ANALISIS

YNWA, You Need Win Again, Liverpool!

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Minggu, 28/06/2020 19:01 WIB
Liverpool's Mohamed Salah, 3rd left, celebrates with teammates after scoring his sides first goal during the English Premier League soccer match between Liverpool and Watford at Anfield stadium in Liverpool, England, Saturday, Dec. 14, 2019. (AP Photo/Rui Vieira) Liverpool punya potensi untuk jadi tim yang bisa tampil dominan. (AP Photo/Rui Vieira)
Jakarta, CNN Indonesia --

Walk on through the wind

Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on
With hope in your heart
And you'll never walk alone

Lagu itu tentu terasa lebih syahdu di telinga penggemar Liverpool dalam beberapa hari terakhir. Gelar Liga Inggris yang sudah ditunggu selama 30 tahun oleh penggemar Liverpool akhirnya tiba.


Liverpool sukses jadi juara Liga Inggris musim ini. You'll Never Walk Alone memang tak berkumandang langsung di stadion seperti halnya saat Liverpool memenangkan Liga Champions musim lalu. Namun dalam beberapa hari terakhir, lagu ini tentu dinyanyikan bersama-sama, meski tidak di tempat yang sama, oleh penggemar Liverpool di seluruh penjuru dunia.

Liverpool berhasil memutuskan kutukan paling pahit yang mereka terima sebagai tim besar. Gagal jadi juara Liga Inggris sejak 1990, tak pernah jadi nomor satu sejak era Premier League, catatan itu sangat memalukan bagi tim sebesar Liverpool.

Terlepas dari segala macam alasan yang mengatakan bahwa mendukung Liverpool tak melulu soal tentang gelar juara, dalam hati kecil pendukung Liverpool tentulah berharap melihat 'The Reds' berjaya. Hal itu mutlak berlaku, sejak zaman Steve McManaman menyisir garis pinggir lapangan hingga Steven Gerrard melambungkan namanya lewat tendangan-tendangan jarak jauh.

Karena itu ketika YNWA dipelesetkan menjadi You'll Never Win Again, hal itu tentu jadi hal yang paling menyakitkan bagi pendukung Liverpool.

Liverpool supporters celebrate as they gather outside of Anfield Stadium in Liverpool, England, Friday, June 26, 2020 after Liverpool clinched the English Premier League title. Liverpool took the title after Manchester City failed to beat Chelsea on Wednesday evening. (AP photo/Jon Super)Puasa gelar Liga Inggris yang sudah berlangsung selama 30 tahun akhirnya usai untuk Liverpool. (AP/Jon Super)

Trofi Piala UEFA, Piala FA, Piala Liga, Piala Super Eropa, hingga Liga Champions seolah tak mampu menutup cacat Liverpool karena belum juga berhasil memenangkan Premier League.

Kini kutukan tersebut telah sirna. Liverpool berhasil kembali jadi juara. Namun seperti penegasan Jurgen Klopp, gelar Liga Inggris ini bukanlah berarti akhir dari perjalanan Liverpool.

Gelar musim ini adalah sebuah penuntasan puasa panjang, sekaligus harapan untuk memulai dominasi di era mendatang.

Melihat Liverpool Musim Depan Setelah Lelah Mengejar Gelar Musim Ini

Melihat kekuatan tim-tim Liga Inggris dalam beberapa musim terakhir, rasanya hanya Manchester City yang kini bisa dianggap sejajar dan memiliki level permainan dan kedalaman tim seperti halnya Liverpool.

Tim-tim besar lain seperti Manchester United dan Arsenal sedang tidak baik-baik saja. Mereka memiliki materi tim yang buruk dan butuh usaha keras untuk bisa mencapai level permainan Liverpool di musim ini.

Alih-alih berharap menambah kekuatan di bursa transfer, MU dan Arsenal berada dalam situasi dalam kekhawatiran menghadapi risiko kehilangan pemain bintang. MU terancam kehilangan Paul Pogba sedangkan Arsenal terancam ditinggal pergi Pierre-Emerick Aubameyang.

Liverpool's Trent Alexander-Arnold, left, celebrates after scoring the opening goal during the English Premier League soccer match between Liverpool and Crystal Palace at Anfield Stadium in Liverpool, England, Wednesday, June 24, 2020. (Paul Ellis/Pool via AP)Liverpool harus mempertahankan motivasi dan rasa lapar gelar juara di Liga Inggris musim depan. (AP/Paul Ellis)

Chelsea mencuri perhatian namun mereka sedang dalam masa transisi. Chelsea ingin selekasnya meninggalkan sisa-sisa era Eden Hazard karena Willian dan Pedro Rodriguez juga pergi di akhir musim ini.

Hakim Ziyech dan Timo Werner adalah tambahan amunisi luar biasa untuk skuat muda macam Tammy Abraham, Ruben Loftus Cheek, hingga Billy Gilmour. Namun Frank Lampard masih butuh waktu untuk membuat mereka jadi padu.

Namun Liverpool sendiri terlihat harus mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk 'hanya' sekadar meraih satu gelar Liga Inggris.

Pengalaman mengecewakan musim 2018/2019 saat mengoleksi 97 poin tetapi hanya jadi runner up benar-benar membekas di hati pemain-pemain Liverpool. Di musim ini, Liverpool benar-benar terus berlari kencang, dari awal hingga finis.

Pemain-pemain Liverpool bahkan tak mau berbicara tentang peluang gelar juara saat di bulan Februari ketika di atas kertas mereka sudah sulit dikejar pemain lain.

Hasilnya, Liverpool memecahkan rekor sebagai tim tercepat yang bisa jadi juara Liga Inggris yaitu ketika kompetisi masih menyisakan tujuh pertandingan.

Liverpool's manager Jurgen Klopp and Liverpool's Jordan Henderson leave the field at the end of the English Premier League soccer match between Everton and Liverpool at Goodison Park in Liverpool, England, Sunday, June 21, 2020. (Peter Powell/Pool via AP)Kapten Liverpoo, Jordan Henderson dan Jurgen Klopp.  (AP/Peter Powell)

Konsistensi dan standar tinggi itu yang kemudian menjadi tuntutan untuk dipertahankan. Sejak Manchester City menciptakan standar poin tinggi untuk jadi juara, Liverpool jelas tak boleh lengah dan merasa jemawa dengan keperkasaan mereka musim ini ketika kompetisi Liga Inggris kembali bergulir musim depan.

Mohamed Salah dan kawan-kawan harus bisa melupakan kemenangan sensasional musim ini, mempertahankan kewaspadaan, dan menganggap diri mereka sudah jadi 'musuh nomor satu' bagi 19 tim di Liga Inggris nantinya.

Liverpool Membangun Dinasti

Jurgen Klopp telah sukses membentuk sebuah tim yang kompetitif di Liverpool. Klopp membangun perlahan, dengan menutup celah dan lubang yang terlihat tiap musim, hingga akhirnya Liverpool kini disebut sebagai tim bertabur bintang.

Padahal sejatinya, bintang-bintang Liverpool itu mulai bersinar seiring kembalinya kemilau Liverpool. Tak semua pemain Liverpool sudah berstatus bintang ketika datang ke Anfield.

Terlepas dari status bintang, Liverpool kini punya modal berharga untuk membangun sebuah dinasti. Sebuah era ketika mereka dianggp sukses mendominasi.

Seperti Manchester United di era 90-an, kemudian disusul Chelsea dan Manchester City yang konsisten menjadi juara Liga Inggris tanpa perlu puasa gelar terlalu lama.

Dengan gelar Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan Liga Inggris, Liverpool sudah punya modal untuk percaya diri.

Liverpool's Mohamed Salah, front left, celebrates with Liverpool's Sadio Mane after scoring his side's opening goal during the English Premier League soccer match between Liverpool and Sheffield United at Anfield Stadium, Liverpool, England, Thursday, Jan. 2, 2020. (AP Photo/Jon Super)Liverpool berhasil jadi juara Liga Inggris musim ini dengan tujuh laga tersisa. (AP Photo/Jon Super)

Mereka tidak akan lagi jadi klub besar yang khawatir kehilangan pemain bintang, seperti halnya ketika mereka sempat memohon-mohon bintang yang belum sepenuhnya layak jadi bintang macam Philippe Coutinho untuk tidak pergi.

Memang pada akhirnya nanti akan ada 2-3 pemain yang tetap pergi dari Liverpool dengan berbagai alasan. Entah karena bosan jadi cadangan seperti Divock Origi atau Xherdan Shaqiri, hingga dengan alasan untuk mencari tantangan, yang mungkin bisa terjadi pada salah satu pemain di lini depan seperti Sadio Mane atau Mohamed Salah.

Namun yang terpenting, Klopp sudah mendirikan kerangka tim yang solid, fondasi tim yang kompak. Membuat Liverpool tak akan ditinggalkan pemain-pemain hebat secara bersamaan.

Dalam era dominasi Manchester United, mereka juga ditinggal pergi pemain bintang macam Eric Cantona yang pensiun, David Beckham, hingga Japp Stam. Namun fondasi kuat yang disusun oleh Sir Alex Ferguson tidak membuat MU menjadi tim yang langsung timpang.

Begitu juga halnya dengan Chelsea di era 2000-an. Mereka sempat ditinggal oleh Arjen Robben, Michael Essien, dan beberapa bintang lain. Namun ada pemain-pemain yang memang jadi pondasi tim seperti John Terry, Petr Cech, Frank Lampard, dan Didier Drogba.

Hal yang sama juga berlaku pada Manchester City lewat sosok Sergio Aguero dan David Silva yang bertahan seiring banyaknya pemain yang datang dan pergi ke Manchester City.

Liverpool's Virgil van Dijk centre right celebrates after scoring his second goal during the English Premier League soccer match between Liverpool and Brighton at Anfield Stadium, Liverpool, England, Saturday, Nov. 30, 2019. (AP Photo/Jon Super)Liverpool punya peluang bagus untuk kembali jadi juara Liga Inggris musim depan. (AP Photo/Jon Super)

Selama manajemen Liverpool berhasil membuat Klopp tetap nyaman duduk di singgasana pelatih, presentase pemain bintang keluar klub secara bersamaan akan makin bisa ditekan. Pasalnya, Klopp benar-benar punya karisma yang kuat dan mampu membuat para pemain merasa istimewa.

Dengan modal fondasi tim yang kokoh, jelas Liverpool butuh kemenangan-kemenangan dan trofi lainnya agar prestasi mereka musim ini benar-benar jadi titik awal dominasi.

Liverpool era Klopp tentu ingin dikenang sebagai tim yang pernah mendominasi, bukan tim yang sangat berapi-api, lalu sesudah itu mati.

(sry)

[Gambas:Video CNN]