Ramadan 2015 membuat Jendi Pangabean berpuasa tanpa suara azan. (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Atlet Para Renang Indonesia Jendi Pangabean menceritakan liku-liku menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan sebagai seorang atlet. Tekad bulat memilih jalan hidup sebagai atlet, membuatnya tetap berusaha maksimal menjalankan perintah Ilahi.
Pada tahun ini, atlet yang memborong medali emas dan perak di Asian Games 2018 itu harus menjalani awal Puasa bulan suci Ramadan di Jerman, karena bertepatan dengan turnamen internasional di negara tersebut.
Berpuasa di 'negeri orang' bukan perkara mudah bagi Jendi. Dia mengakui terdapat kesulitan saat menjalani puasa di tengah jadwal kompetisi yang padat.
"Kebetulan karena lagi tanding, dokter tidak menyarankan kami untuk puasa. Karena dari segi fisik kami harus benar-benar fit," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (4/4).
"Bukan berarti kami menyalahi aturan agama. Karena ada beberapa keadaan, jadi apa boleh buat," ujarnya.
Meski terpaksa tidak berpuasa selama turnamen, pria kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan itu berusaha tetap menjalani ibadah lain seperti salat. Sebisa mungkin dirinya berupaya tidak jauh dari Sang Pencipta.
"Kalau salat bisa lebih mudah [dijalankan] karena bisa salat di kamar. Tapi tentunya rasanya salat bukan di Indonesia sangat berbeda, di sini tidak terdengar azan," ucapnya.
Berpuasa di luar negeri bukan hal baru bagi Jendi. Ia ingat saat pertama kali merasakan perbedaan signifikan suasana Ramadan di negeri orang ketika berkompetisi di Glasgow, Skotlandia, tujuh tahun lalu.
Ada rasa sedih yang terbenam di dalam dirinya saat mengetahui tidak ada sayup-sayup suara azan dan hidangan khas Ramadan seperti di Indonesia. Namun sebagai atlet, ia tidak punya pilihan.
"Pertama kali merasakan Ramadan di luar negeri itu di Glasgow tahun 2015. Waktu itu tentu sedih, ya. Enggak ada suara azan, enggak ada suasana puasa seperti di Indonesia. Tapi apa boleh buat," ucapnya.
Ketika agenda turnamennya beririsan dengan Ramadan, ia sudah paham apa saja yang harus disiapkan. Ia membawa beberapa makanan dari Indonesia untuk mempertahankan selera makan.
"Saya sempat mencoba puasa beberapa hari sebelum tanding. Berhasil itu sampai maghrib walaupun waktu puasanya panjang. Bawa makanan kayak nasi dan yang lain-lain dari Indonesia. Tapi kalau enggak ada makan sama sekali, paling cari roti saja sudah cukup," kata dia.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Jendi Pangabean yang pernah mewakili Indonesia di ajang Paralimpiade Tokyo 2020 mengungkapkan salah satu hal terberat sebagai atlet selama Ramadan adalah menahan rindu pada keluarga.
Sudah tak terhitung kehilangan momen kebersamaan dengan keluarga lantaran harus berkompetisi di luar negeri. Kendati demikian menurutnya hal tersebut merupakan bentuk dari profesionalitas sebagai atlet.
"Sudah berkali-kali saya di luar negeri tapi lagi [bulan] puasa. Pasti kangen sama suasananya, apalagi pas baru masuk [bulan] puasa seperti ini. Karena [menjalani] awal Ramadan tapi lagi di luar negeri itu sangat berat. Tahu sendiri kalau di Indonesia kan menyambut Ramadan dengan suka cita," kata dia.
Selain harus melepas momen awal Ramadan, atlet pelatnas para di Solo itu juga terpaksa merelakan hangatnya suasana Idulfitri bersama keluarga. Ia sampai tidak ingat sudah berapa kali tidak merayakan lebaran di hari raya Idulfitri dengan sanak saudara.
Jendi Pangabean sering kehilangan suasana puasa dan lebaran saat di luar negeri. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Bahkan tidak cuma puasa, pernah pas lebaran juga lagi di luar negeri. Karena seringnya pas lebaran saya lagi di pelatnas. Kami kan beda dengan pegawai, ada cuti atau libur-libur lain," katanya.
"Kalau kangen keluarga pas lebaran, paling cuma video call saja," ujar dia.
Karena itu, atlet berusia 30 tahun tersebut menegaskan sebisa mungkin menyempatkan pulang ke kampung halaman di Muara Enim setelah Idulfitri untuk bersilaturahmi. Ia tidak memiliki jadwal khusus untuk mengunjungi orang tua karena harus menyesuaikan dengan jadwal latihan dan kompetisi.
Jika tak sempat bertolak ke kediaman orang tua, ia mengajak keluarga besar ke rumahnya di Solo, Jawa Tengah. Dengan cara itu Jendi bisa 'mengakali' momen Idulfitri tanpa mengganggu profesionalitas sebagai atlet.
"Mungkin lebaran tahun ini kumpul di Solo. Kebetulan saya ada rumah di Solo dekat sama tempat pelatnas juga," katanya.
Atlet Para Renang Indonesia Jendi Pangabean menceritakan liku-liku menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan sebagai seorang atlet. Tekad bulat memilih jalan hidup sebagai atlet, membuatnya tetap berusaha maksimal menjalankan perintah Ilahi.
Pada tahun ini, atlet yang memborong medali emas dan perak di Asian Games 2018 itu harus menjalani awal Puasa bulan suci Ramadan di Jerman, karena bertepatan dengan turnamen internasional di negara tersebut.
Berpuasa di 'negeri orang' bukan perkara mudah bagi Jendi. Dia mengakui terdapat kesulitan saat menjalani puasa di tengah jadwal kompetisi yang padat.
"Kebetulan karena lagi tanding, dokter tidak menyarankan kami untuk puasa. Karena dari segi fisik kami harus benar-benar fit," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (4/4).
"Bukan berarti kami menyalahi aturan agama. Karena ada beberapa keadaan, jadi apa boleh buat," ujarnya.
Meski terpaksa tidak berpuasa selama turnamen, pria kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan itu berusaha tetap menjalani ibadah lain seperti salat. Sebisa mungkin dirinya berupaya tidak jauh dari Sang Pencipta.
"Kalau salat bisa lebih mudah [dijalankan] karena bisa salat di kamar. Tapi tentunya rasanya salat bukan di Indonesia sangat berbeda, di sini tidak terdengar azan," ucapnya.
Berpuasa di luar negeri bukan hal baru bagi Jendi. Ia ingat saat pertama kali merasakan perbedaan signifikan suasana Ramadan di negeri orang ketika berkompetisi di Glasgow, Skotlandia, tujuh tahun lalu.
Ada rasa sedih yang terbenam di dalam dirinya saat mengetahui tidak ada sayup-sayup suara azan dan hidangan khas Ramadan seperti di Indonesia. Namun sebagai atlet, ia tidak punya pilihan.
"Pertama kali merasakan Ramadan di luar negeri itu di Glasgow tahun 2015. Waktu itu tentu sedih, ya. Enggak ada suara azan, enggak ada suasana puasa seperti di Indonesia. Tapi apa boleh buat," ucapnya.
Ketika agenda turnamennya beririsan dengan Ramadan, ia sudah paham apa saja yang harus disiapkan. Ia membawa beberapa makanan dari Indonesia untuk mempertahankan selera makan.
"Saya sempat mencoba puasa beberapa hari sebelum tanding. Berhasil itu sampai maghrib walaupun waktu puasanya panjang. Bawa makanan kayak nasi dan yang lain-lain dari Indonesia. Tapi kalau enggak ada makan sama sekali, paling cari roti saja sudah cukup," kata dia.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Beban Rindu untuk Keluarga
Idulfitri di luar negeri membuat Jendi Pangabean rindu berat dengan keluarga. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jendi Pangabean yang pernah mewakili Indonesia di ajang Paralimpiade Tokyo 2020 mengungkapkan salah satu hal terberat sebagai atlet selama Ramadan adalah menahan rindu pada keluarga.
Sudah tak terhitung kehilangan momen kebersamaan dengan keluarga lantaran harus berkompetisi di luar negeri. Kendati demikian menurutnya hal tersebut merupakan bentuk dari profesionalitas sebagai atlet.
"Sudah berkali-kali saya di luar negeri tapi lagi [bulan] puasa. Pasti kangen sama suasananya, apalagi pas baru masuk [bulan] puasa seperti ini. Karena [menjalani] awal Ramadan tapi lagi di luar negeri itu sangat berat. Tahu sendiri kalau di Indonesia kan menyambut Ramadan dengan suka cita," kata dia.
Selain harus melepas momen awal Ramadan, atlet pelatnas para di Solo itu juga terpaksa merelakan hangatnya suasana Idulfitri bersama keluarga. Ia sampai tidak ingat sudah berapa kali tidak merayakan lebaran di hari raya Idulfitri dengan sanak saudara.
Jendi Pangabean sering kehilangan suasana puasa dan lebaran saat di luar negeri. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Bahkan tidak cuma puasa, pernah pas lebaran juga lagi di luar negeri. Karena seringnya pas lebaran saya lagi di pelatnas. Kami kan beda dengan pegawai, ada cuti atau libur-libur lain," katanya.
"Kalau kangen keluarga pas lebaran, paling cuma video call saja," ujar dia.
Karena itu, atlet berusia 30 tahun tersebut menegaskan sebisa mungkin menyempatkan pulang ke kampung halaman di Muara Enim setelah Idulfitri untuk bersilaturahmi. Ia tidak memiliki jadwal khusus untuk mengunjungi orang tua karena harus menyesuaikan dengan jadwal latihan dan kompetisi.
Jika tak sempat bertolak ke kediaman orang tua, ia mengajak keluarga besar ke rumahnya di Solo, Jawa Tengah. Dengan cara itu Jendi bisa 'mengakali' momen Idulfitri tanpa mengganggu profesionalitas sebagai atlet.
"Mungkin lebaran tahun ini kumpul di Solo. Kebetulan saya ada rumah di Solo dekat sama tempat pelatnas juga," katanya.