Jakarta, CNN Indonesia -- Liverpool hancur sehancur-hancurnya di musim ini setelah kalah 1-3 dari Leicester City di pekan ke-24 Liga Inggris di Stadion King Power, Sabtu (13/2).
Harapan menang atas Leicester sempat muncul setelah Mohamed Salah membobol gawang Kasper Schmeichel di menit ke-67. Akan tetapi, pelanggaran pemain pengganti, Thiago Alcantara, jadi petaka bagi Liverpool.
Pelanggaran Thiago kepada Harvey Barnes yang disahkan VAR di menit ke-77 itu adalah awal bencana Liverpool di markas Leicester. Tuan rumah menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas James Maddison yang berasal dari tendangan bebas tersebut di menit ke-78.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya dalam 7 menit sejak gol Maddison itu, Leicester bisa membalikkan kedudukan hingga akhirnya menang 3-1 atas Liverpool berkat tambahan gol Jamie Vardy dan Harvey Barnes.
Kekalahan itu tampaknya tidak jadi akhir penderitaan The Reds. Dalam laga-laga berikutnya, Liverpool berpotensi melanjutkan rapor buruk tersebut.
Untuk bisa lepas dari kesialan di musim ini, Jordan Henderson dan kawan-kawan membutuhkan lebih dari sekadar keberuntungan. Juara bertahan Liga Inggris itu bisa berharap Tuhan mengulurkan tangan-Nya guna mengangkat mereka masa-masa kelam saat ini.
 Jurgen Klopp menyerah membawa Liverpool mengejar gelar juara musim ini. (Pool via REUTERS/LAURENCE GRIFFITHS) |
Keperkasaan The Reds dalam dua musim sebelumnya luntur di musim ini. Badai cedera jadi penyebab utama performa Liverpool compang-camping sepanjang musim.
Tidak tampak Liverpool yang tampil luar biasa musim lalu. Tidak tampak Liverpool yang mencetak rekor menjadi juara Liga Inggris usai menyisakan 7 laga. Nyaris tidak ada bekasnya Liverpool sebagai tim juara bertahan yang mengoleksi 99 poin pada musim lalu.
[Gambas:Video CNN]
Kekalahan telak 2-7 dari Aston Villa pada pekan keempat bisa jadi 'pintu' kesialan Liverpool di musim ini. Pasalnya, usai laga tersebut Liverpool justru kehilangan bek andalan Virgil van Dijk untuk waktu yang lama pada pertandingan berikutnya, melawan Everton.
Satu bulan berikutnya giliran tandem Van Dijk, Joe Gomez yang naik meja perawatan. Kehilangan dua bek tengah andalan membuat Liverpool limbung di semua ajang pada musim ini.
Pada bulan Liverpool hanya menang satu pertandingan dari empat laga, dua di antaranya berujung kekalahan. Mereka juga tersingkir dari Piala FA oleh Manchester United.
Di akhir Januari, masalah Liverpool soal pemain yang cedera bertambah, Joel Matip dan Fabinho menyusul Gomez serta Van Dijk. Cedera pemain ini coba diatasi Liverpool dengan mendatangkan Ben Davies serta Ozan Kabak.
Sayangnya, perekrutan pada menit-menit akhir jendela transfer Januari tidak memberikan dampak bagi klub asak Kota Pelabuhan itu. Secara beruntun Liverpool kalah dari Brighton and Hove Albion serta Manchester City.
Yang paling parah, Ben Davies cedera sebelum melawan Leicester City, sedangkan Ozan Kabak blunder dalam debutnya bersama Liverpool setelah salah dalam komunikasi dengan kiper Alisson Becker ketika menghadapi The Foxes.
Catatan buruk berupa lima kekalahan di sepanjang 2021 membuat Jurgen Klopp menyerah membawa Liverpool mempertahankan gelar juara Premier League.
Meski Liga Inggris menyisakan 14 laga lagi, Klopp tidak yakin tim asuhannya bisa mengejar Man City yang makin konsisten di musim ini.
Alisson Mimpi Buruk Liverpool
Alisson Becker, dari pahlawan jadi biang kekalahan Liverpool. (AP/Paul Ellis)
Liverpool di musim ini tidak saja kewalahan dan kalah melawan tim-tim besar Liga Inggris, tetapi juga tim-tim papan bawah. Lebih dari itu, permasalahan Liverpool tidak saja pada kelemahan di lini belakang, tetapi juga terpuruknya performa kiper Alisson Becker.
Alisson yang dalam dua musim sebelumnya jadi salah salah satu kekuatan The Reds, kini menjelma jadi titik lemah Mohamed Salah dan kawan-kawan.
Setelah blunder yang berujung dua gol untuk Man City hingga akhirnya Liverpool 1-4, saat melawan Leicester Alisson tanpa komunikasi keluar dari gawang dan menabrak pemain baru Ozan Kabak. The Reds hancur 1-3 di markas The Foxes.
Komunikasi antarpemain merupakan hal dasar dalam sepak bola. Tragisnya, itu terjadi pada pemain seperti Alisson yang pernah menyandang kiper termahal dunia dan tim sekelas Liverpool yang juga juara bertahan Premier League.
Liverpool perlu bangkit. Kalau bangun dari keterpurukan ini saja Liverpool sulit, mendominasi Liga Inggris seperti yang pernah dilakukan Manchester United hanya sekadar mimpi.
[Gambas:Video CNN]
Jika Liverpool benar-benar 'lempar handuk' dalam perburuan gelar juara Liga Inggris musim ini, satu-satunya peluang tersisa meraih trofi hanya di Liga Champions yang digelar pekan depan.
Hanya saja, melihat performa Liverpool yang menurun drastis di musim ini, tentu akan sulit bersaing dengan RB Leipzig yang saat ini menempati peringkat kedua klasemen Liga Jerman dan meraih kemenangan dalam tiga laga terakhir.
Setelah melawan Leizpig di Liga Champions, pada Selasa (16/2) waktu setempat, Liverpool akan dikembalikan pada kenangan buruk di musim ini, yaitu melawan Everton. Pertandingan di mana mereka kehilangan Van Dijk lalu terpuruk hingga saat ini.
Everton bukan saja akan memberikan memori buruk, tim asuhan Carlo Ancelotti itu juga sedang dalam tren bagus setelah tidak terkalahkan dalam tiga laga terakhir di semua ajang.
Sheffield United, tim juru kunci yang akan jadi lawan Liverpool setelah Everton juga berpotensi menambah penderitaan mereka. Publik masih ingat, dalam kondisi terpuruk, Sheffield bisa memberikan kekalahan 1-2 kepada Manchester United yang ketika itu jadi pemuncak klasemen.
Saat ini Liverpool tidak saja perlu mengevaluasi strategi maupun komposisi tim untuk laga-laga berikutnya, tetapi juga keajaiban Tuhan. Tanpa keajaiban itu, Liverpool bisa mengakhiri musim tanpa trofi.