Ronny Wabia: Kenangan Gol Ajaib Sepak Pojok di Piala Asia 1996
Ronny Wabia | CNN Indonesia
Rabu, 24 Nov 2021 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ronny Wabia (kiri) tampil memikat bersama Timnas Indonesia di Piala Asia 1996. (Arsip Ronny Wabia)
Jakarta, CNN Indonesia --
Piala Asia 1996 menjadi pengalaman terbaik saya bersama Timnas Indonesia. Di turnamen itu, saya berhasil menjawab keraguan banyak pihak akan kemampuan yang saya miliki.
Saya masuk skuad untuk Piala Asia 1996 setelah jadi pemain terbaik Liga Indonesia kedua. Jujur, banyak yang meragukan saya ketika akhirnya terpilih sebagai pemain terbaik dari sekian banyak pemain yang tampil di kompetisi.
Status sebagai pemain terbaik Liga Indonesia tidak lantas membuat saya mudah masuk tim inti di Timnas Indonesia. Persaingan untuk bermain di masa itu sangat berat.
Seingat saya waktu itu saya hanya diplot untuk jadi pemain cadangan di Piala Asia 1996. Saya juga tidak mau muluk-muluk, fokusnya hanya memberikan yang terbaik untuk Timnas Indonesia.
Kami kemudian menggelar beberapa laga uji coba sebelum tampil di Piala Asia, termasuk melawan Arab Saudi. Saya mengawali pertandingan dari bangku cadangan dan di lini depan Widodo dan Indriyanto yang dimainkan.
Usai babak pertama kami tertinggal 0-1 dari Arab Saudi. Memasuki babak kedua, Pak Danurwindo memutuskan untuk melakukan pergantian pemain. Saya yang sebenarnya seorang gelandang dicoba bermain di lini depan bersama Widodo. Itu pertama kalinya saya main sebagai penyerang dan berduet dengan Widodo di Timnas Indonesia.
Ronny Wabia mengisi waktu luang dengan bermain bola. (Arsip Ronny Wabia)
Sebelum masuk ke lapangan, Pak Danurwindo tanya saya. "Ron kamu bisa main di striker?" dan pertanyaan itu sempat mengejutkan saya. Saya tentu tak boleh mengatakan tidak bisa karena kalau saya nanti bilang begitu malah bisa jadi masalah ha..ha..ha
Saya akhirnya bilang siap, meski spesialisasinya saya sebenarnya seorang gelandang. Begitu saya bilang siap, Pak Danurwindo bilang "Coba kamu masuk di striker bersama Widodo".
Begitu masuk, saya merasa menjawab kepercayaan oleh pelatih dan bisa mencetak satu gol ke gawang Arab Saudi. Skor laga uji coba pun berakhir imbang 1-1.
Bermula dari laga uji coba itu, masuk ke turnamen sebenarnya saya langsung diplot main sebagai striker oleh Pak Danurwindo. Bukan lagi pemain cadangan tetapi bermain sejak menit pertama.
Saya semakin bingung lagi dan langsung berucap dalam hati. Wah, saya mau bikin apa ini karena ini saya akan bermain sebagai pemain inti di Piala Asia 1996. Di satu sisi, saya punya motivasi ingin buktikan kepercayaan yang diberikan Pak Danurwindo.
Saya jujur sempat bingung. Mau bilang tidak tetapi pelatih sudah putuskan. Akhirnya saya putuskan ngobrol sama abang Widodo sebelum laga melawan Kuwait.
Ketika itu saya tanya "Abang bagaimana? Saya harus dukung abang seperti apa? Saya kasih bola yang bagaimana?". Itu yang sampaikan ke Widodo agar komunikasi lancar di lapangan dan tidak ada salah paham.
Puji Tuhan berkat kerja keras sejak dari latihan saya bisa membayar kepercayaan yang diberikan. Satu gol dan satu assist saya hasilkan di pertandingan pembuka fase grup lawan Kuwait.
Kami harus puas bermain imbang 2-2 meski Timnas Indonesia mampu unggul lebih dulu 2-0. Widodo mencetak gol salto yang luar biasa yang diawali umpan saya dan saya juga mencetak satu gol di laga itu.
Saya bisa memberikan umpan yang baik dari sisi kanan untuk gol salto yang dicetak oleh Widodo. Saya memutuskan umpan pakai kaki kanan karena saya pikir kalau lebih dulu menahan bola baru kemudian umpan pakai kaki kiri akan terlalu lama. Pemain lawan pasti sudah datang untuk menutup pergerakan saya.
Saya memang melatih kaki kanan walau tidak sebagus kaki kiri. Artinya kaki kanan bisa untuk umpan, tetapi kalau untuk melakukan tembakan harus melihat datangnya bola juga.
Karena lapangan bagus saat itu, saya jadi bisa mengumpan bola dengan baik dan terjadilah gol salto yang diciptakan oleh Widodo.
Setelah itu saya mencetak gol untuk membawa Timnas Indonesia unggul 2-0 memanfaatkan bola rebound. Bola yang memantul hasil tembakan Widodo arahnya datang pas pada saya yang main sebagai second striker di pertandingan tersebut.
Arah bolanya pas ke kaki kiri dan langsung saya sambar untuk membobol gawang Kuwait. Sayang kami tidak bisa mempertahankan keunggulan 2-0 itu selama 90 menit.
Di laga berikutnya melawan Korea Selatan juga jadi memori yang terus kenang sampai sekarang. Meski Timnas Indonesia kalah 2-4, saya bisa menciptakan gol langsung dari situasi tendangan penjuru.
Saya memutuskan eksekusi langsung ke gawang karena dari segi postur Timnas Indonesia kalah dari Korsel. Di kotak penalti saya lihat Abang Widodo dari segi postur kan kecil. Kalaupun ada yang tinggi hanya Sudirman, seingat saya.
Bisa dilihat di cuplikan video, Widodo tidak mungkin melawan pemain Korsel yang semua turun ke belakang dengan postur yang lebih tinggi. Apalagi saya, saya paling kecil dari semua. Dari postur badan saja kecil, kalau lihat foto Timnas Indonesia waktu itu saya yang posturnya paling kecil.
Kalau diumpan juga percuma. Saya berpikir coba tendang langsung ke arah gawang karena saya melihat posisi kiper Korsel berdirinya agak ke belakang. Perkiraan saya waktu itu kiper lawan berdiri agak ke belakang untuk mengantisipasi bola sundulan dari pemain Timnas Indonesia.
Akhirnya saya putuskan sendiri untuk coba tendang langsung ke gawang. Tidak ada masukan dari rekan setim untuk coba mengeksekusi tendangan sepak pojok seperti itu. Murni karena inisiatif saya saja. Puji Tuhan, tendangannya terarah dan masuk ke gawang.
Setelah bola masuk saya juga tidak terlalu kaget. Seingat saya begitu bola masuk, saya lari ke teman-teman yang memberikan ucapan selamat. Waktu itu malah teman-teman yang kaget karena tak menyangka bola meluncur langsung ke gawang.
Saya jelas merasa bahagia namun bukan bahagia berlebihan. Proses gol semacam itu bisa datang karena latihan-latihan yang juga pernah saya lakukan dalam karier saya di sepak bola.
Sebelum jadi pemain profesional saya sudah melatih tendangan pojok seperti itu. Kalau lihat langsung, memang antara percaya dan tidak percaya karena mencetak gol dari situasi seperti itu susah, apalagi sudutnya juga sempit.
Gol ke gawang Korsel dan penampilan Timnas Indonesia di Piala Asia 1996 jadi cerita manis dalam karier saya.
Sebenarnya Timnas Indonesia itu bisa mengimbangi negara-negara lain di Asia. Terpenting pemain mau disiplin. Pelatih sehebat model apapun kalau pemain tidak disiplin itu akan susah.
Latihan harus disiplin, kita betul-betul harus fokus. Dalam latihan harus konsentrasi karena bertanding itu bukan main-main lagi. Kalau kita latihan main-main itu akan terbawa di pertandingan.
Penampilan bagus bersama Timnas Indonesia di Piala Asia 1996 membuat tawaran datang kepada saya. Tawaran yang datang bukan dari klub lokal tetapi dari luar negeri.
Waktu itu ada klub luar negeri dari Kuwait, Korsel, dan Uni Emirat Arab yang mengajak saya bergabung. Saya sempat bertanya ke Widodo, tetapi Widodo tidak memberikan jaminan untuk bergabung dengan mereka sehingga saya juga tidak menerima tawaran tersebut.
Seingat saya mereka memang menawarkan saya bersama Widodo yang juga bermain bagus di Piala Asia 1996 untuk bermain di luar negeri.
Saat tawaran itu datang, saya berusia 26 tahun, usia yang sebenarnya sudah pas untuk mencari petualangan lain di luar Papua. Namun, pada momen itu saya belum berpikir sejauh itu untuk menjadi pemain profesional yang berkiprah di luar negeri.
Tawaran untuk pindah klub buat saya banyak, bukan hanya dari luar negeri saja. Sebelum tawaran dari luar negeri itu, saya juga ditawari untuk bermain di Pelita Jaya. Waktu itu rekan seangkatan di tim PON Papua, Aples Tecuari dan Alex Pulalo yang ambil kesempatan main di sana.
Buat saya pribadi rasanya sulit untuk meninggalkan Papua. Alhasil, seluruh karier saya habiskan dengan bermain di Indonesia, bersama Persipura dan terakhir di Perseman Manokwari sebelum gantung sepatu.
Ronny Wabia memilih fokus bekerja di luar sepak bola setelah memutuskan gantung sepatu. (Arsip Ronny Wabia)
Saya pertama kali masuk di Persipura setelah sukses meraih medali emas bersama tim PON Papua 1993. Saat itu bisa dibilang generasi terbaik anak-anak Papua juga karena ada Alex Pulalo, begitu juga almarhum Izaac Fatari dan Ritham Madubun.
Saya bisa masuk tim PON Papua setelah terpilih dari turnamen di daerah, ketika itu ada turnamen Divisi 2 Pangdam Jaya. Dari sana saya terpilih, saya berasal dari Manokwari.
Dari tim PON Papua 1993 itu hampir sebagian besar masuk ke Persipura. Saat kami juara PON 1993, diputuskan oleh pengurus kami masuk untuk regenerasi menggantikan para pemain senior.
Kami masih bermain di Divisi I dan keluar sebagai juara pada akhir musim untuk promosi ke Divisi Utama. Kami berjuang dengan sepenuhnya mengandalkan kekuatan para pemain lokal.
Persipura tetap dengan pemain lokal meski klub-klub lain sudah mulai menggunakan pemain asing. Dengan kekuatan para pemain lokal kami juga bisa bersaing untuk sampai di semifinal saat Liga Indonesia II.
Namun saat tinggal selangkah lagi ke final, kami dihentikan oleh PSM di semifinal. Terlepas dari itu kami sudah melakoni perjalanan yang luar biasa dengan melangkah begitu jauh tanpa kehadiran pemain asing.
Di akhir kompetisi, saya dinobatkan sebagai pemain terbaik. Gelar itu menjadi pembuktian dan hasil kerja keras dari latihan dan sekaligus ingin membuktikan kemampuan kami semua di Persipura setara pemain asing yang bermain di kompetisi saat itu.
Setelah satu dekade di Persipura, saya memutuskan bermain di Perseman. Bupati Manokwari pada saat itu yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan sempat bertemu dengan saya dan minta saya untuk kembali dan mengangkat prestasi Perseman.
Saya memutuskan untuk pergi meski sebenarnya di Persipura masih bisa bersaing. Ajakan dari Bupati saya turuti untuk main di Manokwari, meskipun harus turun divisi.
Saya sempat bermain di Divisi Satu merangkap pemain dan asisten pelatih di Perseman. Waktu itu Perseman bisa naik ke Divisi Utama dan saya kemudian putuskan pensiun.
Begitu pensiun, saya langsung banting setir dan sepenuhnya fokus ke pekerjaan sebagai pegawai di Bank Papua. Sebenarnya ada juga ajakan untuk membantu tim karena saya juga punya lisensi B AFC, tetapi saya berpikir sudah cukup di sepak bola.
Saya berpikir saya punya karier di sepak bola yang sudah saya lalui, ada banyak kenangan. Saya sudah pensiun dan saya terpanggil untuk pekerjaan, untuk masa depan saya.
Saya pikir di sepak bola apa yang saya buat sudah cukup. Memang ada keinginan untuk melatih, mengorbitkan pemain-pemain muda tetapi saya pikir banyak teman-teman juga yang bekerja di ranah ini.
Apalagi, mereka tidak punya pekerjaan tetap dan cuma bersandar kepada sepak bola saja, sementara saya sudah punya pekerjaan. Oleh karena itu, saya bulat memutuskan biar mereka, adik-adik saya yang mengembangkan karier kepelatihan mereka dan saya melanjutkan pekerjaan saja.
Piala Asia 1996 menjadi pengalaman terbaik saya bersama Timnas Indonesia. Di turnamen itu, saya berhasil menjawab keraguan banyak pihak akan kemampuan yang saya miliki.
Saya masuk skuad untuk Piala Asia 1996 setelah jadi pemain terbaik Liga Indonesia kedua. Jujur, banyak yang meragukan saya ketika akhirnya terpilih sebagai pemain terbaik dari sekian banyak pemain yang tampil di kompetisi.
Status sebagai pemain terbaik Liga Indonesia tidak lantas membuat saya mudah masuk tim inti di Timnas Indonesia. Persaingan untuk bermain di masa itu sangat berat.
Seingat saya waktu itu saya hanya diplot untuk jadi pemain cadangan di Piala Asia 1996. Saya juga tidak mau muluk-muluk, fokusnya hanya memberikan yang terbaik untuk Timnas Indonesia.
Kami kemudian menggelar beberapa laga uji coba sebelum tampil di Piala Asia, termasuk melawan Arab Saudi. Saya mengawali pertandingan dari bangku cadangan dan di lini depan Widodo dan Indriyanto yang dimainkan.
Usai babak pertama kami tertinggal 0-1 dari Arab Saudi. Memasuki babak kedua, Pak Danurwindo memutuskan untuk melakukan pergantian pemain. Saya yang sebenarnya seorang gelandang dicoba bermain di lini depan bersama Widodo. Itu pertama kalinya saya main sebagai penyerang dan berduet dengan Widodo di Timnas Indonesia.
Ronny Wabia mengisi waktu luang dengan bermain bola. (Arsip Ronny Wabia)
Sebelum masuk ke lapangan, Pak Danurwindo tanya saya. "Ron kamu bisa main di striker?" dan pertanyaan itu sempat mengejutkan saya. Saya tentu tak boleh mengatakan tidak bisa karena kalau saya nanti bilang begitu malah bisa jadi masalah ha..ha..ha
Saya akhirnya bilang siap, meski spesialisasinya saya sebenarnya seorang gelandang. Begitu saya bilang siap, Pak Danurwindo bilang "Coba kamu masuk di striker bersama Widodo".
Begitu masuk, saya merasa menjawab kepercayaan oleh pelatih dan bisa mencetak satu gol ke gawang Arab Saudi. Skor laga uji coba pun berakhir imbang 1-1.
Bermula dari laga uji coba itu, masuk ke turnamen sebenarnya saya langsung diplot main sebagai striker oleh Pak Danurwindo. Bukan lagi pemain cadangan tetapi bermain sejak menit pertama.
Saya semakin bingung lagi dan langsung berucap dalam hati. Wah, saya mau bikin apa ini karena ini saya akan bermain sebagai pemain inti di Piala Asia 1996. Di satu sisi, saya punya motivasi ingin buktikan kepercayaan yang diberikan Pak Danurwindo.
Saya jujur sempat bingung. Mau bilang tidak tetapi pelatih sudah putuskan. Akhirnya saya putuskan ngobrol sama abang Widodo sebelum laga melawan Kuwait.
Ketika itu saya tanya "Abang bagaimana? Saya harus dukung abang seperti apa? Saya kasih bola yang bagaimana?". Itu yang sampaikan ke Widodo agar komunikasi lancar di lapangan dan tidak ada salah paham.
Puji Tuhan berkat kerja keras sejak dari latihan saya bisa membayar kepercayaan yang diberikan. Satu gol dan satu assist saya hasilkan di pertandingan pembuka fase grup lawan Kuwait.
Kami harus puas bermain imbang 2-2 meski Timnas Indonesia mampu unggul lebih dulu 2-0. Widodo mencetak gol salto yang luar biasa yang diawali umpan saya dan saya juga mencetak satu gol di laga itu.
Saya bisa memberikan umpan yang baik dari sisi kanan untuk gol salto yang dicetak oleh Widodo. Saya memutuskan umpan pakai kaki kanan karena saya pikir kalau lebih dulu menahan bola baru kemudian umpan pakai kaki kiri akan terlalu lama. Pemain lawan pasti sudah datang untuk menutup pergerakan saya.
Saya memang melatih kaki kanan walau tidak sebagus kaki kiri. Artinya kaki kanan bisa untuk umpan, tetapi kalau untuk melakukan tembakan harus melihat datangnya bola juga.
Karena lapangan bagus saat itu, saya jadi bisa mengumpan bola dengan baik dan terjadilah gol salto yang diciptakan oleh Widodo.
Setelah itu saya mencetak gol untuk membawa Timnas Indonesia unggul 2-0 memanfaatkan bola rebound. Bola yang memantul hasil tembakan Widodo arahnya datang pas pada saya yang main sebagai second striker di pertandingan tersebut.
Arah bolanya pas ke kaki kiri dan langsung saya sambar untuk membobol gawang Kuwait. Sayang kami tidak bisa mempertahankan keunggulan 2-0 itu selama 90 menit.
Di laga berikutnya melawan Korea Selatan juga jadi memori yang terus kenang sampai sekarang. Meski Timnas Indonesia kalah 2-4, saya bisa menciptakan gol langsung dari situasi tendangan penjuru.
Saya memutuskan eksekusi langsung ke gawang karena dari segi postur Timnas Indonesia kalah dari Korsel. Di kotak penalti saya lihat Abang Widodo dari segi postur kan kecil. Kalaupun ada yang tinggi hanya Sudirman, seingat saya.
Bisa dilihat di cuplikan video, Widodo tidak mungkin melawan pemain Korsel yang semua turun ke belakang dengan postur yang lebih tinggi. Apalagi saya, saya paling kecil dari semua. Dari postur badan saja kecil, kalau lihat foto Timnas Indonesia waktu itu saya yang posturnya paling kecil.
Kalau diumpan juga percuma. Saya berpikir coba tendang langsung ke arah gawang karena saya melihat posisi kiper Korsel berdirinya agak ke belakang. Perkiraan saya waktu itu kiper lawan berdiri agak ke belakang untuk mengantisipasi bola sundulan dari pemain Timnas Indonesia.
Akhirnya saya putuskan sendiri untuk coba tendang langsung ke gawang. Tidak ada masukan dari rekan setim untuk coba mengeksekusi tendangan sepak pojok seperti itu. Murni karena inisiatif saya saja. Puji Tuhan, tendangannya terarah dan masuk ke gawang.
Setelah bola masuk saya juga tidak terlalu kaget. Seingat saya begitu bola masuk, saya lari ke teman-teman yang memberikan ucapan selamat. Waktu itu malah teman-teman yang kaget karena tak menyangka bola meluncur langsung ke gawang.
Saya jelas merasa bahagia namun bukan bahagia berlebihan. Proses gol semacam itu bisa datang karena latihan-latihan yang juga pernah saya lakukan dalam karier saya di sepak bola.
Sebelum jadi pemain profesional saya sudah melatih tendangan pojok seperti itu. Kalau lihat langsung, memang antara percaya dan tidak percaya karena mencetak gol dari situasi seperti itu susah, apalagi sudutnya juga sempit.
Gol ke gawang Korsel dan penampilan Timnas Indonesia di Piala Asia 1996 jadi cerita manis dalam karier saya.
Sebenarnya Timnas Indonesia itu bisa mengimbangi negara-negara lain di Asia. Terpenting pemain mau disiplin. Pelatih sehebat model apapun kalau pemain tidak disiplin itu akan susah.
Latihan harus disiplin, kita betul-betul harus fokus. Dalam latihan harus konsentrasi karena bertanding itu bukan main-main lagi. Kalau kita latihan main-main itu akan terbawa di pertandingan.
Tolak Tawaran Klub Kuwait, Korsel, dan UEA
Ronny Wabia bekerja sebagai karyawan di Bank Papua setelah pensiun. (Arsip Ronny Wabia)
Penampilan bagus bersama Timnas Indonesia di Piala Asia 1996 membuat tawaran datang kepada saya. Tawaran yang datang bukan dari klub lokal tetapi dari luar negeri.
Waktu itu ada klub luar negeri dari Kuwait, Korsel, dan Uni Emirat Arab yang mengajak saya bergabung. Saya sempat bertanya ke Widodo, tetapi Widodo tidak memberikan jaminan untuk bergabung dengan mereka sehingga saya juga tidak menerima tawaran tersebut.
Seingat saya mereka memang menawarkan saya bersama Widodo yang juga bermain bagus di Piala Asia 1996 untuk bermain di luar negeri.
Saat tawaran itu datang, saya berusia 26 tahun, usia yang sebenarnya sudah pas untuk mencari petualangan lain di luar Papua. Namun, pada momen itu saya belum berpikir sejauh itu untuk menjadi pemain profesional yang berkiprah di luar negeri.
Tawaran untuk pindah klub buat saya banyak, bukan hanya dari luar negeri saja. Sebelum tawaran dari luar negeri itu, saya juga ditawari untuk bermain di Pelita Jaya. Waktu itu rekan seangkatan di tim PON Papua, Aples Tecuari dan Alex Pulalo yang ambil kesempatan main di sana.
Buat saya pribadi rasanya sulit untuk meninggalkan Papua. Alhasil, seluruh karier saya habiskan dengan bermain di Indonesia, bersama Persipura dan terakhir di Perseman Manokwari sebelum gantung sepatu.
Ronny Wabia memilih fokus bekerja di luar sepak bola setelah memutuskan gantung sepatu. (Arsip Ronny Wabia)
Saya pertama kali masuk di Persipura setelah sukses meraih medali emas bersama tim PON Papua 1993. Saat itu bisa dibilang generasi terbaik anak-anak Papua juga karena ada Alex Pulalo, begitu juga almarhum Izaac Fatari dan Ritham Madubun.
Saya bisa masuk tim PON Papua setelah terpilih dari turnamen di daerah, ketika itu ada turnamen Divisi 2 Pangdam Jaya. Dari sana saya terpilih, saya berasal dari Manokwari.
Dari tim PON Papua 1993 itu hampir sebagian besar masuk ke Persipura. Saat kami juara PON 1993, diputuskan oleh pengurus kami masuk untuk regenerasi menggantikan para pemain senior.
Kami masih bermain di Divisi I dan keluar sebagai juara pada akhir musim untuk promosi ke Divisi Utama. Kami berjuang dengan sepenuhnya mengandalkan kekuatan para pemain lokal.
Persipura tetap dengan pemain lokal meski klub-klub lain sudah mulai menggunakan pemain asing. Dengan kekuatan para pemain lokal kami juga bisa bersaing untuk sampai di semifinal saat Liga Indonesia II.
Namun saat tinggal selangkah lagi ke final, kami dihentikan oleh PSM di semifinal. Terlepas dari itu kami sudah melakoni perjalanan yang luar biasa dengan melangkah begitu jauh tanpa kehadiran pemain asing.
Di akhir kompetisi, saya dinobatkan sebagai pemain terbaik. Gelar itu menjadi pembuktian dan hasil kerja keras dari latihan dan sekaligus ingin membuktikan kemampuan kami semua di Persipura setara pemain asing yang bermain di kompetisi saat itu.
Setelah satu dekade di Persipura, saya memutuskan bermain di Perseman. Bupati Manokwari pada saat itu yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan sempat bertemu dengan saya dan minta saya untuk kembali dan mengangkat prestasi Perseman.
Saya memutuskan untuk pergi meski sebenarnya di Persipura masih bisa bersaing. Ajakan dari Bupati saya turuti untuk main di Manokwari, meskipun harus turun divisi.
Saya sempat bermain di Divisi Satu merangkap pemain dan asisten pelatih di Perseman. Waktu itu Perseman bisa naik ke Divisi Utama dan saya kemudian putuskan pensiun.
Begitu pensiun, saya langsung banting setir dan sepenuhnya fokus ke pekerjaan sebagai pegawai di Bank Papua. Sebenarnya ada juga ajakan untuk membantu tim karena saya juga punya lisensi B AFC, tetapi saya berpikir sudah cukup di sepak bola.
Saya berpikir saya punya karier di sepak bola yang sudah saya lalui, ada banyak kenangan. Saya sudah pensiun dan saya terpanggil untuk pekerjaan, untuk masa depan saya.
Saya pikir di sepak bola apa yang saya buat sudah cukup. Memang ada keinginan untuk melatih, mengorbitkan pemain-pemain muda tetapi saya pikir banyak teman-teman juga yang bekerja di ranah ini.
Apalagi, mereka tidak punya pekerjaan tetap dan cuma bersandar kepada sepak bola saja, sementara saya sudah punya pekerjaan. Oleh karena itu, saya bulat memutuskan biar mereka, adik-adik saya yang mengembangkan karier kepelatihan mereka dan saya melanjutkan pekerjaan saja.