Muhammad Ali, Pejuang HAM Lewat Tinju dan 'Mulut Besar'

CNN Indonesia | Minggu, 17/01/2021 11:50 WIB
Muhammad Ali tak sekadar legenda tinju. Ia adalah pejuang hak asasi manusia lewat kepalan tangan dan mulut tajamnya. Muhammad Ali. (AFP PHOTO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hari ini, tepat 79 tahun lalu, sang legenda Muhammad Ali lahir ke dunia. Ia kemudian dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia lewat tinju dan 'mulut tajam' nya.

Ali terlahir dari keluarga pemeluk kristen dengan nama Cassius Marcellus Clay. Tempaan hidup keras membentuknya jadi sosok berkepribadian istimewa.

Di usia 22 tahun, Clay 'lahir baru'. Ia memeluk islam atas kesadaran sendiri bukan hanya karena 'warisan' keluarga. Namanya pun diubah sendiri menjadi Muhammad Ali.


Washington Post melansir, keputusan Ali mengubah keyakinan terjadi pada tahun 1964, tak lama setelah mengalahkan Sonny Liston di Miami Beach untuk memenangkan kejuaraan tinju kelas berat dunia.

Tak banyak yang tahu, sesaat setelah menang atas Liston, Ali ternyata merayakan kemenangannya di sebuah kamar Hampton House, sebuah motel di lingkungan Black Brownsville Miami yang sering dikunjungi para selebriti kulit hitam.

GIF Banner Promo Testimoni

Tiga orang yang menemani Ali di penginapan dua lantai tersebut adalah seorang mualaf yang juga dikenal sebagai aktivis Islam Malcolm X, penyanyi penyanyi crossover soul Sam Cooke, dan legenda Cleveland Brown Jim Brown.

Tak ada yang tahu apa pembahasan keempat orang tersebut di ruangan yang sama. Seorang penulis Kemp Powers mencoba menerjemahkan pertemuan keempat aktivis kulit hitam Amerika Serikat itu dengan imajinasinya.

Kemudian Regina King baru-baru ini menyutradarai film 'One Night in Miami' dengan mengambil momen pertemuan Ali dan kawan-kawan.

Meski sudah wafat lima tahun silam, Muhammad Ali memang bakal selalu dikenang. Sebab, Ali bukan sekadar petinju. Ia adalah jerit atau tangisan kaum tertindas di AS.

Foto dokumentasi saat Muhammad Ali (L) bertarung dengan Richard Dunn pada perebutan gelar juara kelas berat versi WBC & WBA di Munich, Jerman 24 Mei 1976. Legenda tinju Amerika Serikat, Muhammad Ali, meninggal dunia pada Jumat (3/6) di rumah sakit di Phoenix, Arizona, tempat di mana ia berjuang melawan penyakit komplikasi pernapasan sejak Kamis lalu. ANTARA FOTO/REUTERS/Action Images/Sporting Pictures/File Photo/pd/16Muhammad Ali jadi inspirasi bagi banyak orang. (ANTARA FOTO/REUTERS/Action Images/Sporting Pictures)

Di atas ring, Ali merupakan peraih medali emas Olimpiade, juara dunia kelas berat di tiga kesempatan berbeda, dan sukses mempertahankan gelarnya itu selama 19 kali.

Meski berprestasi di atas ring, Muhammad Ali tidak lepas dari kontroversi. Ali pernah menolak berangkat ke Vietnam untuk bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat pada 28 April 1967. Penolakan itu berdasarkan ajaran Islam.

Banyak warga AS yang mengutuk keputusan Ali, karena pada saat itu sebagian besar warga AS mendukung perang di Asia Tenggara. Akibat pendiriannya itu, komisi atletik di negara bagian AS mencopot sabuk juara Ali. Ia juga dilarang naik ring selama tiga setengah tahun.

Hukuman itu tidak saja berlaku di dunia tinju. Penolakan Ali membuatnya didakwa secara pidana dan dijatuhi hukuman penjara lima tahun. Namun, baru satu tahun dihukum, Mahkamah Agung AS membebaskan Ali secara bersyarat dan diizinkan kembali naik ring pada 1970.

Boxing great Muhammad Ali receives a punch from a 79 old Muhammad Ali konsisten memperjuangkan HAM hingga akhir hayat. (Photo by MIKE FIALA / AFP)

Jeruji ternyata tak bisa membungkam mulut dan pemikiran Ali. Kata-kata paling legendaris yang dikeluarkan Ali ketika itu adalah:

"Saya tidak punya masalah dengan Vietcong. Tak ada Vietcong yang pernah memanggil saya negro. Mengapa mereka harus meminta saya untuk mengenakan seragam dan pergi 10.000 mil dari rumah untuk menjatuhkan bom dan menembakkan peluru ke orang-orang di Vietnam, sementara orang-orang yang disebut negro di Louisville diperlakukan seperti binatang?"

Menjelang pensiun Ali menjadi anggota Komite Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk masalah Apartheid. Ia menghimpun orang-orang dari segala bangsa untuk bersatu melawan diskriminasi ras.

Setelah pensiun pada 1979, Ali mendedikasikan diri untuk membantu mempromosikan perdamaian dunia, kemanusiaan, dan hubungan antar-umat beragama.

Selamat ulang tahun pria berjuluk The Greatest, The Peoples Champ, dan The Lips!

[Gambas:Video CNN]

(jun/jun)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK