Pembuktian Julukan Messi Indonesia di Pundak Egy Maulana
Abdul Susila | CNN Indonesia
Kamis, 02 Sep 2021 10:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Egy Maulana Vikri diharapkan bisa membuktikan kualitas di FK Senica. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --
Egy Maulana Vikri menatap era baru. Setelah tiga musim mencoba peruntungan di Polandia bersama Lechia Gdansk, pemain yang dijuluki Messi Indonesia ini harus memulai dari awal perjuangan bersama FK Senica di Slovakia.
Bintang muda Timnas Indonesia ini resmi dikontrak klub kasta tertinggi Slovakia, FK Senica, dengan durasi enam bulan plus perpanjangan 1,5 tahun jika mendapat jam terbang yang cukup. Kontrak pendek jadi posisi tawar Egy.
Sang agen, Dusan Bogdanovic, ingin Egy diberi kesempatan main yang layak untuk membuktikan kualitasnya. Di usia 21, Egy sudah tak pantas hanya untuk dinilai dan dipantau. Ini saatnya bagi Egy Maulana aktualisasikan julukan mewahnya.
Kualitas dan kapasitas Egy nyaris disia-siakan, jika tidak disebut kalah bersaing, selama membela Lechia Gdansk. Dalam tiga musim pemain kelahiran Medan, Sumatera Utara, ini hanya tampil 10 kali dengan utamanya sebagai pemain cadangan.
Jika tak ada kendala, Egy bakal menjalani debut di Fortuna Liga 2021/2022, nama kompetisi kasta tertinggi Slovakia, pada 11 September mendatang. Lawan yang akan dihadapi klub berjulukan Zahoraci tersebut adalah FK Pohronie Ziar NH Dolna Zdana.
Artinya ada waktu 10 hari bagi pemain terbaik Toulon Tournament 2017 itu untuk beradaptasi. Kualitas Egy sepantasnya muncul dan jadi pertimbangan Pavel Sustr, pelatih FK Senica, dan bukan hanya sebatas memenuhi tuntutan kontrak.
Egy Maulana Vikri hanya dikontrak 6 bulan oleh FK Senica. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Sihir Egy yang menawan bersama Lechia Gdansk II: melesakkan 17 gol dari 23 pertandingan, sepantasnya bereinkarnasi. Durasi pendek enam bulan sudah sepantasnya dipandang sebagai potensi dan bukan sekadar catatan untuk tim usia muda.
Efek media sosial dari kehadiran Egy, dari satu sisi, pun hanya ilusi. Dampak peningkatan jumlah pengikut media sosial FK Senica memang meningkat tajam, tetapi akan terasa hambar jika Egy Maulana tak bisa membuat impresi dari bakat besarnya.
Jumlah pengikut Instagram FK Senica meningkat tajam bak roket hanya dalam sepekan terakhir. Dari awalnya hanya ribuan sebelum nama Egy dikait-kaitkan, hingga Kamis (2/9) pagi pukul 10.00 WIB sudah mencapai 55 ribu pengikut. Itu adalah rekor followers untuk Liga Slovakia.
Mantan striker Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, menilai kontrak pendek yang diminta Egy lewat sang agen ke FK Senica bukan masalah. Kesempatan main di Eropa dengan posisi tawar seperti Egy Maulana tak banyak didapat pemain muda Indonesia.
"Bagi saya bukan masalah kontrak pendek atau panjangnya, tapi kesempatan main di Eropa lebih berharga dan mereka sendiri yang akan berjuang dan menentukan nasib untuk dapat bermain, dan ini sangat bagus untuk mental mereka," kata Kurniawan.
Hingga Desember mendatang, Kurniawan menyarankan, Egy bekerja keras untuk membuktikan kualitas. Jika upaya optimal telah dilakukan, tetapi tetap kalah bersaing dengan pemain Eropa, menatap kompetisi Asia jadi pilihan.
"Saya mendoakan agar mereka sukses dan bisa tembus ke tim 11 pertama pertandingan. [Menurut saya] prioritas pertama adalah tampil di Eropa, kalau memang tidak bisa tembus baru ke Jepang atau Korea," ucap Kurniawan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/9).
Baca lanjutan analisis ini di halaman kedua >>>
Mantan pemain Timnas Indonesia yang pernah tampil di luar negeri, Elie Aiboy, juga mendukung Egy Maulana Vikri bertahan di Eropa. Bagi Elie kompetisi Eropa punya kelas berbeda dibanding liga di Asia, meski untuk negara kelas kedua seperti Slovakia.
Saat ini, kata Elie, Egy harus berjuang keras mendapat debut dalam kompetisi. Saat debut itu datang, sihir permainannya seperti saat membela Timnas Indonesia, harus dieksploitasi habis-habisan. Gol bukan ukuran, tapi efektivitasnya.
"Bagi saya, mau berapa menit bermain, apalagi itu di Eropa, kelasnya berbeda. Mau injury time masuk, kalau dia performa baik dan memberikan yang terbaik untuk tim, itu akan jadi penilaian tersendiri. Yang penting bisa manfaatkan waktu," kata Elie.
"Bagi saya yang penting ada peluang main lebih dulu. Yang pertama, saat latihan tunjukkan performa yang baik. Dari situ nanti pelatih akan melihat, sebab latihan mencerminkan performa dalam pertandingan sesungguhnya," ujarnya menambahkan.
Soal durasi kontrak singkat enam bulan plus perpanjangan 1,5 tahun jika dapat menit main cukup, sebagaimana diminta Egy, sebaliknya malah jadi tolok ukur. Dari durasi pendek ini Egy harus memacu diri membuktikan kapasitas.
Tuntutan jaminan main dalam durasi tertentu di dalam klausul kontrak niscaya tak akan bisa dipenuhi jika pelatih menilai Egy tak memenuhi ekspektasi. Dalam hal ini dorongan dalam diri sendiri menjadi kunci.
"Durasi kontrak yang pendek malah jadi kesempatan untuk memacu diri. Tunjukkan mampu bersaing di Eropa. Bagi saya, tidak peduli di Eropa atau Asia, kalau dapat kesempatan main harus tunjukkan pantas," ucap mantan pemain Selangor FC ini.
Tak hanya untuk Egy Maulana, hal sama berlaku bagi Witan Sulaeman resmi dikontrak Lechia Gdansk, Asnawi Mangkualam bahar di Korea Selatan, Yanto Basna di Thailand, juga Saddil Ramdani dan Ryuji Utomo Prabowo di Malaysia.
Pemain-pemain muda ini, selain mengaktualisasikan diri secara personal, juga menjadi representasi bangsa Indonesia. Jika mereka tampil impresif dan membuat prestasi, generasi muda Indonesia lainnya sedikit banyak akan dilirik.
Hal ini relatif seperti pemain-pemain Jepang dan Korea Selatan yang masif merambah Eropa pada dekade terakhir abad ke-20. Dari awalnya satu-dua pemain, makin banyak klub Eropa berminat karena pemain yang datang merepresentasikan kualitas.
Elie mengingatkan pemain-pemain muda Indonesia yang ingin berkarier di luar negeri tak banyak memikirkan gaji. Yang utama saat merantau adalah membuktikan kualitas. Jika prestasi hadir, bayaran otomatis akan meningkat dengan sendirinya.
"Kita jangan sampai diganggu finansial [harga kontrak yang besar]. Pertama kualitas. Kalau itu muncul, harga akan datang. Otomatis klub akan menghargai kita, akan membayar kita dengan nilai yang tinggi," ujar Elie berpesan.
Kembali ke Egy Maulana Vikri yang ditulis media-media Slovakia dengan sebutan Messi Indonesia, semoga tak jadi ilusi. Egy bukan Messi dan sebaliknya, tetapi Egy juga punya bakat besar sehingga jutaan masyarakat Indonesia menitip harapan padanya.
Egy Maulana Vikri menatap era baru. Setelah tiga musim mencoba peruntungan di Polandia bersama Lechia Gdansk, pemain yang dijuluki Messi Indonesia ini harus memulai dari awal perjuangan bersama FK Senica di Slovakia.
Bintang muda Timnas Indonesia ini resmi dikontrak klub kasta tertinggi Slovakia, FK Senica, dengan durasi enam bulan plus perpanjangan 1,5 tahun jika mendapat jam terbang yang cukup. Kontrak pendek jadi posisi tawar Egy.
Sang agen, Dusan Bogdanovic, ingin Egy diberi kesempatan main yang layak untuk membuktikan kualitasnya. Di usia 21, Egy sudah tak pantas hanya untuk dinilai dan dipantau. Ini saatnya bagi Egy Maulana aktualisasikan julukan mewahnya.
Kualitas dan kapasitas Egy nyaris disia-siakan, jika tidak disebut kalah bersaing, selama membela Lechia Gdansk. Dalam tiga musim pemain kelahiran Medan, Sumatera Utara, ini hanya tampil 10 kali dengan utamanya sebagai pemain cadangan.
Jika tak ada kendala, Egy bakal menjalani debut di Fortuna Liga 2021/2022, nama kompetisi kasta tertinggi Slovakia, pada 11 September mendatang. Lawan yang akan dihadapi klub berjulukan Zahoraci tersebut adalah FK Pohronie Ziar NH Dolna Zdana.
Artinya ada waktu 10 hari bagi pemain terbaik Toulon Tournament 2017 itu untuk beradaptasi. Kualitas Egy sepantasnya muncul dan jadi pertimbangan Pavel Sustr, pelatih FK Senica, dan bukan hanya sebatas memenuhi tuntutan kontrak.
Egy Maulana Vikri hanya dikontrak 6 bulan oleh FK Senica. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Sihir Egy yang menawan bersama Lechia Gdansk II: melesakkan 17 gol dari 23 pertandingan, sepantasnya bereinkarnasi. Durasi pendek enam bulan sudah sepantasnya dipandang sebagai potensi dan bukan sekadar catatan untuk tim usia muda.
Efek media sosial dari kehadiran Egy, dari satu sisi, pun hanya ilusi. Dampak peningkatan jumlah pengikut media sosial FK Senica memang meningkat tajam, tetapi akan terasa hambar jika Egy Maulana tak bisa membuat impresi dari bakat besarnya.
Jumlah pengikut Instagram FK Senica meningkat tajam bak roket hanya dalam sepekan terakhir. Dari awalnya hanya ribuan sebelum nama Egy dikait-kaitkan, hingga Kamis (2/9) pagi pukul 10.00 WIB sudah mencapai 55 ribu pengikut. Itu adalah rekor followers untuk Liga Slovakia.
Mantan striker Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, menilai kontrak pendek yang diminta Egy lewat sang agen ke FK Senica bukan masalah. Kesempatan main di Eropa dengan posisi tawar seperti Egy Maulana tak banyak didapat pemain muda Indonesia.
"Bagi saya bukan masalah kontrak pendek atau panjangnya, tapi kesempatan main di Eropa lebih berharga dan mereka sendiri yang akan berjuang dan menentukan nasib untuk dapat bermain, dan ini sangat bagus untuk mental mereka," kata Kurniawan.
Hingga Desember mendatang, Kurniawan menyarankan, Egy bekerja keras untuk membuktikan kualitas. Jika upaya optimal telah dilakukan, tetapi tetap kalah bersaing dengan pemain Eropa, menatap kompetisi Asia jadi pilihan.
"Saya mendoakan agar mereka sukses dan bisa tembus ke tim 11 pertama pertandingan. [Menurut saya] prioritas pertama adalah tampil di Eropa, kalau memang tidak bisa tembus baru ke Jepang atau Korea," ucap Kurniawan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/9).
Baca lanjutan analisis ini di halaman kedua >>>
Kontrak Pendek Sarana Pacu Diri
Egy Maulana Vikri harus mampu membuktikan kualitas di FK Senica. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Mantan pemain Timnas Indonesia yang pernah tampil di luar negeri, Elie Aiboy, juga mendukung Egy Maulana Vikri bertahan di Eropa. Bagi Elie kompetisi Eropa punya kelas berbeda dibanding liga di Asia, meski untuk negara kelas kedua seperti Slovakia.
Saat ini, kata Elie, Egy harus berjuang keras mendapat debut dalam kompetisi. Saat debut itu datang, sihir permainannya seperti saat membela Timnas Indonesia, harus dieksploitasi habis-habisan. Gol bukan ukuran, tapi efektivitasnya.
"Bagi saya, mau berapa menit bermain, apalagi itu di Eropa, kelasnya berbeda. Mau injury time masuk, kalau dia performa baik dan memberikan yang terbaik untuk tim, itu akan jadi penilaian tersendiri. Yang penting bisa manfaatkan waktu," kata Elie.
"Bagi saya yang penting ada peluang main lebih dulu. Yang pertama, saat latihan tunjukkan performa yang baik. Dari situ nanti pelatih akan melihat, sebab latihan mencerminkan performa dalam pertandingan sesungguhnya," ujarnya menambahkan.
Soal durasi kontrak singkat enam bulan plus perpanjangan 1,5 tahun jika dapat menit main cukup, sebagaimana diminta Egy, sebaliknya malah jadi tolok ukur. Dari durasi pendek ini Egy harus memacu diri membuktikan kapasitas.
Tuntutan jaminan main dalam durasi tertentu di dalam klausul kontrak niscaya tak akan bisa dipenuhi jika pelatih menilai Egy tak memenuhi ekspektasi. Dalam hal ini dorongan dalam diri sendiri menjadi kunci.
"Durasi kontrak yang pendek malah jadi kesempatan untuk memacu diri. Tunjukkan mampu bersaing di Eropa. Bagi saya, tidak peduli di Eropa atau Asia, kalau dapat kesempatan main harus tunjukkan pantas," ucap mantan pemain Selangor FC ini.
Tak hanya untuk Egy Maulana, hal sama berlaku bagi Witan Sulaeman resmi dikontrak Lechia Gdansk, Asnawi Mangkualam bahar di Korea Selatan, Yanto Basna di Thailand, juga Saddil Ramdani dan Ryuji Utomo Prabowo di Malaysia.
Pemain-pemain muda ini, selain mengaktualisasikan diri secara personal, juga menjadi representasi bangsa Indonesia. Jika mereka tampil impresif dan membuat prestasi, generasi muda Indonesia lainnya sedikit banyak akan dilirik.
Hal ini relatif seperti pemain-pemain Jepang dan Korea Selatan yang masif merambah Eropa pada dekade terakhir abad ke-20. Dari awalnya satu-dua pemain, makin banyak klub Eropa berminat karena pemain yang datang merepresentasikan kualitas.
Elie mengingatkan pemain-pemain muda Indonesia yang ingin berkarier di luar negeri tak banyak memikirkan gaji. Yang utama saat merantau adalah membuktikan kualitas. Jika prestasi hadir, bayaran otomatis akan meningkat dengan sendirinya.
"Kita jangan sampai diganggu finansial [harga kontrak yang besar]. Pertama kualitas. Kalau itu muncul, harga akan datang. Otomatis klub akan menghargai kita, akan membayar kita dengan nilai yang tinggi," ujar Elie berpesan.
Kembali ke Egy Maulana Vikri yang ditulis media-media Slovakia dengan sebutan Messi Indonesia, semoga tak jadi ilusi. Egy bukan Messi dan sebaliknya, tetapi Egy juga punya bakat besar sehingga jutaan masyarakat Indonesia menitip harapan padanya.