Herry IP: Badminton, Memori 1998 dan Imlek

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Jumat, 12/02/2021 08:17 WIB
Kepala Pelatih Ganda Putra Pelatnas PBSI bercerita soal memori tragedi 1998 dan harapan pada tahun baru Imlek tahun ini. Herry Iman Pierngadi sosok di balik kesuksesan ganda putra Indonesia. (CNN Indonesia/ Putra Permata Tegar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak pernah hilang dari ingatan seorang Herry Iman Pierngadi, pelatih kepala ganda putra pelatnas PBSI tentang memori tragedi 1998.

Awalnya Herry IP, yang sudah menjadi pelatih tim pratama di pelatnas PBSI kala itu, mengaku sempat diajak ikut ke Hong Kong untuk Piala Thomas 1998 oleh Christian Hadinata sebagai Kepala Pelatih untuk mendampingi ganda putra di Piala Thomas. Namun karena satu dan lain hal, Herry IP memutuskan untuk tetap berada di Jakarta.

Herry IP masih ingat kerusuhan besar-besaran di Jakarta pada 1998 itu terjadi di hari Rabu. Saat itu, ia bersama supirnya memutuskan pergi ke daerah Cianjur, Jawa Barat, untuk melihat burung yang menjadi hobinya sampai sekarang.


"Waktu itu libur saya ke Puncak berdua sama supir. Waktu mau pergi, ibu saya sudah bilang, jangan pergi ke mana-mana karena sejak Senin itu sudah mulai ribut-ribut di Jakarta. Penembakan mahasiswa di Trisakti itu terjadi hari Selasa. Dasar saya bandel, saya tetap nekat pergi," kata Herry IP dalam perbincangan bersama CNNIndonesia.com.

Kebetulan, saat itu handphone hadiah dari Sigit Budiarto/Dicky Purwosugiono yang jadi juara di turnamen Eropa hilang, sehingga ia pergi tanpa membawa alat komunikasi. Karena perasaan khawatir dengan kondisi di Jakarta, ia sempat melipir ke sebuah warung telekomunikasi (Wartel) untuk menghubungi keluarga dan memastikan kondisi baik-baik saja.

"Yang angkat telepon waktu itu bapak saya, lalu saya diomelin karena kondisi di Jakarta lagi ribet ibaratnya, saya malah pergi. Sebab waktu itu saya tinggal di daerah Semanan, Cengkareng, dan di perempatan Cengkareng itu titik pertama keributan dimulai," ucap Herry IP.

[Gambas:Video CNN]

Alhasil, Herry IP memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Sampai di Bogor, ia melihat keadaan yang tidak biasa di mana banyak mobil tentara yang berjaga-jaga ke arah Jakarta. Di Tol TMII, ia melihat banyak helikopter yang mengarah ke daerah Barat.

Ia semakin kaget ketika bertanya kepada seorang petugas penjaga pintu tol tentang kondisi yang terjadi. "Mau perang," jawab petugas tol kepada Herry IP.

Pintu tol TMII yang merupakan akses terdekat ke Cengkareng pun ditutup yang membuat ia berputar melewati Cempaka Putih ke arah Pluit dengan harapan bisa keluar ke pintu tol Rawa Bokor, tak jauh dari Bandara Soekarno Hatta.

"Masuk Pluit itu saya agak aneh kok banyak mobil tank itu masuk tol. Motor-motor juga masuk tol. Masuk di Rawa Bokor saya lihat orang naik motor ngebut bawa tv. Saya buka kaca, saya tanya sama orang di situ kenapa? Terus dia bilang 'Om putar balik saja, dari pada mobil om dibakar'. Panik tuh saya, akhirnya saya ke rumah adik ipar saya di daerah Dadap."

"Sehari kemudian saya mau pulang ke rumah tapi masih dilarang karena katanya masih kerusuhan dan mereka mengincar orang keturunan China. Saya melihat toko-toko bekas dibakar. Saya memang tidak pernah terintimidasi secara fisik, tapi kejadian itu cukup menyedihkan dan tidak mungkin saya lupa," ungkap Herry IP.

Kejadian itu juga membuat Herry IP tersentak tentang isu rasial yang masih terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta. Padahal sejak kecil ia sudah terbiasa hidup membaur tanpa mempermasalahkan perbedaan agama, suku dan ras.

Kenangan Kebersamaan, Sepak Bola, dan Harapan Imlek

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK