuk PBSI, Indonesia memiliki banyak perkumpulan badminton. PBSI lantas dibentuk sebagai wadah organisasi pemersatu tujuan dan cita-cita dari perkumpulan badminton yang ada.


Pembentukan PBSI juga harus melalui jalan panjang perjuangan. Terlebih, komunikasi antara satu daerah dengan daerah lain masih sulit dilakukan karena keterbatasan sarana dan kemampuan.


Beruntung, PORI (Persatuan Olah Raga Republik Indonesia) saat itu sudah terbentuk sehingga mempermudah pelaksanaan kongres perdana pembentukan organisasi bulutangkis pusat. PBSI lahir di Bandung pada 5 Mei 1951 dan Richadi Partaatmaja didapuk menjadi ketua umum pertama.

Saat ini, PBSI merupakan organisasi yang membawahi pengurus bulutangkis di daerah dan sebagai pengawas sekaligus pengontrol kegiatan dan pembinaan prestasi bulutangkis di lingkup nasional.

Indonesia di Piala Suhandinata 2019. (dok. PBSI)PBSI juga dituntut menaruh perhatian pada pembinaan atlet-atlet badminton muda Indonesia. (dok. PBSI)

Sepanjang 69 tahun berdiri, sudah ada 13 kali pergantian pimpinan. Termasuk di antaranya, Chairul Tanjung (2001), Sutiyoso (2004), Djoko Santoso (2008), Gita Wirjawan (2012) dan kini PBSI dipimpin Wiranto sejak 2016 lalu.

Bulutangkis juga menjadi cabang olahraga pertama yang berhasil menyumbangkan medali emas buat Indonesia di kancah Olimpiade. Medali emas disabet dua wakil kebanggaan Merah Putih, Susi Susanti di nomor tunggal putri dan Alan Budi Kusuma dk tunggal putra pada Olimpiade 1992 di Barcelona.

Sejak saat itu, bulutangkis selalu menjadi tulang punggung serta representasi wajah Indonesia di mata dunia internasional. Sejak 1992 hingga kini, Indonesia baru satu kali gagal membawa pulang medali emas, yakni pada Olimpiade 2012 di London.

GIF Banner Promo Testimoni

Kini jelang Olimpiade 2020 Tokyo harapan besar menggantung pada bulutangkis untuk mempertahankan tradisi medali emasnya. Termasuk di kejuaraan-kejuaraan bulutangkis bergengsi lainnya.

Legenda bulutangkis Indonesia yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susi Susanti berharap di usianya yang ke-69 PBSI masih bisa terus memberikan prestasi yang lebih baik lagi dan mengembalikan prestasi di semua sektor.

"Harapan kita semua dan tentunya saya pribadi juga semoga tradisi emas di Olimpiade terus berlanjut. PBSI harus kompak, harus bersatu. Saya percaya bersatu kita teguh, kita kuat dan selesaikan sama-sama kekurangan yang ada untuk prestasi tertinggi Indonesia," ucap Susi kepada CNNIndonesia.com.


Sekretaris Jenderal PP PBSI, Ahmad Budiharto berharap bulutangkis Indonesia bisa lebih maju berkembang dan terus mempertahankan prestasi di tingkat dunia.

"Harapannya pasti kita bisa lebih sukses lebih maju berkembang dan bisa memberikan kebanggaan dan kehormatan buat negara dan bangsa Indonesia," ungkap Budi.

[Gambas:Video CNN]


(TTF/nva)