KOLOM

Thomas Cup Pulang dan Cerita Manis Penantian Panjang

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Senin, 18 Oct 2021 11:07 WIB
Generasi pebulutangkis putra saat ini sudah ditempa lama untuk jadi andalan. Thomas Cup 2020 akhirnya jadi bukti yang bisa mereka tinggalkan.
Jakarta, CNN Indonesia --

Jonatan Christie sudah memimpin 20-14 di gim ketiga. Para pemain Indonesia sudah meninggalkan bangku dan bersiap-siap turun menuju lapangan pertandingan. Selisih yang signifikan membuat mereka yakin Indonesia akan memenangi gelar juara.

Smes silang Jonatan tidak bisa dikembalikan lawan. Angka ke-21 untuk Jonatan. Thomas Cup ke-14 untuk Indonesia.

Jonatan melompat dan berteriak. Pemain-pemain Indonesia lainnya berlari dan bersorak.


----------------------------------------------

Pada 2013 lalu, Jonatan bersama Anthony Ginting dan Kevin Sanjaya Sukamuljo adalah tiga dari banyak pemain-pemain muda yang resmi masuk jadi anggota pelatnas Cipayung. Jonatan masih berusia 15, Ginting setahun lebih tua, dan Kevin berumur 17.

Gita Wirjawan, Ketua Umum PBSI saat itu bersama Kabid Binpres PBSI Rexy Mainaky menyatakan Indonesia harus bersiap dan mengambil langkah signifikan untuk mengejar ketinggalan.

Pemain muda Indonesia harus dimajukan, diterjunkan langsung untuk menghadapi pertempuran kelas utama. Agar mental mereka terbentuk kuat, agar mereka matang lebih cepat.

Tahun-tahun berikutnya, lalu masuk nama Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, dan Chico Aura Dwi Wardoyo. Sedangkan Shesar Hiren Rhustavito dan Marcus Fernaldi Gideon sudah lebih dulu masuk pelatnas, sempat keluar, dan akhirnya berhasil mencuri perhatian masuk lagi sebagai anggota pelatnas.

Indonesia's Jonatan Christie celebrates after winning the men's single match in the Thomas Cup mens team final match between China and Indonesia, in Aarhus, Denmark, Sunday Oct. 17, 2021. (Claus Fisker/Ritzau Scanpix via AP)Jonatan Christie memastikan kemenangan Indonesia di ajang Thomas Cup. (AP/Claus Fisker)

Proyeksi pemain-pemain muda itu demi menyongsong masa depan dalam waktu jangka panjang, terutama proyeksi Olimpiade 2020 dan kejuaraan-kejuaraan besar seperti Piala Thomas-Uber dan Piala Sudirman.

Hal yang telah dirintis oleh Gita dan Rexy ini yang kemudian diteruskan oleh Wiranto dan Susy Susanti, lalu berlanjut ke Agung Firman Sampurna dan Rionny Mainaky saat ini.

Namun berbicara tentang pembinaan yang berkelanjutan, tak semuanya mulus dan sesuai rencana. Ada hal-hal terjal yang menghambat rombongan pemain muda Indonesia menuai hasil yang menggembirakan dan menyenangkan.

Rombongan pemain muda berisi Jonatan, Kevin, dan kawan-kawan ini sejak awal diberi label dan harapan sebagai 'Generasi Emas'. Mereka sudah berbicara banyak di level junior. Nama mereka sudah diperbincangkan sejak turun di turnamen usia muda.

Rasanya di generasi-generasi sebelumnya, pembicaraan tentang pemain-pemain junior tidak semasif di era ketika Ginting dan kawan-kawan berada. Satu hal yang pasti, mereka sudah jadi sorotan sejak usia belasan.

Ketika Indonesia masuk ke final Thomas Cup 2016, namun hanya jadi runner up, banyak aura optimisme yang tetap beredar.

Marcus Fernaldi Gideon and Kevin Sanjaya Sukamuljo, of Indonesia, in action against Denmark's Kim Astrup and Anders Skaarup Rasmussen during the Thomas Cup men's double semifinal badminton match in Aarhus, Denmark, Saturday, Oct. 16, 2021. (Claus Fisker/Ritzau Scanpix via AP)Kevin/Marcus ada dalam tim Thomas Cup 2016 yang jadi runner up di akhir turnamen. (AP/Claus Fisker)

Dengan materi tim yang berisi pemain muda, Indonesia bisa lolos ke final dan hal itu mencuatkan harapan bahwa skuad muda Indonesia akan makin matang di masa depan.

Namun nyatanya, harapan tak akan selalu mulus menjadi kenyataan. Tahun-tahun kemudian, hanya Kevin/Marcus yang langsung bisa melesat jadi pemain papan atas selepas Thomas up 2016.

Kevin/Marcus sukses mengemban tugas sebagai andalan Indonesia di tiap turnamen selepas era Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Karena materi tim yang belum matang itu pula, Indonesia malah mengalami penurunan dan tersisih di semifinal Thomas Cup 2018.

Optimisme terhadap sektor putra kembali naik seiring prestasi di Asian Games 2018, beberapa bulan berselang usai kegagalan di Thomas Cup. Jonatan bisa meraih emas, Ginting merebut perunggu, sedangkan Kevin/Marcus dan Fajar/Rian sukses menciptakan All Indonesian Final.

Hal itu dianggap jadi sinyal kuat Indonesia sudah punya skuad yang mumpuni untuk merebut Thomas Cup meski masih gagal memenangi emas di nomor beregu Asian Games.

Perasaan campur aduk makin bertambah karena di 2019, Ahsan/Hendra bangkit dan memenangi All England, Kejuaraan Dunia, dan BWF World Tour Finals di tahun yang sama. Tetapi di sisi lain, Ginting dan Jonatan belum benar-benar jadi penguasa tur BWF seperti yang diharapkan.

Terlepas dari plus-minus tim Indonesia, skuad Merah-Putih menempati posisi unggulan pertama jelang Thomas Cup 2020.

Hal itu pertanda bahwa Indonesia punya materi tim paling bagus dan punya skuad paling dalam. Indonesia punya tiga ganda top dunia ditambah Ginting dan Jonatan yang langganan 10 besar.

Saat semua bersiap menyambut Thomas Cup 2020, pandemi covid-19 kemudian melanda.

Indonesia juara Thomas Cup.Prestasi pemain-pemain putra Indonesia mengalami pasang-surut dalam beberapa tahun terakhir. (AP)

Babak Belur Sebelum Angkat Trofi Thomas Cup

Pandemi covid-19 melanda dan sisa turnamen di 2020 dibatalkan atau ditunda seperti Thomas Cup yang digeser ke 2021.

Penundaan ini kemudian seolah terlihat merugikan bagi Indonesia ketika menilik performa pemain-pemain putra di sepanjang gelaran 2021.

Dalam turnamen yang jadi sasaran utama, Olimpiade 2020, Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra gagal menyumbang medali meski berlabel sebagai dua unggulan teratas.

Di nomor tunggal putra Ginting merebut perunggu, sedangkan Jonatan tampil anti klimaks sehingga tak bisa bertahan hingga babak akhir turnamen.

Menelan kekecewaan di Olimpiade, skuad putra Indonesia kembali dihajar kenyataan pahit di ajang Piala Sudirman. Indonesia kalah dari Malaysia di perempat final dengan nomor tunggal putra dan ganda putra sebagai nomor yang dicuri dari Malaysia.

Sepanjang gelaran Sudirman Cup ini pula, penampilan Ginting dan Jonatan serta Kevin/Marcus sama sekali tidak meyakinkan.

Dalam kondisi gawat darurat, Indonesia hanya punya satu pekan untuk berbenah. Tetapi rupanya bagi Indonesia, sebaik-baiknya pelajaran adalah sebuah kegagalan.

Kegagalan di Piala Sudirman benar-benar jadi pukulan telak. Catatan itu yang membuat ada motivasi dan amarah dalam diri tiap pemain bergejolak.

Bak cerita film, Indonesia dan pendukungnya, kecuali saat berhadapan dengan Aljazair, sama sekali tidak melalui hari-hari yang tenang.  Semua hari terasa menegangkan.

Saat melawan Thailand, Indonesia menunggu Vito jadi juru selamat. Saat sudah mengantongi dua kemenangan di tangan, Indonesia masih dalam bayangan ancaman gagal lolos bila kalah dari Taiwan.

Indonesia juara Thomas CupSemua pemain dalam skuad Thomas Cup Indonesia tahun ini punya peran penting untuk meraih kemenangan. (AP)

Di duel hidup-mati lawan Taiwan, Indonesia juga bisa menang dengan skor 3-2, lagi-lagi lewat angka penentuan yang disumbang Vito.

Dalam dua hasil dramatis itu, sektor ganda dan sektor tunggal bergantian jadi penyambung nafas Indonesia untuk mencapai partai kelima.

Lolos sebagai juara grup, Indonesia langsung bertemu Malaysia yang memberikan mimpi buruk pekan sebelumnya. Indonesia ternyata bisa menang telak 3-0.

Berjumpa Denmark di semifinal, negara dengan sektor tunggal putra terkuat, Indonesia melewatinya dengan skor 3-1.

Melawan juara bertahan China di final, Indonesia hanya butuh tiga partai untuk memastikan kemenangan sekaligus trofi Thomas Cup pulang.

Sebagai generasi yang sering diyakini jadi salah satu generasi terbaik, trofi adalah bukti sahih ibarat sebuah prasasti yang ditinggalkan untuk cerita masa depan.

Dan trofi Thomas Cup 2020, trofi pertama dalam rentang 19 tahun, adalah pernyataan tegas bahwa generasi Tim Indonesia kali ini layak diperhitungkan dalam sejarah.

Memang prestasi satu trofi Thomas Cup generasi kali ini masih terlalu berat bila dibandingkan dengan kejayaan di era akhir 50-an dan 60-an, 70-an, dan 90 hingga awal 2000-an, namun ini adalah bukti nyata bahwa generasi kali ini juga punya hal spesial yang bisa ditinggalkan.

Perjalanan Indonesia di Thomas Cup ini adalah benar-benar perjalanan yang menegangkan dan menggembirakan.

Dari hari ke hari, rasa cemas dan khawatir bisa pelan-pelan dihapus dan berubah menjadi rasa optimistis akan hadirnya hasil yang lebih baik. Pemain-pemain yang awalnya mendapat sorotan tajam, sukses menggebrak dan memberikan jawaban.

Ketika banyak pendukung Indonesia bertahun-tahun terus bertanya lirih: "Kapan Thomas Cup pulang?"

Pada akhirnya Ginting, Jonatan, Vito, Chico, Kevin, Marcus, Ahsan, Hendra, Fajar, Rian, Leo, dan Daniel bisa berseru lantang: "Thomas Cup, ayo kita pulang!"

(ptr/har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER