Peluang Indonesia Cetak Sejarah Tuan Rumah Olimpiade di ASEAN

ttf, CNN Indonesia | Kamis, 05/11/2020 08:39 WIB
Indonesia berpeluang mencetak sejarah sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menjadi tuan rumah Olimpiade. Sukses Asian Games 2018 jadi modal Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2032. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia berpeluang mencetak sejarah sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menjadi tuan rumah Olimpiade jika menang dan terpilih saat bidding tuan rumah Olimpiade 2032. Indonesia bersaing dengan Australia, Qatar, Unifikasi Korea dan India.

Sepanjang sejarah, gelaran ajang multievent olahraga terbesar dan paling bergengsi di dunia itu hampir selalu di dominasi negara-negara Eropa.

Mulai dari Olimpiade pertama di Athena Yunani 1896 dan 2004, Paris tahun 1900, 1924, London 1908, 1948, Stockholm di Swedia 1912, Antwerp Belanda 1920, Amsterdam, Belanda 1928, Berlin, Jerman 1936, Helsinki di Finlandia 1952, Roma Italia 1960, Munich, Jerman 1972, Montreal, Kanada 1976, Moskow m Rusia 1980, Barcelona 1992,


Bahkan dari 29 edisi Olimpiade yang sudah digelar, hanya tiga negara Asia yang tercatat pernah menjadi tuan rumah; Jepang (Tokyo 1964 dan 2020), China (Beijing 2008) dan Korea Selatan (Seoul 1988).

Australia menjadi satu-satunya negara asal OCEANIA yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade, yakni ketika Melbourne dan Stockholm, Swedia menjadi tuan rumah bersama pada 1956 serta Sydney di tahun 2000.

Benua Amerika juga beberapa kali tercatat pernah menjadi tuan rumah Olimpiade. Mulai dari Olimpiade 1904 di St Louis, Los Angeles 1932, 1984, Meksiko 1968, Atlanta 1996 dan terakhir Rio de Janeiro, Brasil 2016 lalu.

Dari catatan yang dilansir situs resmi Olympic.org tersebut, belum pernah tercatat sekalipun negara Asia Tenggara sebagai tuan rumah Olimpiade.

"Meskipun saat ini ada sedikitnya lima pesaing, tapi posisi Indonesia cukup kuat bisa mendobrak sejarah sebagai negara Asia Tenggara pertama yang menjadi tuan rumah Olimpiade," kata Raja Sapta Oktohari, Presiden National Olympic Committee (NOC) Indonesia dalam laporannya kepada Presiden Joko Widodo saat Rapat Terbatas (Ratas), Rabu (4/11).

Menjadi tuan rumah Olimpiade membawa banyak keuntungan bagi sebuah negara. Salah satunya meninggalkan warisan yang merupakan salah satu syarat yang harus masuk dalam proposal bidding yang dibuat NOC melalui Komite Khusus Bidding Olimpiade 2032.

Warisan Olimpiade mencakup keuntungan jangka panjang yang bisa dinikmati oleh kota tuan rumah, masyarkat negara baik sebelum, saat maupun setelah Olimpiade digelar. Kemudian juga keberlanjutan dalam hal penggunaan serta eco-friendly.

"Legacy (warisan) dari Olimpiade maupun Paralimpiade nantinya sangat mungkin untuk dibuktikan oleh Indonesia mengingat kita sudah punya pengalaman di Asian Games dan Asian Para Games yang menggunakan Stadion GBK sebagai warisan dari Asian Games 1962," ujar Okto.

Presiden Jokowi membuka acara FKUB, Selasa (3/11) / Foto: Muchlis - Biro PersPresiden Jokowi minta pembentukan komite khusus bidding tuan rumah Olimpiade 2032. (Muchlis - Biro Pers).

Tidak hanya sukses dari sisi penyelenggaraan dengan peninggalan warisan sejarah berupa bangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Indonesia juga sukses mengukir prestasi saat pertama kali menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Torehan 11 medali emas, 12 perak dan 28 perunggu membuat Merah Putih menempati urutan kedua klasemen perolehan medali dari 17 negara peserta kala itu.

Selain itu, Asian Games 1962 juga menjadi kali pertama selama 17 tahun gelaran ajang multievent olahraga terbesar di Asia itu digelar di negara Asia Tenggara. Pada edisi keempat Asian games itu hadir 1.460 atlet peserta yang mengikuti 120 nomor pertandingan dari 13 cabang olahraga.

Setelah 56 tahun berlalu, Indonesia kembali mendapatkan kepercayaan menjadi tuan rumah Asian Games pada 2018 lalu. Indonesia menjadi tuan rumah menggantikan Hanoi, Vietnam yang telah memenangkan bidding pada November 2012.

Banner Live Streaming MotoGP 2020

Perdana Menteri Vietnam kala itu Nguyen Tan Dung menyebut kondisi ekonomi Vietnam dianggap belum pulih sejak terpapar krisis keuangan dan resesi sejak 2012. Keterbatasan anggaran membuat kas negara tidak cukup untuk menutupi biaya penyelenggaraan Asian Games 2018.

Jakarta dan Palembang dengan senang hati menerima limpahan tanggung jawab dari Hanoi Vietnam untuk menjadi tuan rumah Asian Games yang diikuti 45 negara peserta, 11.300 atlet yang mengikuti 465 nomor pertandingan dari 40 cabor.

Indonesia sukses menjadi tuan rumah dengan berbagai pengakuan dari negara peserta termasuk Dewan Olimpiade Asia (OCA). Begitu juga sukses prestasi dengan menempati peringkat keempat klasemen medali lewat torehan 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu di bawah China, Jepang dan Korea Selatan.

Sukses tersebut yang akhirnya mengantarkan Indonesia secara resmi untuk mencalonkan diri mengikuti bidding tuan rumah Olimpiade 2032 melalui pernyataan langsung yang diungkapkan Presiden Joko Widodo pada saat penutupan Asian Games 2018 di Jakarta.

Sukses menjadi tuan rumah Asian Games untuk kedua kalinya meyakinkan bahwa Indonesia mampu untuk menyelenggarakan event yang lebih besar lagi, Olimpiade 2032.

Sementara itu, di level yang lebih kecil yakni Asia Tenggara, Indonesia sudah empat kali dipercaya menjadi tuan rumah SEA Games. Thailand dan Malaysia menjadi negara yang paling rajin menjadi tuan rumah SEA Games yakni sebanyak 6 kali. Indonesia menjadi yang terbanyak kedua bersama Filipina yakni sebanyak empat kali.

Indonesia pertama kali menjadi tuan rumah SEA Games pada 1979 di Jakarta, kemudian berlanjut di tahun 1987, 1997 juga di Jakarta dan terakhir 2011 di Jakarta-Palembang.

Di ranah SEA Games, Indonesia sudah mengoleksi 1.824 medali emas, 1.703 perak dan 1.780 perunggu dari total 30 edisi SEA Games sejauh ini. Catatan itu menempatkan Indonesia di urutan kedua negara Asia Tenggara terbanyak peraih medali di sepanjang gelaran SEA Games di bawah Thailand dengan 1.885 emas, 1.930 perak dan 1.943 perunggu.

(osc)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK