Richard Mainaky, Pengubah Irama Ganda Campuran Indonesia
Selepas era Nova/Liliyana, Richard memutuskan menduetkan Tontowi Ahmad dengan Liliyana Natsir. Duet ini juga terbilang mengejutkan lantaran ada beberapa pemain yang lebih senior dibandingkan Tontowi saat itu.
Namun insting Richard terbukti tepat. Tontowi/Liliyana berhasil menjelma jadi ganda campuran yang disegani oleh lawan-lawan.
Tontowi/Liliyana merebut dua gelar juara dunia, hattrick All England, dan puncaknya meraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Emas Tontowi/Liliyana ini pula yang membuat penantian Richard berakhir manis usai dua kali melihat pemainnya kalah di final Olimpiade.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tontowi/Liliyana sukses merebut emas Olimpiade. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Prestasi mentereng yang ditorehkan atlet-atlet ganda campuran Indonesia dalam dua dekade terakhir turut membantu perkembangan regenerasi ganda campuran. Di tangan Richard, selain nama-nama di atas, Indonesia juga sempat memiliki duet Muhammad Rijal/Vita Marissa, Praveen Jordan/Debby Susanto, dan hingga kini Praveen Jordan/Melati yang cukup disegani.
Saat ini nomor ganda campuran sudah kebanjiran peminat. Banyak atlet yang sudah fokus ke nomor ganda campuran sejak usia remaja atau taruna. Nomor ganda campuran tak lagi mendapatkan atlet dari nomor-nomor lain.
Ganda campuran pun terus konsisten jadi tulang punggung Indonesia di tiap turnamen hingga saat ini. Dan untuk hal itu, rasa terima kasih mendalam patut disampaikan bertubi-tubi ke Richard Mainaky.
(ptr/har)Nomor ganda campuran awalnya adalah nomor yang tidak begitu dianggap. Lalu Richard Mainaky hadir membuat nomor ganda campuran bisa jadi andalan di Indonesia.
Richard Mainaky mulai ditunjuk sebagai kepala pelatih ganda campuran pada 1997, dua tahun setelah berperan sebagai asisten pelatih. Sejak saat itu, Richard mulai berusaha keras mengubah mindset yang kerap melekat di nomor ganda campuran sebagai nomor yang tak terlalu dianggap di pelatnas Cipayung.
Torehan pertama Richard adalah mengantar Trikusharjanto/Minarti Timur meraih medali perak Olimpiade Sydney 2000. Dengan peluang meraih medali yang sama di Olimpiade, Richard makin bertekad memajukan nomor ganda campuran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya justru melihat dengan hasil begitu [medali perak Olimpiade], nomor ganda campuran yang tidak dilihat orang, tidak memiliki banyak peminat, mampu memberikan hasil cukup luar biasa dengan tampil di final," ucap Richard pada CNN Indonesia di 2020.
Selepas itu, Richard makin semangat mencari dan meracik pemain-pemain ganda campuran. Richard sempat memasangkan Nova Widianto dengan Vita Marissa. Lalu usai Vita cedera, Richard memutuskan memasangkan Nova dengan Liliyana Natsir.
Saat itu Liliyana masih fokus pada nomor ganda putri di Pelatnas Cipayung.
"Saya lihat Butet [Liliyana Natsir] main mix galak banget, simpel sekali mainnya. Netting, block, backhand smash, defend bagus. Saat selesai, saya tanya Nova, 'Coba kamu bayangkan bagaimana bila partner di depan kamu itu Butet'.
"Saya tanya kesediaan dia berpasangan dengan Butet. Lalu Nova menjawab 'Kalau dia mau, saya juga mau sama Butet'," ucap Richard mengenang.
Pasangan Nova/Liliyana ini yang makin mengangkat pamor ganda campuran Indonesia. Nova/Liliyana merebut dua gelar juara dunia, satu medali perak Olimpiade, plus peringkat satu dunia.
Tak sampai di situ, Indonesia juga pasangan Flandy Limpele/Vita Marissa yang masuk deretan ganda campuran elite di era 2000-an. Kedua pasang ini yang sering mengharumkan nama Indonesia di rangkaian turnamen BWF.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Ganda Campuran Kini Dibanjiri Peminat
Trikusharjanto/Minarti Timur jadi salah satu atlet didikan Richard Mainaky yang merebut perak Olimpiade. (AFP/ROBYN BECK)
Selepas era Nova/Liliyana, Richard memutuskan menduetkan Tontowi Ahmad dengan Liliyana Natsir. Duet ini juga terbilang mengejutkan lantaran ada beberapa pemain yang lebih senior dibandingkan Tontowi saat itu.
Namun insting Richard terbukti tepat. Tontowi/Liliyana berhasil menjelma jadi ganda campuran yang disegani oleh lawan-lawan.
Tontowi/Liliyana merebut dua gelar juara dunia, hattrick All England, dan puncaknya meraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Emas Tontowi/Liliyana ini pula yang membuat penantian Richard berakhir manis usai dua kali melihat pemainnya kalah di final Olimpiade.
Tontowi/Liliyana sukses merebut emas Olimpiade. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Prestasi mentereng yang ditorehkan atlet-atlet ganda campuran Indonesia dalam dua dekade terakhir turut membantu perkembangan regenerasi ganda campuran. Di tangan Richard, selain nama-nama di atas, Indonesia juga sempat memiliki duet Muhammad Rijal/Vita Marissa, Praveen Jordan/Debby Susanto, dan hingga kini Praveen Jordan/Melati yang cukup disegani.
Saat ini nomor ganda campuran sudah kebanjiran peminat. Banyak atlet yang sudah fokus ke nomor ganda campuran sejak usia remaja atau taruna. Nomor ganda campuran tak lagi mendapatkan atlet dari nomor-nomor lain.
Ganda campuran pun terus konsisten jadi tulang punggung Indonesia di tiap turnamen hingga saat ini. Dan untuk hal itu, rasa terima kasih mendalam patut disampaikan bertubi-tubi ke Richard Mainaky.
Tontowi/Liliyana sukses merebut emas Olimpiade. (CNN Indonesia/Safir Makki)