Para pebulutangkis Indonesia minim tampil di turnamen karena pandemi Covid-19. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Sepanjang pandemi covid-19 berlangsung, pelatnas PBSI tetap berjalan seperti biasa. PBSI berusaha keras agar ritme dan cara main tiap atlet tetap terjaga.
Karena itu pula simulasi sempat digelar PBSI, baik tahun lalu maupun tahun ini. Namun sekeras-keras dan sesengit-sengitnya simulasi, hal itu tidak akan bisa menggantikan kompetisi yang sesungguhnya.
Andai seri turnamen berjalan normal, setidaknya pelatih dan pemain Indonesia punya gambaran kekuatan terkini, kelebihan dan kelemahan diri sendiri, pun begitu hal tentang kehebatan dan kekurangan lawan.
Namun saat ini seluruh pebulutangkis Indonesia bakal berjalan dengan pandangan yang samar tentang calon lawan. Kekuatan lawan tidak teraba lantaran tak ada turnamen rutin dalam lebih dari satu tahun ke belakang.
Semua negara memang mengalami hal dan situasi yang sama, itu pasti. Namun ada beban tambahan dalam diri pebulutangkis Indonesia sebagai cabang olahraga paling diandalkan.
Dari generasi ke generasi, pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia adalah wajah terdepan yang memikul tanggung jawab terbesar tiap kali Olimpiade datang.
Beban berat itu yang mungkin tak dirasakan negara lain macam Jepang dan China yang punya banyak sumber medali emas di luar bulutangkis.
Selain bersiap secara fisik dan teknik, yang sudah dilakukan selama ini plus persiapan terakhir di Kumamoto nanti, hal lain yang patut diperhatikan adalah hal-hal non teknis di luar lapangan.
Dalam situasi pandemi covid-19, semua serba menjadi tak pasti, terutama terkait kondisi kesehatan.
Sebagai olahraga individu, bulutangkis jadi salah satu olahraga yang rawan soal testing berkala covid-19 selama Olimpiade berlangsung.
Bila terbukti positif dalam perjalanan, mimpi untuk jadi juara pun akan langsung sirna.
Karena itu banyak pertarungan yang harus dilalui para pebulutangkis Indonesia demi bisa meluluskan tradisi emas.
Bukan hanya bertarung dengan lawan di seberang lapangan plus ancaman cedera, para pebulutangkis Indonesia juga berharap nasib baik agar tak terinfeksi covid-19 sepanjang Olimpiade berlangsung.
Situasi ini yang tak ditemui di Olimpiade-olimpiade sebelumnya. Karena itulah, Olimpiade 2020 di tahun 2021 ini jadi yang terberat sepanjang pelaksanaan misi tim bulutangkis meneruskan tradisi medali emas.
Dan sebagai masyarakat biasa, teriring doa yang bisa diapungkan untuk mengiringi perjalanan atlet-atlet Indonesia ke Olimpiade, agar semua pejuang di arena olahraga diberi kesehatan dan keselamatan sejak keberangkatan hingga pulang.
(har)
Jakarta, CNN Indonesia --
Olimpiade Tokyo 2020 ini adalah Olimpiade terberat untuk Tim Bulutangkis Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan di ajang tersebut.
Sejak bulutangkis jadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade pada 1992, Indonesia selalu menaruh harapan pada bulutangkis sebagai tambang medali emas.
Berkat bulutangkis, Indonesia akhirnya bisa memiliki emas Olimpiade yang sebelumnya hanya sekadar mimpi yang masih terlalu tinggi untuk Indonesia.
Status sebagai tambang emas masih belum tergoyahkan hingga saat ini. Bulutangkis masih jadi satu-satunya cabang olahraga yang bisa memberikan medali emas hingga Olimpiade 2016.
Sebelum pandemi covid-19 melanda, Indonesia seperti berada dalam posisi yang terbilang baik untuk bertarung di Olimpiade.
Pada nomor ganda putra, Indonesia memiliki Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang jadi pasangan pebulutangkis nomor satu dan dua dunia.
Sebelum pandemi covid-19, Indonesia sejatinya punya kekuatan yang lumayan apik untuk menghadapi Olimpiade. (Dok. Humas PBSI)
Di nomor tunggal putra, Indonesia bisa berharap pada Jonatan Christie dan Anthony Ginting yang bisa tampil bagus di multi event sebelumnya, Asian Games 2018.
Meski belum masuk kategori unggulan papan atas, Ginting dan Jonatan punya kemampuan untuk mengejutkan dan menang dari pebulutangkis yang lebih diunggulkan macam Kento Momota atau Viktor Axelsen.
Di nomor ganda campuran, Praveen Jordan/Melati Daeva baru saja memenangkan All England 2019. Sedangkan di nomor ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu bisa diharapkan ikut terlibat dalam pertarungan perburuan medali.
Namun seiring pandemi covid-19 melanda, semua hal-hal positif yang jadi keuntungan Indonesia buyar.
Seri-seri turnamen BWF berguguran dan nihil turnamen di sisa tahun 2020. Sempat menggelar tiga turnamen di Thailand disusul Swiss dan All England, seri turnamen level atas BWF kembali mengalami penundaan.
Ditambah kasus kontak erat di All England yang membuat Indonesia tak bisa bertanding, otomatis turnamen terakhir untuk wakil-wakil Indonesia di Olimpiade adalah rangkaian turnamen di Thailand.
Bahkan untuk Kevin/Marcus, rentang turnamen makin jauh. Di luar fakta mereka sempat sekali main di All England 2021, turnamen terakhir yang mereka ikuti adalah All England 2020 karena mereka absen di tiga seri turnamen di Thailand.
Dalam situasi normal, kekuatan di atas kertas bisa jadi gambaran situasi yang mungkin terjadi di Olimpiade nanti.
Namun di tengah situasi pandemi, situasi kekuatan di atas kertas menjadi jauh tak bisa diprediksi. Tanpa turnamen rutin jelang Olimpiade, kekuatan tiap pebulutangkis menjadi sulit terdeteksi.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya...
Berdoa Soal Non Teknis
Para pebulutangkis Indonesia minim tampil di turnamen karena pandemi Covid-19. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Sepanjang pandemi covid-19 berlangsung, pelatnas PBSI tetap berjalan seperti biasa. PBSI berusaha keras agar ritme dan cara main tiap atlet tetap terjaga.
Karena itu pula simulasi sempat digelar PBSI, baik tahun lalu maupun tahun ini. Namun sekeras-keras dan sesengit-sengitnya simulasi, hal itu tidak akan bisa menggantikan kompetisi yang sesungguhnya.
Andai seri turnamen berjalan normal, setidaknya pelatih dan pemain Indonesia punya gambaran kekuatan terkini, kelebihan dan kelemahan diri sendiri, pun begitu hal tentang kehebatan dan kekurangan lawan.
Namun saat ini seluruh pebulutangkis Indonesia bakal berjalan dengan pandangan yang samar tentang calon lawan. Kekuatan lawan tidak teraba lantaran tak ada turnamen rutin dalam lebih dari satu tahun ke belakang.
Semua negara memang mengalami hal dan situasi yang sama, itu pasti. Namun ada beban tambahan dalam diri pebulutangkis Indonesia sebagai cabang olahraga paling diandalkan.
Dari generasi ke generasi, pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia adalah wajah terdepan yang memikul tanggung jawab terbesar tiap kali Olimpiade datang.
Beban berat itu yang mungkin tak dirasakan negara lain macam Jepang dan China yang punya banyak sumber medali emas di luar bulutangkis.
Selain bersiap secara fisik dan teknik, yang sudah dilakukan selama ini plus persiapan terakhir di Kumamoto nanti, hal lain yang patut diperhatikan adalah hal-hal non teknis di luar lapangan.
Dalam situasi pandemi covid-19, semua serba menjadi tak pasti, terutama terkait kondisi kesehatan.
Sebagai olahraga individu, bulutangkis jadi salah satu olahraga yang rawan soal testing berkala covid-19 selama Olimpiade berlangsung.
Bila terbukti positif dalam perjalanan, mimpi untuk jadi juara pun akan langsung sirna.
Karena itu banyak pertarungan yang harus dilalui para pebulutangkis Indonesia demi bisa meluluskan tradisi emas.
Bukan hanya bertarung dengan lawan di seberang lapangan plus ancaman cedera, para pebulutangkis Indonesia juga berharap nasib baik agar tak terinfeksi covid-19 sepanjang Olimpiade berlangsung.
Situasi ini yang tak ditemui di Olimpiade-olimpiade sebelumnya. Karena itulah, Olimpiade 2020 di tahun 2021 ini jadi yang terberat sepanjang pelaksanaan misi tim bulutangkis meneruskan tradisi medali emas.
Dan sebagai masyarakat biasa, teriring doa yang bisa diapungkan untuk mengiringi perjalanan atlet-atlet Indonesia ke Olimpiade, agar semua pejuang di arena olahraga diberi kesehatan dan keselamatan sejak keberangkatan hingga pulang.