Dalam partai puncak yang berlangsung di Stadion Olimpiade Ataturk, Istanbul, Turki, Shevchenko dan kawan-kawan unggul 3-0 pada babak pertama, namun keunggulan tersebut sirna pada babak kedua dan AC Milan kalah dalam adu penalti.
Lihat juga:Enes Kanter, Petik Kekuatan dari Puasa |
Shevchenko yang tampil sebagai pemain inti gagal mencetak gol pada waktu normal dan tidak mampu melaksanakan tugas sebagai eksekutor terakhir Rossoneri dalam babak adu tendangan 12 pas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa bulan lalu, dalam sebuah film perayaan, UEFA mengunggah perayaan Dudek di Instagram. Saat saya melihatnya, saya langsung mengganti, saya lempar ponsel. Saya berkata pada diri saya, 'cukup, cukup'," sambung pemilik gelar Ballon d'Or 2004 itu dilansir dari Sky Italia.
Andriy Shevchenko gagal membobol gawang Liverpool dalam babak adu penalti di final Liga Champions 2005. (FRANCOIS MARIT / AFP) |
Selain kegagalan di final Liga Champions 2005, yang disebut 'keajaiban Istanbul' bagi beberapa orang, Shevchenko juga pernah mengalami masa yang kurang menyenangkan ketika pindah dari Milan ke Chelsea.
Tidak seperti ketika melihat Liverpool berjaya, Shevchenko lebih bisa menerima nasib yang tak mujur bersama The Blues.
"Saya tidak suka melihat ke belakang. Chelsea mewakili pengalaman meski itu sulit. Itu membantu saya menemukan diri saya. Dalam hidup segalanya tidak selalu berjalan baik, kemudian ada pilihan pada saat saya berusia 30, lantas saya kembali ke Milan," kata pria yang kini menjadi pelatih timnas Ukraina.
[Gambas:Video CNN]
(nva)
Andriy Shevchenko gagal membobol gawang Liverpool dalam babak adu penalti di final Liga Champions 2005. (FRANCOIS MARIT / AFP)