Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang keberangkatan ke SEA Games 2007, saya tidak tahu apakah saya diberi target emas oleh pelatih atau pengurus. Saya cuma jalani latihan. Namun saya punya target pribadi.
Pada saat kali pertama ikut SEA Games di 2003, saya finis di posisi keempat. Itu SEA Games pertama saya dan saya sudah bisa memecahkan rekor nasional kategori junior untuk nomor lari 5.000 meter.
Saat itu saya menyaksikan para peraih medali emas berdiri di podium. Berkat mereka, Bendera Merah Putih berkibar dan kita semua bisa bernyanyi Indonesia Raya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jiwa saya terpanggil untuk bisa melakukan hal yang sama. Ketika diberi kesempatan untuk ikut SEA Games lagi di 2007, saya ingin bisa meraih medali emas. Saya menginginkan hal yang sama dengan mereka yang berdiri di podium dan membuat Indonesia Raya terdengar.
Saya berhasil jadi juara. Selain meraih emas 5.000 meter, saya juga memecahkan rekor nasional dan rekor SEA Games. saya bersyukur sama Yang Maha Kuasa diberi kekuatan dan kesempatan. Selama pertandingan, fokus saya hanya garis finis.
Saya sukses meraih dua emas di SEA Games 2007! saya senang sekali.
 Triyaningsih (kanan) punya keinginan kuat untuk mengharumkan nama Indonesia. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/ama) |
Dua tahun berikutnya, saya kembali meraih dua emas untuk nomor 5.000 dan 10 ribu meter. Kali ini saya bisa memecahkan rekor nasional dan rekor SEA Games untuk nomor 10 ribu meter.
Meraih dua emas di nomor lari 5.000 dan 10 ribu meter untuk dua SEA Games beruntun, saya rasa waktu itu saya belum dijuluki Ratu Lari Jarak Jauh. Mungkin julukan itu baru datang saat SEA Games 2011.
Di SEA Games 2011 saya kembali juara di nomor lari 5.000 dan 10 ribu meter ditambah lari maraton. Jadi saya dapat emas di tiga nomor lari jarak jauh. Mungkin dari situ, orang-orang mulai memberikan saya julukan 'Ratu Lari Jarak Jauh'.
Saya mempersiapkan diri dengan baik untuk SEA Games 2011. Karena latihan sudah sangat padat, maka yang bisa saya lakukan selama pertandingan adalah disiplin tidur, makan, dan istirahat.
Di SEA Games 2011 untuk kali pertama saya ikut nomor lari maraton. Saya memang baru mulai terjun di nomor maraton pada 2008. Di SEA Games 2009, saya tidak bisa ikut maraton lantaran jadwal pertandingan yang tak mendukung.
Di SEA Games 2011, ada jeda tiap dua hari sehabis pertandingan. Setelah meraih emas di 5.000 dan 10 ribu, saya fokus untuk pertandingan maraton.
Alhamdulillah saya bisa memimpin dari awal dan memenangi pertandingan. Ternyata setelah pertandingan selesai, kaki saya di-rontgen dan ternyata retak. Selama pertandingan, saya memang tidak terlalu memikirkan masalah-masalah yang ada dalam diri saya.
 Triyaningsih total meraih 11 medali emas di SEA Games. (AFP/MANAN VATSYAYANA) |
Setelah sukses di SEA Games 2011, saya kemudian meraih medali emas lagi di beberapa SEA Games hingga total saya menyabet 11 medali emas SEA Games dari nomor atletik.
Atas pencapaian itu tentu saya berterima kasih pada diri saya sendiri. Saya senang karena tubuh ini bisa diajak bekerja sama.
Selain itu saya juga bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun proses saya jalani, saya juga bergantung pada Yang Maha Kuasa. Bila tiba-tiba sakit, tentu saya tak bisa juara.
Di level Asian Games saya sempat turun di maraton pada 2010 dan finis di posisi keempat. Alhamdulillah bisa pecah rekor nasional maraton meski hanya finis keempat dan tidak dapat medali.
Saya tak melihat itu sebagai sebuah kegagalan yang patut disesalkan berlebihan.
Sepanjang karier, saat saya gagal, paling saya kecewa karena sudah membawa nama bangsa Indonesia dan meraih hasil mengecewakan. Namun saya tidak mau berlarut-larut di situ.
Saya tidak bisa terus menerus memikirkan kegagalan karena saya juga harus terus melangkah maju.
Sebagai atlet saya terbiasa untuk tak mau terlalu membebani diri secara berlebihan. Kalau mau pertandingan, ya sudah biarkan bagaimana nanti hasilnya. Garis start itu milik semua orang, tetapi garis finis Allah yang menentukan.
Jadi selain saya berlatih dan menjalani program latihan setiap hari, saya juga berdoa semoga saya yang dipilih jadi pemenang. Kalau nanti ternyata saya dikasih hasil berbeda, ya sudah. Yang terpenting saya sudah memberikan yang terbaik, begitu saja.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Peran Besar Kakak
Triyaningsih sempat hampir putus asa menekuni dunia lari. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Soal lari, sebenarnya saya sudah kenal lari dari kakak. Kakak saya, Ruwiyati adalah pelari yang juga sudah mengukir prestasi internasional. Rekor SEA Games untuk maraton saat ini pun masih dipegang Ruwiyati.
Meski Ruwiyati adalah pelari nasional, saya tidak langsung menekuni lari sejak kecil. Baru saat lulus SMP, saya ditawari lanjut sekolah di Salatiga. Akhirnya saya sekolah di Madrasah Aliyah sambil mencoba latihan lari di 2002.
Saya belajar dari nol di klub tersebut. Tentu awalnya selalu kalah karena saya benar-benar tidak punya dasar olahraga lari.
Di sekolah, olahraga hanya saat pelajaran olahraga. Jadi saat masuk ke Salatiga, saya benar--benar berada di posisi paling belakang. Mereka semua yang berada di sana sudah fokus ke prestasi.
Mereka yang latihan di sana sudah mendapat pembenaran dan teknik lari dari awal. Begitu saya masuk situ, saya seperti orang awam yang belajar lari. Dari situ saya baru tahu bahwa latihan lari itu tidak sekadar lari saja.
Karena tidak langsung bagus, pernah suatu ketika saya ikut kejuaraan daerah se-Jawa Tengah. Saya turun di nomor lari 1.500 meter. Pesertanya cuma enam dan saya finis di posisi keenam, paling terakhir.
 Triyaningsih pernah finis keenam dari enam peserta saat baru menekuni lari. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana) |
Saya sempat mau menyerah dan tak ingin jadi pelari. Kayaknya saya tidak ada bakat di situ. Cuma karena saya sudah sekolah dan tinggal di situ, jadi saya memutuskan untuk tetap melanjutkan.
Di masa awal itu, saya tidak punya impian jauh untuk seperti kakak. Saat itu, saya sering diejek. Saya sudah SMA, sedangkan anak-anak lainnya masih SMP. Walaupun saya sudah besar, saya lebih sering kalah.
Akhirnya saya tanya ke kakak, bagaimana caranya bisa lari kencang. Saya dikasih tipsnya, dijalani, dan akhirnya bisa unggul dari mereka.
Alhamdulillah dalam waktu enam bulan saya mulai bisa berprestasi dan sering masuk tiga besar. Dalam sebuah kejuaraan, saya bisa masuk tiga besar kategori pelajar, sedangkan kakak masuk tiga besar elite nasional.
Dari situ baru muncul keinginan untuk bisa seperti kakak. saya makin terpacu dan akhirnya bisa masuk pelatnas di tahun 2003 dan menjalani debut di SEA Games 2003.
Jadi bila ditanya siapa pelari idola, ya kakak saya sendiri. Dari dia saya tahu lari sebagai olahraga prestasi. Kakak saya kasih tips, selalu mendukung saat saya down dan berbagi banyak hal.
[Gambas:Video CNN]