TESTIMONI

Bambang Nurdiansyah, Dilirik Abdul Kadir dan Disihir Maradona

Bambang Nurdiansyah, CNN Indonesia | Rabu, 23/12/2020 19:00 WIB
Bambang Nurdiansyah merupakan salah satu striker legendaris Timnas Indonesia yang dijuluki legenda timnas Jerman Gerd Muller. Bambang Nurdiansyah dijuluki Gerd Muller Indonesia. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya terlahir dari keluarga tentara yang terbiasa rutin berolahraga. Mulai dari bola basket, bulutangkis, hingga sepak bola.

Tapi sepak bola akhirnya jadi pilihan nomor satu karena lebih populer dan menyenangkan dimainkan ketika masih bocah. Saya pun ikut keranjingan dan akhirnya nyemplung lebih dalam.

Semula saya bermain di berbagai posisi mulai kanan luar, kiri luar, second striker hingga akhirnya mantap memutuskan jadi striker sampai disebut-sebut mirip striker legendaris timnas Jerman, Gerd Muller.


Julukan itu berlebihan memang. Tapi saya bangga bisa disamakan dengan striker legendaris kelas dunia. Saya bersyukur mendapat pengakuan itu.

Saya ingat betul, julukan itu populer karena tulisan almarhum Sumohadi Marsis di halaman utama Kompas. Mantan wartawan Kompas yang kemudian mendirikan Tabloid Bola.

Sebetulnya julukan Gerd Muller itu kali pertama muncul dari Abdul Kadir. Pemain senior yang berjasa membawa saya jadi pemain profesional. Jadilah banyak media mengutip saya sebagai Gerd Muller Indonesia.

Saya tak bisa menilai diri sendiri, tapi yang saya tahu Muller adalah raja kotak penalti. Artinya, besar kemungkinan peluang sekecil apa pun bisa jadi gol kalau dia sudah pegang bola di kotak penalti.

Lupakan istilah Gerd Muller, karena saya adalah Bambang Nurdiansyah. Salah satu pemain yang pernah menghiasi perjalanan sepak bola Indonesia.

Di zaman saya menembus klub profesional tidak gampang. Kami harus berjuang setengah mati dari klub-klub internal perserikatan yang sudah sarat persaingan untuk menuju klub profesional.

Tak seperti sekarang, ada yang dari SSB bisa dipanggil Timnas kelompok umur. Tapi mungkin saja jalan cerita zaman dulu dan sekarang sudah berbeda.

GIF Banner Promo Testimoni

Saya sendiri pernah gabung di Indonesia Muda Malang hingga dilirik Persema Malang. Kemudian masuk PSAD Surabaya dan dipanggil tim senior Persebaya untuk bermain di turnamen-turnamen tak resmi seperti Tugu Muda di Surabaya dan Siliwangi Cup di Bandung.

Tapi, saya tak masuk skuad ketika Persebaya tampil di kompetisi resmi. Mungkin dianggap masih terlalu hijau dan pada saat itu memang banyak pemain senior yang lebih siap bersaing di level tertinggi.

Saya sempat terpukul tak menembus tim utama Persebaya, klub besar yang punya sejarah di Indonesia. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Kegagalan di Bajul Ijo hanya menunda kesuksesan saya di tempat lain.

Abdul Kadir, yang kala itu jadi pemain Persebaya, ternyata mengamati bakat saya dari jauh. Saya kaget bukan kepalang dia mengajak saya ikut ke Arseto pada 1978.

Saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan dan bertekad membalas kepercayaan Kadir. Semesta pun mendukung, saya menjadi salah pemain muda yang bersinar bersama Arseto.

Saya dapat banyak pelajaran di Arseto. Kepercayaan diri, bermain efektif, dan selalu haus gol. Entah berapa gol yang sudah saya cetak untuk Arseto. Yang jelas klub itu menggembleng saya sebagai striker yang lebih matang.

Sayang, saya belum sempat mempersembahkan gelar juara Galatama untuk Arseto dan memutuskan pindah ke Tunas Inti pada 1982.

Trofi juara baru saya cicipi ketika bermain di Yanita Utama. Dua gelar sekaligus saya raih di Yanita Utama dan dua musim itu pula saya sukses menjadi top skor pada 1983 dan 1984.

Karier saya makin melejit dan makin banyak tawaran yang datang. Tapi, Krama Yudha Tiga Berlian jadi pelabuhan selanjutnya. Saya pun sukses membawa klub ini juara pada tahun 1985 dan lagi-lagi menyabet gelar pencetak gol terbanyak.

Kemudian saya menjalani petualangan berikutnya ke Pelita Jaya pada 1986. Di klub Jakarta ini saya juga berhasil merasakan dua kali juara Galatama dan satu musim di antaranya sukses menjadi top skor.

Jika dihitung, saya mencatat empat kali top skor dan lima kali juara di kompetisi Galatama. Mungkin bisa dibilang sebagai prestasi langka dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Setelah enam tahun membela Pelita Jaya saya memutuskan memperkuat Putra Samarinda yang kemudian jadi klub terakhir dalam karier profesional saya.

Perjumpaan Spesial dengan Maradona

Setelah membahas karier di klub, saya mau cerita juga sepak terjang di Timnas Indonesia. Seiring dengan prestasi di Arseto, saya pun dipanggil memperkuat Timnas Indonesia.

Karier saya di klub berbanding lurus di Timnas. Sejak usia muda saya terpilih sebagai salah satu pemain Timnas Indonesia di Piala Asia Yunior 1978 di Bangladesh.

Saat itu kami tergabung di Grup A bersama Irak, Yordania, dan Malaysia. Kami sebenarnya main bagus dan mampu mengalahkan Yordania 1-0 dan Malaysia 2-0, tapi harus puas finis sebagai runner up karena kalah 0-1 dari Irak.

Lolos sebagai runner up memang cukup untuk melaju ke perempat final. Namun, kami gagal melangkah lebih jauh usai dikalahkan Korea Utara 0-2.

Meski tersingkir di perempat final kami mendapat kesempatan tampil di Piala Dunia Yunior 1979 di Jepang. Lolosnya Indonesia ke turnamen usia muda bergengsi itu karena alasan politis.

Irak mundur sementara beberapa wakil Asia yang ditawari jadi tim pengganti memutuskan tak bersedia. Jadilah Indonesia bermain di Piala Dunia usia muda.

Momen yang tak akan pernah terlupakan adalah menghadapi legenda sepak bola Diego Maradona yang saat itu sudah menjadi pemain muda top dunia dan sering jadi pemberitaan media internasional juga Indonesia.

Di usia muda saja Maradona sudah jadi brand ambassador apparel olahraga ternama. Bayangkan, dia ke mana-mana selalu dikawal body guard. Jadi, kami pemain pun segan mau minta foto berdua.

Beruntung kami mendapat kesempatan foto bersama tim di lobi hotel. Sayang, saya enggak punya foto salinan foto itu sampai sekarang.

Argentinian forward Diego Armando Maradona runs past English defenders Terry Butcher (L) and Terry Fenwick (2nd L) on his way to scoring his second goal during the World Cup quarterfinal soccer match between Argentina and England 22 June 1986 in Mexico City.  Argentina advanced to the semifinals with a 2-1 victory.  AFP PHOTO / AFP PHOTO / STAFFBambang Nurdiansyah pernah melawan Diego Maradona di Piala Dunia Yunior 1979. (AFP PHOTO/ STAFF)

Meski kami semua kagum dengan Maradona tapi tidak pernah minder. Malah tambah semangat bermain. Namun, tak bisa dipungkiri level Indonesia jelas kalah kualitas.

Sejak awal Mundari Karya dipersiapkan untuk mengawal Maradona ke mana pun. Tapi, upaya tersebut tak berhasil. Dia selalu punya cara untuk meloloskan diri. Gila!

Saya sendiri tak punya peluang. Bagaimana mau cetak gol jika sepanjang permainan kami dibuat sibuk bertahan sulit menembus pertahanan mereka.

Tapi, bagi saya itu adalah kekalahan terhormat. Kami sudah berjuang semampu kami dan memang kalah segalanya dari mereka.

Namun, saya dan teman-teman bangga punya kesempatan satu lapangan dengan Maradona yang kemudian jadi legenda sepak bola dunia. Bulan lalu ia telah berpulang lebih dulu.

Sejak tampil di Piala Dunia Yunior 1979 saya rutin membela tim Merah Putih dan turut ambil bagian saat Indonesia juara di SEA Games 1991.

Momen Manis Raih Emas SEA Games 1991

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK