Presiden Kick It Out, organisasi yang mendorong kesetaraan dalam sepak bola di Inggris, Sanjay Bhandari berharap Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) tidak menghukum Jadon Sancho, Achraf Hakimi, Weston McKennie dan Marcus Thuram karena menampilkan bentuk dukungan dan solidaritas atas kematian warga kulit hitam di Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikutip dari The Guardian, Bhandari menyebut berlutut adalah cara protes yang tidak bakal menuai sanksi sekaligus memiliki pesan kuat.
Marcus Thuram berlutut setelah mencetak gol untuk Borussia Monchengladbach. (AP Photo/Martin Meissner, Pool) |
"Rasialisme bukan hanya sekadar pemain kulit hitam atau fan berkulit coklat. Ini mengenai kita semua. Rasialisme merusak lingkungan dan kita semua terluka karena itu. Semua seharusnya mau mendemonstrasikan rasa solidaritas dan rasa jijik," tutur Bhandari.
Badan sepak bola dunia, FIFA, memberi kewenangan pada penyelenggara liga untuk menghukum pemain terkait protes yang dilakukan dengan memperhatikan akal sehat dan mempertimbangkan konteks seputar peristiwa yang terjadi.
Hingga kini DFB masih dalam status mempelajari tindakan McKennie, Thuram, Sancho, dan Hakimi. DFB menyatakan bakal mempertimbangkan keputusan berdasarkan pada aturan pertandingan yang diterbitkan Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) mengenai larangan pesan politik, agama dalam pernyataan atau gambar.
Floyd merupakan warga kulit hitam yang meninggal di AS, Senin (24/5), setelah mendapat perlakuan kasar dari polisi.
[Gambas:Video CNN] (nva/jun)
Marcus Thuram berlutut setelah mencetak gol untuk Borussia Monchengladbach. (AP Photo/Martin Meissner, Pool)