Pada usia 20 Van Dijk bergabung dengan Groningen yang merupakan salah satu kontestan liga sepak bola teratas di Belanda. Hampir setahun menjalani kontrak bersama klub tersebut, Van Dijk mengalami sakit.
Kondisinya tak jelas sampai akhirnya sang ibu datang dan membawanya ke rumah sakit. Diagnosis dokter menyatakan usus buntunya pecah dan menyebabkan radang pada usus buntu dan dinding perut, serta infeksi ginjal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Virgil Van Dijk menjadi andalan Liverpool di lini belakang. (AP/Ian Walton) |
"Ibu saya dan saya berdoa dan mendiskusikan berbagai skenario yang mungkin terjadi. Pada suatu saat saya harus menandatangani beberapa dokumen, semacam bukti. Jika saya mati, sebagian uang saya akan menjadi milik ibu. Tentu tak ada yang mau berbicara soal itu, tetapi kami harus melakukannya," sambung bek timnas Belanda itu.
Setelah sembuh, Van Dijk mampu kembali bermain dan menjadi salah satu pemain yang tampil reguler untuk Groningen. Sempat ditolak klub besar Belanda seperti Ajax, Van Dijk kemudian memilih bergabung bersama Celtic di Skotlandia dan bermain di Southampton sebelum menjadi pilar lini belakang Liverpool.
Menurut mantan bek timnas Belanda, Jaap Stam, Van Dijk tidak dianggap sebagai calon pemain besar di negaranya sendiri. Kemampuan adaptasi dan menimba ilmu di Celtic dan Southampton kemudian menjadikan pemilik runner up Ballon d'Or 2019 itu sebagai bek kokoh dengan kemampuan memainkan bola.
[Gambas:Video CNN]
(nva)
Virgil Van Dijk menjadi andalan Liverpool di lini belakang. (AP/Ian Walton)