Indonesia vs Denmark: Pembuktian Tunggal Tak Lagi Tertinggal
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Sabtu, 16 Okt 2021 15:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jonatan Christie jadi salah satu harapan Indonesia meraih poin di laga lawan Denmark. (AP/Dita Alangkara)
Jakarta, CNN Indonesia --
Duel Indonesia vs Denmark hadir di semifinal Thomas Cup, Sabtu (16/10). Pasukan tunggal Indonesia harus membuktikan mereka tak lagi tertinggal.
Di atas kertas, Indonesia punya keunggulan di nomor ganda, sedangkan Denmark lebih baik di nomor tunggal. Lantaran Thomas Cup mempertandingkan nomor tunggal lebih banyak, otomatis gambaran strategi kasar Indonesia adalah mengamankan dua nomor ganda dan mencuri satu nomor tunggal.
Lima tahun lalu, cerita Indonesia vs Denmark terbilang serupa. Indonesia dianggap unggul di nomor ganda sedangkan Denmark lebih berpengalaman di nomor tunggal.
Hasilnya, Indonesia dan Denmark sama-sama mengamankan nomor andalan. Dengan demikian, Denmark keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2 di akhir pertandingan.
Dalam kekalahan tersebut, Anthony Ginting dan Jonatan Christie adalah sosok yang masih bertahan di skuad Indonesia di Thomas Cup kali ini. Jonatan saat itu tidak tampil di final namun sering mendapat kepercayaan turun bermain selama Thomas Cup 2016 berjalan.
Meski Indonesia kalah di final, Ginting dan Jonatan dianggap sebagai salah satu sinyal masa depan bagus Indonesia di badminton. Ginting saat itu masih berusia 20 tahun, dan Jonatan berumur 19 tahun.
Lima tahun berselang, Ginting dan Jonatan sudah bertambah matang seiring banyaknya pengalaman. Di kubu Denmark, Viktor Axelsen juga menjelma makin hebat dibanding lima tahun lalu.
Axelsen kini sudah berstatus sebagai juara dunia dan juara Olimpiade. Satu pemain lain yang masih ada ialah Hans-Kristian Vittinghus yang kembali dipercaya turun di partai kelima.
Berdasarkan peta kekuatan, Ginting dan Jonatan yang hadir di hadapan Denmark kali ini jauh lebih baik dibandingkan kondisi mereka lima tahun lalu. Harapan Indonesia untuk mencuri poin dari nomor tunggal pun disematkan pada mereka.
Axelsen memang seolah tak tersentuh sejak juara Olimpiade. Namun performa Ginting yang meningkat dalam dua laga terakhir otomatis memberikan harapan.
Dari rekor pertemuan, Ginting vs Axelsen sama kuat, 4-4. Ginting memang kalah dalam dua pertemuan terakhir di 2021, namun hal itu berarti juga Ginting pernah jadi sosok yang sulit dikalahkan oleh Axelsen.
Bila Ginting bisa mendapatkan ritme permainan sejak awal, ada harapan melihat Axelsen mendapatkan kesulitan yang sudah lama tak pernah ia rasakan.
Sedangkan Jonatan, duel lawan Anders Antonsen juga tak patut dianggap sebagai duel yang jomplang. Jonatan menang dalam rekor pertemuan lawan Antonsen dan pemikiran serta keyakinan itu yang sepatutnya dipegang oleh Jonatan.
Antonsen memang menunjukkan peningkatan performa yang signifikan, tetapi jam terbang miliknya di kejuaraan beregu masih di bawah Jonatan. Celah itu yang bisa dieksplorasi oleh Jonatan di laga nanti.
Sedangkan di tunggal ketiga alias partai kelima, Denmark memilih menempatkan Vittinghus dibandingkan Rasmus Gemke yang memiliki peringkat lebih baik.
Hal ini menunjukkan bahwa Vittinghus masih diyakini punya pengalaman lebih baik dan mental yang bagus untuk tampil di laga penentu.
Andai laga sampai ke partai kelima, Indonesia menurunkan Shesar Hiren Rhustavito. Vito sudah membuktikan bahwa ia adalah sosok yang cukup layak dipercaya turun di partai penentuan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Indonesia tengah menyiapkan strategi untuk mencuri poin dari nomor tunggal di semifinal Thomas Cup. Namun yang mesti diwaspadai, Indonesia juga harus benar-benar mengamankan nomor ganda.
Denmark sendiri bukan tanpa perlawanan di nomor ganda. Sosok Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen merupakan salah satu ganda yang sering mencuri perhatian di turnamen-turnamen BWF.
Dari rekor pertemuan, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon punya bekal kemenangan 7-1. Kevin/Marcus bakal dipercaya mengamankan poin dari nomor ganda pertama.
Sedangkan di nomor ganda kedua, alias partai keempat, Denmark coba membuat strategi kejutan. Denmark memilih memainkan Mathias Christiansen dengan Frederik Sogaard.
Ganda rombakan ini yang bakal diharapkan bisa mengejutkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dari Indonesia.
Melihat penampilan Fajar/Rian selama ini, ganda putra nomor tujuh dunia tersebut punya tren permainan yang cenderung konsisten. Fajar/Rian layak dipercaya untuk mengamankan poin dari nomor ganda kedua.
Indonesia dan Denmark sama-sama sadar peraturan penting dalam duel sengit nanti. Semakin cepat mencuri nomor andalan lawan, berarti makin cepat peluang untuk mengakhiri pertandingan sebagai pemenang.
Ginting dan Jonatan punya momen yang pas untuk membuktikan bahwa kekuatan mereka tak lagi tertinggal jauh dari skuad tunggal Denmark bila dibandingkan lima tahun silam.
Karena itu ketika Ginting atau Jonatan bisa mencuri kemenangan, di saat itu pula angin kemenangan mulai berembus ke kubu Indonesia.
Duel Indonesia vs Denmark hadir di semifinal Thomas Cup, Sabtu (16/10). Pasukan tunggal Indonesia harus membuktikan mereka tak lagi tertinggal.
Di atas kertas, Indonesia punya keunggulan di nomor ganda, sedangkan Denmark lebih baik di nomor tunggal. Lantaran Thomas Cup mempertandingkan nomor tunggal lebih banyak, otomatis gambaran strategi kasar Indonesia adalah mengamankan dua nomor ganda dan mencuri satu nomor tunggal.
Lima tahun lalu, cerita Indonesia vs Denmark terbilang serupa. Indonesia dianggap unggul di nomor ganda sedangkan Denmark lebih berpengalaman di nomor tunggal.
Hasilnya, Indonesia dan Denmark sama-sama mengamankan nomor andalan. Dengan demikian, Denmark keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2 di akhir pertandingan.
Dalam kekalahan tersebut, Anthony Ginting dan Jonatan Christie adalah sosok yang masih bertahan di skuad Indonesia di Thomas Cup kali ini. Jonatan saat itu tidak tampil di final namun sering mendapat kepercayaan turun bermain selama Thomas Cup 2016 berjalan.
Meski Indonesia kalah di final, Ginting dan Jonatan dianggap sebagai salah satu sinyal masa depan bagus Indonesia di badminton. Ginting saat itu masih berusia 20 tahun, dan Jonatan berumur 19 tahun.
Lima tahun berselang, Ginting dan Jonatan sudah bertambah matang seiring banyaknya pengalaman. Di kubu Denmark, Viktor Axelsen juga menjelma makin hebat dibanding lima tahun lalu.
Axelsen kini sudah berstatus sebagai juara dunia dan juara Olimpiade. Satu pemain lain yang masih ada ialah Hans-Kristian Vittinghus yang kembali dipercaya turun di partai kelima.
Berdasarkan peta kekuatan, Ginting dan Jonatan yang hadir di hadapan Denmark kali ini jauh lebih baik dibandingkan kondisi mereka lima tahun lalu. Harapan Indonesia untuk mencuri poin dari nomor tunggal pun disematkan pada mereka.
Axelsen memang seolah tak tersentuh sejak juara Olimpiade. Namun performa Ginting yang meningkat dalam dua laga terakhir otomatis memberikan harapan.
Dari rekor pertemuan, Ginting vs Axelsen sama kuat, 4-4. Ginting memang kalah dalam dua pertemuan terakhir di 2021, namun hal itu berarti juga Ginting pernah jadi sosok yang sulit dikalahkan oleh Axelsen.
Bila Ginting bisa mendapatkan ritme permainan sejak awal, ada harapan melihat Axelsen mendapatkan kesulitan yang sudah lama tak pernah ia rasakan.
Sedangkan Jonatan, duel lawan Anders Antonsen juga tak patut dianggap sebagai duel yang jomplang. Jonatan menang dalam rekor pertemuan lawan Antonsen dan pemikiran serta keyakinan itu yang sepatutnya dipegang oleh Jonatan.
Antonsen memang menunjukkan peningkatan performa yang signifikan, tetapi jam terbang miliknya di kejuaraan beregu masih di bawah Jonatan. Celah itu yang bisa dieksplorasi oleh Jonatan di laga nanti.
Sedangkan di tunggal ketiga alias partai kelima, Denmark memilih menempatkan Vittinghus dibandingkan Rasmus Gemke yang memiliki peringkat lebih baik.
Hal ini menunjukkan bahwa Vittinghus masih diyakini punya pengalaman lebih baik dan mental yang bagus untuk tampil di laga penentu.
Andai laga sampai ke partai kelima, Indonesia menurunkan Shesar Hiren Rhustavito. Vito sudah membuktikan bahwa ia adalah sosok yang cukup layak dipercaya turun di partai penentuan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Mewaspadai Kejutan Denmark di Ganda
Selain berupaya mencuri poin di nomor tunggal, Indonesia juga harus mengamankan dua nomor ganda. (AP/Markus Schreiber)
Indonesia tengah menyiapkan strategi untuk mencuri poin dari nomor tunggal di semifinal Thomas Cup. Namun yang mesti diwaspadai, Indonesia juga harus benar-benar mengamankan nomor ganda.
Denmark sendiri bukan tanpa perlawanan di nomor ganda. Sosok Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen merupakan salah satu ganda yang sering mencuri perhatian di turnamen-turnamen BWF.
Dari rekor pertemuan, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon punya bekal kemenangan 7-1. Kevin/Marcus bakal dipercaya mengamankan poin dari nomor ganda pertama.
Sedangkan di nomor ganda kedua, alias partai keempat, Denmark coba membuat strategi kejutan. Denmark memilih memainkan Mathias Christiansen dengan Frederik Sogaard.
Ganda rombakan ini yang bakal diharapkan bisa mengejutkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dari Indonesia.
Melihat penampilan Fajar/Rian selama ini, ganda putra nomor tujuh dunia tersebut punya tren permainan yang cenderung konsisten. Fajar/Rian layak dipercaya untuk mengamankan poin dari nomor ganda kedua.
Indonesia dan Denmark sama-sama sadar peraturan penting dalam duel sengit nanti. Semakin cepat mencuri nomor andalan lawan, berarti makin cepat peluang untuk mengakhiri pertandingan sebagai pemenang.
Ginting dan Jonatan punya momen yang pas untuk membuktikan bahwa kekuatan mereka tak lagi tertinggal jauh dari skuad tunggal Denmark bila dibandingkan lima tahun silam.
Karena itu ketika Ginting atau Jonatan bisa mencuri kemenangan, di saat itu pula angin kemenangan mulai berembus ke kubu Indonesia.